Tampilkan postingan dengan label Orde Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orde Baru. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2025

Imlek

 

Sin Chun Kiong Hie. Itu yang diucapkan Tionghoa di kalangan mereka sambil mengepalkan kedua tangan ke muka pada waktu bertemu. Salam itu banyak terdengar di antara mereka pada hari Imlek. Salam yang mengandung doa semoga panjang umur dan banyak rezeki. Masyarakat Tionghoa sangat gembira bila hari-hari menjelang Imlek diguyur hujan. Bagi mereka hujan berarti hokie atau keberuntungan. Kalender Imlek diperhitungkan menurut peredaran bulan. Kata Imlek berasal dari kata Im yang berarti bulan dan lek yang berarti penanggalan. Perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa.

Imlek yang juga disebut sincia biasanya disambut penuh kegembiraan setiap tahun. Sayangnya Glodok Plaza terbakar pada 15 Januari 2025. Sebelum terbakar pusat perbelanjaan itu dihiasi lampion-lampion merah menjelang Imlek. Di sana juga banyak dijual angpau, parcel, kartu ucapan selamat, hiasan-hiasan dinding, baju encim, pangsi, makanan untuk keperluan liangsim atau sembahyang, semua berwarna merah. Warna itu lambang keberuntungan bagi etnis Tionghoa.

Seperti Lebaran tanpa ketupat, Imlek terasa kurang mantap tanpa kue keranjang. Setiap malam sebelum Imlek seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama. Acara berkumpul itu membuat hubungan keluarga menjadi erat, lengket, seperti kue keranjang. Keesokan paginya, pada hari Imlek, seluruh keluarga melakukan liamking (sembahyang di hadapan abu leluhur). Setelah itu memberi hormat kepada orang tua atau keluarga yang lebih tua. Anak-anak gembira karena setiap memberi hormat dengan bersoja mereka mendapat angpau, amplop merah berisi uang. Anak-anak mengenakan baju pangsi dan para pria dewasa mengenakan chang ie, gaya busana resmi Tionghoa seperti yang kita lihat di film-film Cina.

Klenteng banyak didatangi masyarakat Tionghoa pada hari Imlek. Di kawasan Jakarta Kota terdapat tidak kurang dari  20 klenteng. Klenteng Xuan Can Gong atau Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan yang paling ramai didatangi. Kemeriahan Imlek berlangsung lama. Penutupannya pada hari ke-15 disebut capgomeh.

Dulu pada malam bulan purnama ke-15 itu para siauce (nona) berdandan cantik, tebar pesona kepada enghiong (pemuda) pujaannya yang datang berkunjung. Agar disukai calon mertuanya enghiong akan datang menjelang Imlek membawa sepasang bandeng, ikan paling mahal pada waktu itu. 

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa. Imlek menjadi momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali setahun dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Di Indonesia perayaan Imlek dilarang dilakukan di depan umum sejak 1968 dengan Instruksi Presiden Suharto pada 6 Desember 1967. Rezim Orde Baru melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi masyarakat etnis Tionghoa merayakan hari besar keagamaan mereka secara diam-diam di lingkungan keluarga saja.

Setelah Orde Baru tumbang masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka. Mereka kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada 2000, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Tetapi pada waktu itu hari libur Imlek hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Kemudian pada 2003 Presiden Megawati mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002. 

Sumber: buku Robin Hood Betawi karya Alwi Sahab

 


Senin, 02 Januari 2023

Penyair yang Dilenyapkan

Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah tetapi menangis ketika aku susah
Ibu tak bisa memejamkan mata bila adikku tak bisa tidur karena lapar
Ibu akan marah bila kami merebut jatah makan yang bukan hak kami
Ibuku memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang dan ketabahan
Ibuku mengubah rasa sayur murah jadi sedap
Ibu menangis ketika aku mendapat susah
Ibu menangis ketika aku bahagia
Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
Ibu menangis ketika adikku keluar penjara
Ibu adalah hati yang rela menerima selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun kasih sayang
Ibu adalah kilau sinar kegaiban Tuhan membangkitkan haru insan dengan kebajikan
Ibu mengenalkan aku kepada Tuhan
(Solo, 1986)

