 |
| Martin Aleida, penulis buku Tanah Air yang Hilang, bersama Soegeng Soejono, eksil di Ceko. |
Soejono Soegeng Pangestu berangkat ke
Cekoslowakia pada 10 September 1963 untuk kuliah di sana. Setahun belajar
bahasa Ceko, ia mulai kuliah ilmu Ekonomi di Praha, ibu kota Cekoslowakia (kini
pecah menjadi dua negara). Banyak mahasiswa Indonesia di sana. Di jurusan
Ekonomi hanya batu loncatannya. Ia kemudian diterima di Charles University di
Praha jurusan Pedagogi dan Psikologi Anak. Pada 1965 terjadi peristiwa Gerakan
30 September di tanah airnya. Dua minggu kemudian para mahasiswa di-screening
satu per satu di KBRI. Pertanyaannya cuma satu: “Apakah Saudara setuju dengan
Orde Baru atau tidak?”
“Saya tidak tahu Orde Baru itu apa, kok
saya harus menentukan setuju atau tidak. Kabarnya masih simpang siur. Berita
yang ada adalah terjadi pembunuhan di sana-sini. Malah ada berita bahwa siapa
saja bisa dituduh PKI lalu ditembak. Macam-macam beritanya. Saya tidak setuju
dengan rezim yang tidak menghormati hak-hak azasi manusia.”
“Kalau begitu Saudara komunis,” kata
orang yang melakukan screening.
“Saya setan belang, tai kucing, itu
bukan urusan Saudara,” jawab Soejono. “Saya ini dididik orang tua supaya hidup
jujur. Saya orang kampung. Biar menderita dalam hidup, tapi kalau jujur akan
diterima oleh Allah. Begitulah ajaran orang tua saya sejak saya dari kampung. Saya
dididik di kepanduan (kini Pramuka). Tidak ada ajaran untuk melakukan kekerasan
terhadap siapa pun juga.”
“Kalau begitu Saudara harus pulang.”
“Lho Saudara logikanya bagaimana? Saya
harus pulang ke Indonesia di mana ada orang lewat di jalan ditembak karena
dituduh PKI. Padahal penembaknya menginginkan istrinya yang cantik. Kalau saya
pulang saya juga bisa ditembak.”
“Kalau begitu visa Saudara tidak bisa
diperpanjang.”
“Siap.”
Soejono mengambil sikap seperti itu
karena ia yakin jalan dan tujuannya benar. Yang setuju dengan Orde Baru tidak
mendapat masalah, sedangkan semua yang tak setuju minta suaka politik.
Permintaan suaka politik mereka diterima. Mereka diurus Palang Merah Ceko.
Mereka diberi rumah. Setelah selesai kuliah diberi pekerjaan. “Tapi istri harus
cari sendiri. Hehehe...,” cerita Soejono kepada Martin Aleida yang menuliskan
kisah hidupnya dan kisah 18 eksil lainnya di buku Tanah Air yang Hilang.
Soejono diterima sebagai ahli Pedagogi.
Setelah lulus, ia tak bisa pulang ke Indonesia. Ia melanjutkan kuliah Kultur
Politik dan Media Massa di Praha. Ia tak mau berutang kepada negaranya, tetapi
ilmu dan pengalaman hidupnya tak dapat dimanfaatkannya untuk memberi kontribusi
kepada Indonesia di mana ia berutang budi. “Itu membuat saya sedih. Saya tetap
merasa berutang budi kepada Indonesia. Karena itu apa saja yang dapat
membangkitkan gairah mengenai Indonesia, saya bantu. Saya membantu berbagai
kegiatan di KBRI. Juga kepada orang-orang Indonesia yang datang ke Ceko. Saya
ikut membantu hubungan baik Indonesia dan Ceko. Selain itu saya menjadi dosen
Bahasa dan Budaya Indonesia,” cerita Soejono.
Orang-orang Ceko yang ingin belajar
bahasa Indonesia berguru kepada Soejono gratis. Siapa saja yang tertarik pada
Indonesia dibantu Soejono gratis. “Yang saya inginkan dari mereka cuma satu,
supaya kita menjadi sahabat yang kekal. Itu lebih penting daripada uang.”