Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soekarno. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2021

Presiden Soekarno Menghukum Mati Sahabatnya


Dengan menangis Presiden Soekarno membubuhkan tanda tangan untuk menghukum mati Kartosuwirjo, tokoh yang ingin mendirikan Negara Islam di Indonesia. Darul Islam adalah golongan ekstrim kanan berhalauan agama yang picik, fanatik, keras, dan melawan pemerintah Indonesia.  

“Pada 1918 Kartosuwirjo adalah kawanku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan tanah air. Pada tahun 1920-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, ia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam. Memang selalu ada pertentangan antara kekuatan yang mendorong kemajuan dan kekuatan yang menahannya,” ujar Soekarno.

Pada 1950 Kartosuwirjo mengatakan, “Soekarno penghalang pembentukan Negara Islam. Soekarno menyatakan, Indonesia harus berdasarkan Pancasila. Soekarno harus dibunuh.” Pada 1963 Kartosuwirjo berakhir hidupnya di hadapan regu penembak. ”Ini bukan tindakan untuk memberikan kepuasan hati. Ini adalah tindakan untuk menegakkan keadilan. Menanda-tangani hukuman mati tidak memberikan kesenangan kepadaku. Namun seorang pemimpin harus bertindak tanpa memikirkan betapapun getir jalan yang harus ditempuh,” ucap Soekarno kepada Cindy Adams, penulis biografinya.

Kamis, 12 Agustus 2021

Janji Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia


J
epang yang harus menghadapi Sekutu membutuhkan kerja sama yang erat dengan rakyat Indonesia. Mereka ingin mendapatkan simpati dan dukungan dari rakyat Indonesia yang bersikap memusuhi mereka. Caranya dengan mempercepat pemberian konsesi pada usaha kemerdekaan Indonesia. Pada 7 September 1944 di Tokyo diumumkan janji bahwa Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Hari baik, tanggal baik, akan ditentukan kemudian. Untuk itu disiapkan badan baru bernama Jawa Hokokai. Badan itu dipimpin Soekarno dan akan bekerja sebagai aparat pemerintahan yang pertama.

Pada Februari 1945 tentara Amerika dipimpin Jenderal Douglas MacArthur mengalahkan tentara Jepang di Filipina. Setiap jengkal kekalahan Jepang menambah semangat bangsa kita menuju kemerdekaan. Pada Maret 1945 Soekarno dan Hatta terbang ke Makassar untuk pembicaraan tingkat tinggi mengenai bagaimana kelak bentuk negara Indonesia. Jepang mengusulkan bentuk monarki. “Seperti kunjungan Tuan baru-baru ini ternyata rakyat Bali menghendaki Kerajaan. Rakyat mendesak agar Soekarno menjadi Raja dari Indonesia,” kata para pembesar Jepang kepada Soekarno.

“Saya sudah berjanji kepada para pengikut saya sejak 1926. Sejak awal saya sudah berjanji bahwa kami tidak akan mendirikan negara yang berbentuk kerajaan. Saya selalu menentang segala macam bentuk selain negara Republik,” jawab Soekarno tegas.

Hatta yang mendampingi Soekarno dengan baik selama Masa Pendudukan pada saat itu merasa bahwa perjuangan mereka sudah mendekati kemenangan. Karena itu Hatta kembali kepada gagasan awalnya yaitu bentuk Negara Serikat. Soekarno menghendaki Negara Kesatuan, Hatta menginginkan beberapa negara. Soekarno menyadari, inilah akhir dari kerja sama dwi-tunggal. Mereka tidak lagi menjadi dua tokoh dalam satu barisan.