Puisi ‘Ibu’ di atas adalah karya penyair Widji Thukul. Ia dilenyapkan pada 1998 dan jazadnya tak ditemukan sampai kini. Ia lahir di Surakarta pada 26 Agustus 1963, menjadi aktivis yang menolak penguasa Orde Baru di bawah Presiden Suharto. “Hanya satu kata, lawan.” Itu adalah satu baris puisinya yang sangat terkenal dan menjadi jargon para demonstran menjelang runtuhnya rezim Orde Baru.
Ia menerima Wertheim Encourage Award dari pemerintah Belanda pada 1991 dan pernah berkeliling di Amerika membacakan puisi. Widji Thukul mendapatkan Yap Thiam Hien Award pada 2002 yang tak bisa diterima dengan tangannya, sebab tak ada yang tahu di mana ia berada apakah ia masih hidup atau sudah tiada. Puisi-puisinya diterbitkan meda massa dalam dan luar negeri. Karya-karyanya: Puisi Pelo, Darma dan Lain-lain (antologi puisi), Kicau Kepodang (1993), Thukul Pulanglah (diterbitkan pada 2000), Aku Ingin Jadi Peluru (diterbitkan pada 2000).
Meski ia sudah dihabisi dengan kejam oleh rezim Suharto, namun kata-katanya tak pernah bisa dibinasakan. Ini adalah salah satu puisi karyanya pada 1997.
AKU MASIH UTUH DAN KATA-KATA BELUM BINASA
aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa
puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

Minggu, 27 Desember 2020

Kekejian Pemerintahan Orde Baru

Di Flores ketika umat sudah memenuhi gereja seorang pastur menunjuk satu-persatu umatnya yang sudah menjadi simpatisan Barisan Tani Indonesia, organisasi yang berafiliasi dengan PKI. Mereka memperoleh pembagian tanah dari Barisan Tani Indonesia yang telah memperjuangkan tanah bagi mereka yang tak bertanah. Mereka tak terlibat dalam pembunuhan para Jenderal di Jakarta.

Mereka dibawa keluar gereja menuju tanah kosong dan diperintahkan menggali lubang. Kemudian kedua ibu jari mereka diikat ke belakang. Mereka ditembak, tumbang ke dalam lubang yang mereka gali sendiri. Kalau ternyata masih hidup, ada yang turun ke liang lahat dengan parang, memancung leher sampai tubuh korban benar-benar sudah tidak bergerak. Tanah pulau Flores merah. Siapa yang punya bedil kalau bukan tentara. Yang membawa parang adalah penduduk yang ingin selamat, sehingga terpaksa berpihak pada para penyandang senapan.


Mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Dokter Ben Mboi, mengutuk kekejian itu. Menurutnya, negara harus bertanggung jawab terhadap pembantaian manusia pasca G30S. Penerima Magsaysay Award ini menceritakan dalam memoarnya bahwa suasana kekerasan di luar batas pada waktu itu.  “Benar-benar merupakan the blackest and the blackest months of my life. Sampa hari ini pun bayangan bulan-bulan itu masih terpatri dalam ingatan, seperti baru terjadi kemarin.”

Ben Mboi bersama istrinya, Dokter Nafsiah Mboi, naik kapal dari Tanjung Perak ke Ende, untuk menjadi petugas kesehatan di Nusa Tenggara Timur, seminggu setelah bencana politik G30S pada 1965 di Jakarta. Ben menulis: “Pada suatu hari ada dua guru yang dipenggal dan diarak massa keliling kota Ende, lalu dipamerkan di suatu tugu di tengah kota. Istri saya memanggil Kepala Seksi Satu Kodim: ‘Sersan, kalau semua wanita dan anak-anak di kota Ende, termasuk anak-istri Sersan, histeria karena menonton dua kepala orang tanpa badan itu, siapa yang akan menangani dan bertanggung jawab? Apa hebatnya membunuh orang dan memamerkan kepalanya di tengah kota?’ Akhirnya dua kepala itu dikuburkan! Ada orang PKI yang disiksa lalu ditembak, ada yang disiksa sambil berjalan sampai mati, ada yang dibakar hidup-hidup!”