Selama lima hari Soekarno dan Hatta di Makassar, kota itu dibom 22 kali. Sirene meraung-raung setiap lima belas menit. Para tentara Sekutu rupanya tahu bahwa Soekarno berada di sana. Mereka menganggap Soekarno sebagai penjahat perang. “Selama lima hari penuh aku disembunyikan di lubang perlindungan di bawah tanah yang menjadi sarang nyamuk dan serangga lainnya. Gigitan nyamuk membuatku terkena malaria. Penyakit itu timbul sekali dua hari dan rutin menyerangku. Aku merasakan badanku sehat selama setengah tahun, kemudian penyakit itu timbul lagi. Aku sehat lagi selama tiga bulan, lalu terbaring kembali di tempat tidur. Delapan tahun aku menderita malaria silih berganti,” cerita Soekarno kepada Cindy Adams, penulis biografinya.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta ada dua pesawat tempur kecil yang melindungi Soekarno dan Hatta. Tetapi pesawat terbang Sekutu terus membuntuti setiap menit. Enam pesawat Amerika melayang-layang di atas pesawat mereka selama penerbangan pulang. Ketika pesawat yang ditumpangi Soekarno dan Hatta berada di atas pulau Jawa, keenam pesawat itu memotong jalan mereka. “Pesawat kami terbang sangat rendah sampai hampir menyentuh pucuk pohon kelapa,” kata Soekarno.

Pada 1 April 1945 tentara Amerika mendarat di Okinawa, Jepang. Pada 29 April Kaisar Jepang menyetujui pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). “Jelaslah sekarang tidak ada lagi yang dapat menghentikan gerakan kami,” kata Soekarno.

Pada 28 Mei 1945 BPUPKI mengadakan sidang untuk membahas tata pemerintahan, ekonomi, politik, dan hal-hal penting lainnya yang diperlukan untuk pembentukan negara Indonesia merdeka.

Sabtu, 03 Juli 2021

Soekarno Dianggap Seperti Dukun

 


Di pengasingannya di Bengkulu Soekarno dianggap sebagai orang cerdik pandai. Orang datang minta nasihat kepadanya. “Ada kerbau milik seorang Marhaen yang dituntut oleh seorang pegawai. Ia hampir putus asa karena baginya kerbau itu sangat besar artinya. Ia datang kepadaku dan menganggapku seperti dukun,” cerita Soekarno kepada Cindy Adam, penulis biografinya. Soekarno menasihati sang Marhaen: “Ajukan persoalan ini ke pengadilan. Aku akan mendoakan.” Tiga hari kemudian kerbau itu kembali.

“Saya sudah tujuh bulan tidak haid,” kata seorang perempuan yang datang menangis ketika menemui Soekarno.

“Apa yang dapat saya lakukan? Saya bukan dokter,” jawab Soekarno.

“Bapak menolong semua orang. Bapak adalah juru selamat kami. Saya percaya kepada Bapak. Saya merasa sangat sakit. Tolonglah, tolonglah, tolonglah saya.”

Perempuan itu sangat percaya kepada Soekarno. “Aku tidak dapat berbuat sesuatu yang akan mengecewakannya. Karena itu kubacakan untuknya surah pertama dari Alquran ditambah dengan doa yang maksudnya sama dengan Bapak kami yang ada di surga,” cerita Soekarno. Perempuan itu kemudian sembuh.

Tetangga Soekarno, seorang pemerah susu, sangat membutuhkan uang. Ia yakin dengan mengemukakan masalahnya kepada Soekarno, masalahnya dapat diselesaikan. Ia benar. Soekarno keluar dan menggadaikan bajunya untuk memberikan tiga rupiah enam puluh sen yang dibutuhkan tetangganya. “Di mata orang kampung yang bersahaja, aku lambat laun dianggap seperti dewa. Apa yang ditunjukkan Fatmawati kepadaku adalah pemujaan kepahlawanan. Umurku lebih dua puluh tahun darinya. Ia memanggilku Bapak, demikian untuk seterusnya.”

Di rumah Soekarno bersama Inggit Garnasih di Bengkulu ada radio di kamar belakang. Pada suatu malam teman-teman mereka mendengarkan radio di rumah itu. Fatmawati juga datang untuk mendengarkan, duduk di tempat kosong di sebelah Soekarno di atas divan. Malam itu juga Inggit menyatakan kepada Soekarno: “Aku merasakan ada percintaan sedang menyala di rumah ini. Jangan coba-coba menyembunyikannya. Seseorang tidak bisa berbohong dengan sorot matanya yang menyinar kalau ada orang lain mendekat. Menurut adat kita, perempuan tidak begitu rapat kepada laki-laki. Anak-anak gadis, menurut kebiasaan lebih dekat kepada Ibu, bukan kepada Bapak.”