Sumber: buku memoar Martin Aleida Romantisme Tahun Kekerasan.

Senin, 14 Desember 2020

Humor Gus Dur tentang Orde Baru

Dalam suatu sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir, puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir. Masing-masing negara mengirimkan tim ahli paleoantropologi terbaiknya. Sedangkan Indonesia yang masih dalam masa pemerintahan Orba hanya mengirimkan satu komandan intel.

Tim Prancis tampil pertama. Mereka membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, tapi kemudian menyatakan tidak sanggup memperkirakan usia mumi. Pakar Amerika perlu waktu lama tapi taksirannya keliru. Tim Jerman menyatakan, usia mumi lebih dari 3.200 tahun. Ternyata salah. Tim Jepang juga menyebut di sekitar angka itu, tapi juga salah.

Lalu tiba giliran peserta dari Indonesia. Komandan intel bertanya kepada panitia apakah ia boleh memeriksa mumi di ruangan tertutup.

“Silakan,” jawab panitia. 

Lima belas menit kemudian Komandan itu keluar. “Usia mumi ini 5.124 tahun 3 bulan 7 hari,” katanya dengan mantap kepada juri.

Seluruh tim juri terbelalak, saling berpandangan, dan sangat kagum.  Hanya dalam waktu sangat singkat, Komandan bisa menyebutkan usia mumi dengan akurat. Hadiah diberikan. Ucapan selamat dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing, dan sebagainya datang bertubi-tubi. “Luar biasa,” kata mereka. Pemerintah Indonesia sangat bangga.

Menjelang pulang ke Indonesia sang Komandan dikerubungi wartawan dari dalam dan luar negeri di lobi hotel. “Anda hebat. Bagaimana caranya bisa menebak usia mumi dalam waktu singkat?”

“Saya gebuki saja. Ngaku dia.” 


Sumber: Tertawa Bersama Gus Dur. Humornya Kiai Indonesia karya Muhammad Zikra.

Jumat, 06 November 2020

Kisah Eksil di Praha

 

Martin Aleida, penulis buku Tanah Air yang Hilang, bersama Soegeng Soejono, eksil di Ceko.

Soejono Soegeng Pangestu berangkat ke Cekoslowakia pada 10 September 1963 untuk kuliah di sana. Setahun belajar bahasa Ceko, ia mulai kuliah ilmu Ekonomi di Praha, ibu kota Cekoslowakia (kini pecah menjadi dua negara). Banyak mahasiswa Indonesia di sana. Di jurusan Ekonomi hanya batu loncatannya. Ia kemudian diterima di Charles University di Praha jurusan Pedagogi dan Psikologi Anak. Pada 1965 terjadi peristiwa Gerakan 30 September di tanah airnya. Dua minggu kemudian para mahasiswa di-screening satu per satu di KBRI. Pertanyaannya cuma satu: “Apakah Saudara setuju dengan Orde Baru atau tidak?”

 “Saya tidak tahu Orde Baru itu apa, kok saya harus menentukan setuju atau tidak. Kabarnya masih simpang siur. Berita yang ada adalah terjadi pembunuhan di sana-sini. Malah ada berita bahwa siapa saja bisa dituduh PKI lalu ditembak. Macam-macam beritanya. Saya tidak setuju dengan rezim yang tidak menghormati hak-hak azasi manusia.”

 “Kalau begitu Saudara komunis,” kata orang yang melakukan screening.

 “Saya setan belang, tai kucing, itu bukan urusan Saudara,” jawab Soejono. “Saya ini dididik orang tua supaya hidup jujur. Saya orang kampung. Biar menderita dalam hidup, tapi kalau jujur akan diterima oleh Allah. Begitulah ajaran orang tua saya sejak saya dari kampung. Saya dididik di kepanduan (kini Pramuka). Tidak ada ajaran untuk melakukan kekerasan terhadap siapa pun juga.”

 “Kalau begitu Saudara harus pulang.”

 Lho Saudara logikanya bagaimana? Saya harus pulang ke Indonesia di mana ada orang lewat di jalan ditembak karena dituduh PKI. Padahal penembaknya menginginkan istrinya yang cantik. Kalau saya pulang saya juga bisa ditembak.”

 “Kalau begitu visa Saudara tidak bisa diperpanjang.”

 “Siap.”

Soejono mengambil sikap seperti itu karena ia yakin jalan dan tujuannya benar. Yang setuju dengan Orde Baru tidak mendapat masalah, sedangkan semua yang tak setuju minta suaka politik. Permintaan suaka politik mereka diterima. Mereka diurus Palang Merah Ceko. Mereka diberi rumah. Setelah selesai kuliah diberi pekerjaan. “Tapi istri harus cari sendiri. Hehehe...,” cerita Soejono kepada Martin Aleida yang menuliskan kisah hidupnya dan kisah 18 eksil lainnya di buku Tanah Air yang Hilang.

Soejono diterima sebagai ahli Pedagogi. Setelah lulus, ia tak bisa pulang ke Indonesia. Ia melanjutkan kuliah Kultur Politik dan Media Massa di Praha. Ia tak mau berutang kepada negaranya, tetapi ilmu dan pengalaman hidupnya tak dapat dimanfaatkannya untuk memberi kontribusi kepada Indonesia di mana ia berutang budi. “Itu membuat saya sedih. Saya tetap merasa berutang budi kepada Indonesia. Karena itu apa saja yang dapat membangkitkan gairah mengenai Indonesia, saya bantu. Saya membantu berbagai kegiatan di KBRI. Juga kepada orang-orang Indonesia yang datang ke Ceko. Saya ikut membantu hubungan baik Indonesia dan Ceko. Selain itu saya menjadi dosen Bahasa dan Budaya Indonesia,” cerita Soejono.

Orang-orang Ceko yang ingin belajar bahasa Indonesia berguru kepada Soejono gratis. Siapa saja yang tertarik pada Indonesia dibantu Soejono gratis. “Yang saya inginkan dari mereka cuma satu, supaya kita menjadi sahabat yang kekal. Itu lebih penting daripada uang.”

Kamis, 16 April 2020

Turunnya Presiden Soekarno dan Naiknya Soeharto


Turunnya Presiden Soekarno terjadi secara bertahap selama satu hingga dua tahun, sejak 1966 hingga 1968. Kekuasaannya mulai berkurang ketika ia ‘terpaksa’ (atau dipaksa?) mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) pada 1966. Sampai sekarang tidak jelas benar mengapa Presiden Soekarno bersedia mengeluarkan Supersemar, yang artinya secara tidak langsung menyerahkan kekuasaannya kepada Soeharto. Mungkin karena situasi keamanan negara yang gawat atau kepercayaannya terhadap loyalitas Soeharto.

Setelah Supersemar keluar, Soekarno masih tetap resmi sebagai presiden. Kemudian dengan adanya wewenang khusus dari Presiden Soekarno, Soeharto segera membubarkan PKI. Keluarnya Supersemar ini segera dirayakan ABRI (kini TNI) dan para mahasiswa dengan show of force ke berbagai jalan utama di Jakarta pada 12 Maret 1966. ABRI mengerahkan tank dan panser-pansernya berkeliling dalam pawai kemenangan.