Tahun berganti tahun. Fatmawati tumbuh menjadi gadis cantik. Umurnya 17 tahun sementara Inggit sudah mendekati usia 53 tahun. “Aku masih muda, kuat, dan sedang berada pada usia yang utama dalam kehidupan. Pada suatu pagi aku terbangun dengan keringat dingin. Aku menyadari bahwa aku kehilangan Fatmawati, aku membutuhkannya,” tutur Soekarno.

Hubungan Inggit dan Soekarno menjadi tegang. “Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Oleh karena itu aku mencari keasyikan dengan bekerja. Aku mengerjakan rencana rumah untuk rakyat. Aku mengajar guru-guru Muhammadiyah. Aku mengorganisir Seminar Alim-Ulama Antar-Pulau Sumatera- Jawa dan berhasil mengemukakan kepada mereka rencana memodernkan Islam.”

Soekarno juga menyibukkan diri dengan menulis artikel. Karena ia dilarang menulis oleh pemerintah Hindia Belanda, ia memakai nama samaran Guntur atau Abdurrachman. Masalah muncul karena ia tidak mengetik. Torehan tulisan tangannya mudah dibaca dan sudah diketahui banyak orang. Ia berusaha mengubahnya sedikit tapi ternyata masih terlihat bentuk-bentuk huruf yang sama. “Karena itu aku mengubahnya sama sekali. Aku menulis dengan huruf-huruf cetak atau menulisnya dengan tangan kiri.”

 

 

 

 

 

Sabtu, 19 Juni 2021

Menulis ‘Indonesia Menggugat’ di Depan Kaleng Tinja


16 Juni 1930. Suratkabar menyiarkan pidato Gubernur Jendral pada sidang pembukaan Dewan Rakyat. Judulnya: “Soekarno Pasti Dihukum.” Tulisan selanjutnya: “Tidak mungkin membebaskan Soekarno dari tuntutan, kata para pembesar.” Tanggal diadilinya sudah ditetapkan. Hanya tiga minggu sebelum Soekarno bertemu dengan para pembelanya yang dipilihnya sendiri: Ketua PNI Cabang Jawa Tengah Sujudi S.H. yaitu tuan rumah di mana ia ditangkap, rekannya dari Algemeene Studeeclub yang mengurus keuangan partai Sartono S.H., dan satu lagi kawannya: Sastromuljono S.H. Semua tidak dibayar karena Sukarno tak punya uang, bahkan para pengacara itu menanggung pengeluarannya sendiri.

Sel Soekarno di
penjara Banceuy, Bandung

Sartono tampak berpikir keras bagaimana agar Soekarno bebas dari tuntutan hukum. Sartono dan Soekarno tahu bahwa Soekarno tidak akan bisa bebas. Soekarno menempatkan satu tangannya ke pundak Sartono. “Sartono, bukan maksudku membanggakan diri. Tetapi ketika aku masuk bui, beginilah keputusanku. Kalau sudah nasibku menahan siksaan, biarkan saja. Bukankah lebih baik aku menderita untuk sementara daripada Indonesia menderita untuk selamanya?” 

Di dalam penjara Banceuy di Bandung mereka diizinkan bertemu di ruangan tersendiri selama satu jam dalam seminggu. Sartono tinggal di Jakarta. “Aku cepat-cepat datang kemari segera setelah mendengar kabar. Tetapi polisi mempersulit. Untuk beberapa waktu seakan-akan aku sendiri berada dalam bahaya penahanan,” kata Sartono. Soekarno memandangnya dengan air mata berlinang karena berterima kasih.

Di penjara Soekarno tidak disediakan meja untuk bisa menulis dengan nyaman. Ukuran selnya 1,5 x 2,5 meter. Hanya tempat tidur yang ada di dalam selnya dan sebuah kaleng yang dibagi dua: untuk buang air kecil dan buang air besar. Setiap pagi ia harus menyeretnya dari bawah tempat tidur, menjinjingnya ke kakus, lalu membersihkan kaleng itu.

Malam demi malam tak henti-hentinya ia mengangkat kaleng itu ke tempat tidur. Ia duduk bersila, menulis beralaskan tempat tidur, dengan kaleng berbau tidak enak di hadapannya. Soekarno menempatkan beberapa helai kertas untuk alas kaleng itu. Ia mulai menulis. Kertas dan tinta dibawakan dari rumahnya. Dengan cara itu ia tekun menulis pembelaannya dengan judul Indonesia Menggugat yang kemudian menjadi sejarah politik Indonesia.

Sumber: buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

 

 

Sabtu, 27 Juni 2020

Sejarah Hari Film Nasional


Bioskop pertama di dunia berlangsung di Paris, Prancis, pada 28 Desember 1895. Pada waktu itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda (Nederlandsch Indie). Gambar idoep (bioskop) pertama di Batavia (kini Jakarta) diadakan oleh pemerintah Belanda pada 5 Desember 1900.

Sementara itu perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka menggebu, apalagi sesudah lahirnya perkumpulan Boedi Oetomo pada 1908. Gelora persatuan makin menyala dengan adanya Soempah Pemoeda pada 1928. Kian menonjol tokoh muda Ir.Soekarno atau biasa disebut Bung Karno yang dikagumi banyak orang karena perjuangannya melawan penjajah Belanda. Salah seorang pemujanya adalah Mohammad Noer, orang Minang yang bekerja di koran Pemandangan pimpinan Saeroen. Melalui tulisan-tulisannya Saeroen berjuang melawan penjajah Belanda. Ia membuat rubrik Kampret di koran itu yang isinya menyerang penjajah Belanda. Koran Pemandangan kemudian dibredel pada 1937.  

Mohammad Noer memberi nama Sukarno untuk putranya karena kekagumannya pada Bung Karno. Setelah Sukarno M.Noer dewasa, ia mengubah namanya dari M.Noer menjadi M. Noor karena ia mengagumi aktor populer Malaysia Roomai S.Noor. Putra ke-tiga dari pernikahan Sukarno M.Noor dengan Istiarti Rawumali dinamakan Rano yang kemudian juga menjadi aktor terkenal dan menjadi Gubernur Banten (2014 – 2015).

Pada 3 Januari 1946 Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para petinggi pemerintah Indonesia pindah ke Yogyakarta karena Jakarta sangat tidak aman pada waktu itu. Berbagai usaha pembunuhan terhadap para petinggi pemerintah Indonesia dilakukan tentara Belanda yang kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu. Sedangkan Yogyakarta cukup aman dari gangguan Belanda dan fasilitasnya cukup memadai untuk menjadi ibu kota sementara. Sebelumnya Kepala Daerah Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, pernah mengirim utusan ke Jakarta. Utusan ini membawa surat untuk Presiden Soekarno yang berisi saran agar ibukota RI dipindah ke Yogyakarta.

Sebagian anggota perkumpulan sandiwara Maya pimpinan Usmar Ismail serta rombongan Bintang Timur dan Pantjawarna pimpinan Djamaludin Malik pindah ke Yogyakarta pada masa pendudukan Jepang. Perusahaan film swasta dilarang berproduksi oleh Jepang sehingga orang film kembali ke panggung. Dr. Huyung, orang Korea dengan nama asli Hue Yong,  datang sebagai perwira Jepang yang tugasnya mengontrol sandiwara. Naskah sandiwara harus tertulis dan diperiksa lebih dulu, para pemain harus patuh pada naskah, dilarang berimprovisasi. Pada masa ini lahir naskah sandiwara Tjitra karya Usmar Ismail dan naskah sandiwara lainnya. Ketika Jepang dikalahkan Sekutu pada 1945 Huyung membelot, ia memilih berada di pihak Indonesia.

Di Yogyakarta Usmar Ismail dan kawan-kawan berkumpul dalam kelompok diskusi film pimpinan Huyung. Rombongan Seniman Merdeka yang terdiri atas para pemain sandiwara keliling juga pindah ke Yogyakarta. Sebelumnya mereka bermain di berbagai pelosok Jakarta untuk mengobarkan semangat untuk tetap merdeka.

Pada 1949 pendudukan Belanda berakhir. Indonesia menjadi negara berdaulat pada 1950 dan Jakarta kembali menjadi ibu kota RI. Sebagian pemain sandiwara kembali ke Jakarta pada 1947 atau 1948 tapi kebanyakan kembali antara 1949 dan 1950. Pada 1948 Air Mata Mengalir di Tjitarum dibuat oleh perusahaan film Tan & Wong (gabungan Tan Bersaudara dan Wong Bersaudara) dan Saputangan diproduksi perusahaan film Bintang Surabaja milik The Teng Chun dan Fred Young. Huyung membuat film Antara Bumi dan Langit yang dibintangi S.Bono pada 1950. Usmar Ismail dengan Perfini-nya membuat film Darah dan Doa. Syuting pertamanya dilakukan pada 30 Maret 1950. Hari itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Sumber: buku Jejak Seorang Aktor Sukarno M.Noor karya S.M.Ardan


Jumat, 26 Juni 2020

Ibu kota RI Pindah ke Yogyakarta




Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan RI, Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu. Jelas mereka datang untuk menjajah kembali setelah Jepang dikalahkan Sekutu. Tentara Belanda ikut membonceng bersama Pasukan Sekutu yang bertugas melucuti dan memulangkan tawanan Jepang dari Indonesia. Pada Oktober 1945 NICA (Netherlands-Indies Civil Administration atau pemerintah sipil Hindia Belanda) mulai membuka kantor. Van Mook menjadi pimpinan kantor itu. Kedatangan Belanda banyak memunculkan masalah.
Pada akhir 1945 keadaan Jakarta sangat kacau dan tidak aman. Pembunuhan, penculikan, dan penjarahan terhadap orang-orang Republik sering terjadi. NICA sangat buas meneror penduduk Indonesia yang pro kemerdekaan. Jika ada pemuda yang mengenakan lencana merah putih, maka NICA akan memaksa agar orang itu menelan lencananya. Mereka menembak membabi buta. NICA  konflik dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan para pejuang di jalan-jalan di Jakarta. Kabinet Perdana Menteri Sjahrir kemudian mengeluarkan maklumat 19 November 1945. Sesuai isi maklumat itu, TKR ke luar dari Jakarta dan bermarkas di Tangerang, Krawang, dan Cikampek.

NICA mencoba membunuh Soekarno berkali-kali sampai ia harus tidur berpindah-pindah untuk menghindari teror. Mereka mencoba menabrak mobil yang dikendarai Soekarno. Untungnya Presiden selamat. Pada 21 November 1945 Mr. Mohammad Roem yang tinggal di Kwitang Prapatan, Jakarta, juga ditembak segerombolan orang tak dikenal di  rumahnya. Paha kirinya diterjang peluru yang mengakibatkan  Ketua KNI Jakarta itu pincang sampai akhir hayatnya. 

Pada 26 Desember 1945 ada percobaan pembunuhan terhadap Perdana Menteri Sjahrir. Ia sedang menuju ke kantornya dengan mobil tiba-tiba dikejar truk yang penuh dengan orang bersenjata. Sopir membelokkan mobil ke sebuah rumah, tapi tetap dikejar. Mobil berhenti, Sjahrir ke luar dari mobilnya. Seorang perusuh mengacungkan pistolnya siap menembak. Tapi keajaiban terjadi. Pistolnya macet! Tapi ia kemudian memukul  wajah Sjahrir dengan pistol. Kebetulan lewat sebuah kendaraan patroli polisi militer Inggris di tempat kejadian. Sjahrir selamat.

Dua hari kemudian  ada percobaan pembunuhan terhadap Menteri Keamanan Rakyat Amir Sjarifuddin. Ketika ia sedang di depan Sekolah Tinggi Guru dalam perjalanan ke rumah Presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, terjadi penembakan. Peluru nyaris melukai Menteri dan merusak mobil.

Pada 1 Januari 1946 Presiden Soekarno mengadakan rapat terbatas karena kemungkinan besar ibukota Jakarta akan jatuh ke tangan NICA. Ia mengusulkan agar petinggi negara diboyong ke daerah lain dan mengendalikan negara dari daerah itu. Rapat malam itu memutuskan, semua pejabat negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta yang dirasa aman dari gangguan Belanda. Fasilitas di Yogyakarta cukup memadai untuk menjadi ibu kota sementara. Sebelumnya Kepala Daerah Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, pernah mengirim utusan ke Jakarta. Utusan ini membawa surat untuk Presiden Soekarno yang berisi saran agar ibukota RI dipindah ke Yogyakarta.

Hasil rapat sepakat bahwa para petinggi negara akan berangkat ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946 malam. Presiden Soekarno berpesan agar para pejabat negara tidak membawa bekal apa pun. Bila perjalanan ini diketahui NICA semua pejabat negara pasti akan langsung dibunuh dalam sekali serangan. Perjalanan itu penuh risiko, tapi setiap perjuangan membutuhkan keberanian.

Sugandi dari unit Balai Jasa Manggarai mempersiapkan gerbong khusus pada 2 Januari 1946 untuk memberangkatkan Presiden, Wakil Presiden, dan para Menteri menuju Yogyakarta. Ada delapan gerbong yang disiapkan melalui jalur Cikini. Pada 3 Januari 1946 kereta berhenti di belakang  rumah Presiden Soekarno yang terletak di pinggir rel. Presiden dan Wakil Presiden bersama keluarga mereka sudah menunggu kereta di sana. Semua lampu di gerbong kereta dan di lokomotif yang akan membawa rombongan dimatikan. Tentara NICA menyangka kereta tersebut hanya kereta biasa yang lewat kemudian akan kembali ke stasiun.

Rombongan mengendap-endap masuk ke dalam kereta. Tak ada seorang pun yang boleh bicara. Juga tidak boleh ada yang menyalakan korek api karena akan menimbulkan cahaya.  Semua harus dilakukan hati-hati, tanpa menimbulkan suara sedikit pun,  dalam keadaan gelap. Suasana sangat tegang pada saat itu. Seandainya perjalanan itu diketahui NICA, negara kita pasti akan jatuh ke tangan Belanda.  Presiden, Wapres, dan para Menteri berada di dalam satu kereta yang bisa dihabisi hanya dengan satu granat.

Inilah perjalanan bersejarah di mana ibukota RI pindah ke Yogyakarta. Keluarga Presiden dan Wakil Presiden tinggal di Gedung Agung, istana Kepresidenan di Yogyakarta, sampai 27 Desember 1949.

Sumber: Artikel Kereta Api Penyelamat Republik karya Dr. Rushdy Hoesein
Lokasi pemotretan: Gedung Agung, Istana Kepresidenan RI di Yogyakarta

Rabu, 10 Juni 2020

Empat Tokoh Tionghoa dalam BPUPKI

Ketika Soekarno merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ada empat tokoh Tionghoa dalam sidang BPUPKI, yaitu Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oey Tjong Hauw, dan Mr. Tan Eng Hoa.
Liem Koen Hian memperjuangkan agar warga Tionghoa peranakan bisa menjadi menjadi warga Negara Indonesia dan mengusulkan masuknya kebebasan pers dalam rancangan Undang-Undang Dasar.
Sementara Tan Eng Hoa mengusulkan pasal kemerdekaan berserikat masuk dalam Undang-Undang Dasar sehingga kemudian dirumuskan menjadi Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945.
Keterlibatan empat tokoh Tionghoa di dalam BPUPKI dimuat dalam ‘Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 Djilid Pertama’ karya Prof. Mr. Muhammad Yamin, 1959. Namun nama keempat tokoh Tionghoa ini dihilangkan dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia edisi ke-empat yang terbit pada 1984.
Sumber: Diskusi Publik ‘Peran Tionghoa dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Nasionalisme Indonesia’ yang diadakan Kecapi Batara pada 2 Juni 2018 di Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Kamis, 16 April 2020

Turunnya Presiden Soekarno dan Naiknya Soeharto


Turunnya Presiden Soekarno terjadi secara bertahap selama satu hingga dua tahun, sejak 1966 hingga 1968. Kekuasaannya mulai berkurang ketika ia ‘terpaksa’ (atau dipaksa?) mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) pada 1966. Sampai sekarang tidak jelas benar mengapa Presiden Soekarno bersedia mengeluarkan Supersemar, yang artinya secara tidak langsung menyerahkan kekuasaannya kepada Soeharto. Mungkin karena situasi keamanan negara yang gawat atau kepercayaannya terhadap loyalitas Soeharto.

Setelah Supersemar keluar, Soekarno masih tetap resmi sebagai presiden. Kemudian dengan adanya wewenang khusus dari Presiden Soekarno, Soeharto segera membubarkan PKI. Keluarnya Supersemar ini segera dirayakan ABRI (kini TNI) dan para mahasiswa dengan show of force ke berbagai jalan utama di Jakarta pada 12 Maret 1966. ABRI mengerahkan tank dan panser-pansernya berkeliling dalam pawai kemenangan.

Pada 18 Maret 1966 lima belas Menteri anggota Kabinet Dwikora ditangkap Soeharto, di antaranya Soebandrio, Chaerul Saleh, Achmadi, Surachman, Oei Tjoe Tat, Moh. Achadi, Soemarno, dan Imam Sjafei (Mereka terkait atau bersimpati pada ideologi komunis). Presiden Soekarno mulai kehilangan para pengikutnya yang utama. Pada 27 Maret 1966 Kabinet Dwikora diisi Menteri-menteri baru untuk mengisi kursi-kursi Menteri yang kosong.

Kemudian Sidang Umum MPRS ke-IV diselenggarakan pada 17 Juni 1966 sampai 5 Juli 1966. Dalam sidang ini Presiden Soekarno menyampaikan pidato pertanggungjawabannya yang berjudul Nawaksara. Namun pidatonya dianggap kurang memuaskan oleh kebanyakan anggota MPRS. Maka MPRS meminta Presiden Soekarno untuk melengkapi pidato pertanggungjawabannya (Pidato ‘Pelengkap Nawaksara’ ditolak lagi oleh MPRS). Sidang Umum MPRS ke-IV secara aklamasi memilih Jenderal Abdul Haris Nasution sebagai Ketua MPRS yang baru. Dalam sidang ini MPRS juga mensahkan Supersemar sebagai keputusan resmi.

Pada 25 Juli 1966 Jenderal Soeharto membentuk kabinet baru sebagai pengganti Kabinet Dwikora, sesuai tugas yang diberikan Sidang Umum MPRS ke-IV. Kabinet baru ini dinamakan Kabinet Ampera. Pelantikannya masih dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 28 Juli 1966. Namun kabinetnya dipimpin oleh sebuah presidium yang diketuai oleh Jenderal Soeharto.

Pada 23 Februari 1967 Presiden Soekarno mengeluarkan pernyataan di Istana Negara bahwa ia menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto. Maka dalam Sidang Istimewa MPRS pada Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai penjabat presiden. Sejak itulah Soekarno benar-benar kehilangan kekuasaannya. Soeharto kemudian dikukuhkan sebagai presiden resmi oleh MPRS pada 27 Maret 1968. Ini kemudian menandai dimulainya era yang dikenal sebagai Orde Baru. Soekarno kemudian dikenakan tahanan rumah di Wisma Yaso, bekas rumah Dewi Soekarno, sampai wafatnya pada 21 Juni 1970.

Sumber: buku Jakarta 1960-an, Kenangan Semasa Mahasiswa karya Firman Lubis