Pada 18 Maret 1966 lima belas Menteri anggota Kabinet Dwikora ditangkap Soeharto, di antaranya Soebandrio, Chaerul Saleh, Achmadi, Surachman, Oei Tjoe Tat, Moh. Achadi, Soemarno, dan Imam Sjafei (Mereka terkait atau bersimpati pada ideologi komunis). Presiden Soekarno mulai kehilangan para pengikutnya yang utama. Pada 27 Maret 1966 Kabinet Dwikora diisi Menteri-menteri baru untuk mengisi kursi-kursi Menteri yang kosong.

Kemudian Sidang Umum MPRS ke-IV diselenggarakan pada 17 Juni 1966 sampai 5 Juli 1966. Dalam sidang ini Presiden Soekarno menyampaikan pidato pertanggungjawabannya yang berjudul Nawaksara. Namun pidatonya dianggap kurang memuaskan oleh kebanyakan anggota MPRS. Maka MPRS meminta Presiden Soekarno untuk melengkapi pidato pertanggungjawabannya (Pidato ‘Pelengkap Nawaksara’ ditolak lagi oleh MPRS). Sidang Umum MPRS ke-IV secara aklamasi memilih Jenderal Abdul Haris Nasution sebagai Ketua MPRS yang baru. Dalam sidang ini MPRS juga mensahkan Supersemar sebagai keputusan resmi.

Pada 25 Juli 1966 Jenderal Soeharto membentuk kabinet baru sebagai pengganti Kabinet Dwikora, sesuai tugas yang diberikan Sidang Umum MPRS ke-IV. Kabinet baru ini dinamakan Kabinet Ampera. Pelantikannya masih dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 28 Juli 1966. Namun kabinetnya dipimpin oleh sebuah presidium yang diketuai oleh Jenderal Soeharto.

Pada 23 Februari 1967 Presiden Soekarno mengeluarkan pernyataan di Istana Negara bahwa ia menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto. Maka dalam Sidang Istimewa MPRS pada Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai penjabat presiden. Sejak itulah Soekarno benar-benar kehilangan kekuasaannya. Soeharto kemudian dikukuhkan sebagai presiden resmi oleh MPRS pada 27 Maret 1968. Ini kemudian menandai dimulainya era yang dikenal sebagai Orde Baru. Soekarno kemudian dikenakan tahanan rumah di Wisma Yaso, bekas rumah Dewi Soekarno, sampai wafatnya pada 21 Juni 1970.

Sumber: buku Jakarta 1960-an, Kenangan Semasa Mahasiswa karya Firman Lubis

Jumat, 16 Maret 2018

Berdakwah dengan Musik dan Film



Begadang... jangan begadang, kalau tiada artinya...
Begadang boleh saja kalau ada perlunya...

Itu lagu dangdut yang sangat populer yang diciptakan dan dinyanyikan Rhoma Irama pada 1973. Lagu-lagunya enak dinyanyikan dan selalu mengandung unsur dakwah, seperti lagu Shalawat Badar, Perjuangan dan Doa, Setan Pasti Kalah, Sebujur Bangkai, Roda Kehidupan, Judi, dan sebagainya. Lagunya yang juga sangat digemari adalah Rupiah, Darah Muda, dan Penasaran. Ada 328 lagu yang diciptakannya. Sejak mendirikan Soneta Band pada 13 Oktober 1973 Rhoma Irama memiliki jutaan penggemar. Ia sangat populer pada era 1970 sampai 1990an. Di mana pun ia manggung selalu penontonnya meluap, puluhan ribu orang.

Melalui lagu-lagunya ia juga sering mengritik Pemerintah Orde Baru. Ketika Pemerintah Orba menjual kupon Sumbangan Sosial Berhadiah untuk mengumpulkan uang dari masyarakat, Rhoma menciptakan lagu ‘Judi’. Lagu itu mengritik Pemerintah Orba yang melegalkan perjudian melalui kupon itu. Pada pertengahan 1980-an ia menciptakan lagu Hak Asasi Manusia. Lagu  ini diciptakannya untuk mengritik sikap rezim Orba yang tak menjunjung tinggi hak asasi manusia. 


Rhoma Irama berdakwah melalui musik dan film. Ada 28 film yang dibintanginya, antara lain: Nada dan Dakwah, Pengabdian, Sebuah Pengorbanan, dan Terjebak dalam Dosa.Yang paling populer adalah film Satria Bergitar tentang musafir yang tidak haus kekuasaan dan mengajak orang menjadi muslim yang baik. 

Pemerintahan Orde Baru mengawasi setiap kegiatannya ketika ia mulai menjadi juru kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pada masa itu hanya ada PPP, PDI, dan Golkar, bukan banyak partai seperti sekarang. Banyak rakyat memilih PPP antara lain karena pengaruh dari lagu-lagu dakwah Rhoma Irama. Meski hanya simpatisan, bukan kader, apalagi pengurus partai, tampilnya Rhoma sebagai juru kampanye mampu menggenjot perolehan suara PPP. 

Pada Pemilihan Umum 1977 untuk pertama kalinya suara partai berlambang Kabah itu mampu mengalahkan Golongan Karya. Pesona Rhoma membuat penguasa Orba waspada. Sejumlah cara dilakukan untuk 'membungkam' sang legenda. TVRI, satu-satu stasiun TV pada masa itu, tidak mengizinkan Rhoma dan Soneta Group tampil.  Izin-izin untuk tampil  off air juga dipersulit, lagu-lagunya dicekal. Pada 1970-sampai 1980-an sempat terjadi empat kali upaya pembunuhan terhadap Rhoma. “Ia diancam dengan belati di Medan, dengan golok di Palembang, dengan peluru di Jember, dan dengan granat di Jawa Timur,” tulis Moh. Shofan dalam buku ‘Rhoma Irama Politik Dakwah dalam Nada’.


Gubernur dipilih oleh Presiden pada zaman Orba.  Semua kepala daerah diminta untuk memenangkan Golongan Karya dalam pemilu. Bila Golkar tidak menang di daerah yang mereka pimpin, maka mereka dianggap tidak memiliki prestasi.  Gubernur Jakarta Ali Sadikin tidak mau seperti itu. Ia ingin pemilu dilakukan dengan jujur, adil, dan demokratis. Golkar kalah di wilayah DKI Jakarta pada pemilu 1977. Partai Persatuan Pembangunan mendapat suara terbanyak. Itu antara lain karena kontribusi suara yang besar dari pengemar Rhoma. Kemenangan itu berulang pada pemilu 1982. 

Jumlah penggemar Rhoma menyusut ketika ia meninggalkan PPP pada 1997. Berat hidup pada zaman Orba. Rhoma memilih masuk Golkar.

Senin, 26 Februari 2018

Imlek

Kata Imlek terdiri dari kata Im yang berarti Bulan dan Lek yang berarti Penanggalan. Perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama menurut penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-lima belas, pada saat bulan purnama. Perayaan Tahun Baru Imlek juga dikenal sebagai Festival Musim Semi atau Spring Festival atau sin cia.
Tahun Baru Imlek dirayakan di berbagai negara dimana terdapat orang Tionghoa atau keturunan Tionghoa. Hampir di setiap negara terdapat komunitas Tionghoa. Acara perayaan Imlek biasanya berupa persembahyangan sebagai wujud syukur dan doa agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak untuk menjamu leluhur.
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa.
Imlek merupakan momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali setahun dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Di Indonesia perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum sejak 1968. Rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi masyarakat etnis Tionghoa merayakan hari besar keagamaan mereka secara diam-diam di lingkungan keluarga saja.
Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada tahun 2000 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka dapat mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka. Tradisi Imlek menambah kaya kebudayaan Indonesia. Tetapi pada era Presiden Abdurrahman Wahid hari libur Imlek hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Kemudian pada 2003 Presiden Megawati mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional.