Tampilkan postingan dengan label Presiden Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Presiden Soekarno. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Maret 2023

Politik Olah Raga

Apa saja bisa dikaitkan dengan politik, dari sembako, seni-budaya, pariwisata, pendidikan, dan lain-lain. Olah raga pun tak luput dari campur tangan politik. Indonesia disksorsing oleh IOC (Komite Olimpiade Internasional) karena melarang Taiwan dan Israel ikut dalam Asian Games IV di Jakarta pada 1962. Hubungan Indonesia dengan Tiongkok dan negara-negara Arab sangat dekat karena sama-sama menentang imperialisme dan kolonialisme di berbagai negara. Jika Indonesia mengundang Taiwan dan Israel, hubungan baik dengan Tiongkok dan negara-negara Arab dapat terganggu.

Skorsing dari IOC mengakibatkan Indonesia tidak dapat berpartisipasi dalam Olimpiade. Untuk melawan IOC, Presiden Soekarno menyelenggarakan Ganefo (Games of The New Emerging Forces) di Jakarta pada 10 November – 22 November 1963. Ada 47 negara yang ikut serta dalam pesta olah raga Ganefo I.  Momentum skorsing itu dimanfaatkan Presiden Soekarno untuk menyatukan rakyat Indonesia dalam melawan imperialisme. Ini tercermin dalam pidato Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1963.


Sebelumnya, melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, Presiden Soekarno berhasil membangun semangat rakyat Indonesia dan negara-negara berkembang di Asia dan Afrika agar tidak tunduk kepada negara-negara kapitalis adi daya pengisap kekayaan  Asia, Afrika, dan Amerika Latin.  Pada waktu itu Indonesia  menjalin hubungan baik dengan negara-negara komunis seperti  Republik Rakyat Tiongkok, Vietnam Utara, dan Korea Utara.

Senin, 05 September 2022

Kontrak Karya untuk PT Freeport Indonesia

Buku memoar Soetaryo Sigit ini terbit pada Juli 2022




















Pada 1936 ahli geologi Jean Jaques Dozy dan timnya melakukan ekspedisi di Gunung Ersberg di Irian Barat (Papua) untuk mengetahui kekayaan apa saja yang ada di sana. Laporan penelitiannya yang diterbitkan Jurnal Geologi Leiden (Leidsche Geologische Mededeelingen) pada 1939 menyebutkan bahwa bumi Irian Barat mengandung sangat banyak emas dan tembaga.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Belanda tidak mengakui kedaulatan Republik Indonesia bahkan tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada pemerintah RI. Belanda ingin Irian Barat menjadi wilayah kekuasaan mereka.  Pada 1959 Belanda melakukan ekspedisi lagi di Irian Barat.

Sementara itu Manajer Eksplorasi Freeport Sulphur, Forbes Wilson, membaca laporan Dozy dalam perjalanannya ke Eropa pada 1950-an. Ia sangat terkesan pada hasil penelitian Dozy. Pada 1960 Forbes Wilson dari Freeport Sulphur Company atas izin Pemerintah Belanda melakukan perjalanan eksplorasi ke Gunung Bijih.  Ia  mendapati Gunung Bijih mengandung endapan bijih tembaga terbesar di dunia. Wilson mendesak Dewan Direksi Freeport untuk segera menambang endapan bijih yang terkandung di dalam gunung ini.

Presiden Soekarno ingin Irian Barat menjadi bagian dari Indonesia. Untuk mengetahui lebih banyak tentang potensi alam di sana Presiden Soekarno menugaskan Soetaryo Sigit untuk memimpin Tim Ilmiah dalam Ekspedisi Cenderawasih pada Desember 1963. Pada waktu itu Sigit adalah Kepala Jawatan Geologi di Bandung. Ekspedisi ini baru pertama kali dilakukan oleh bangsa Indonesia, sebelumnya hanya bangsa asing yang melakukan ekspedisi untuk meneliti kekayaan di berbagai wilayah Indonesia.

Ada dua Tim yang dikirim Presiden Soekarno ke Irian Barat,  yaitu Tim Pendaki yang bertugas menancapkan bendera merah putih di Puncak Sukarno dan Tim Ilmiah yang bertugas meneliti potensi alam meliputi geologi, botani, zoologi, geografi, dan meteorologi.Dengan perjuangan yang sangat  berat di lapangan akhirnya ekpedisi ini berhasil mencapai tujuan. Sigit dianugerahi kenaikan pangkat istimewa dari Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan Chairul Saleh dan Bintang Jasa RI kelas II dari Presiden Soekarno.

Dari kerja keras Tim Ekspedisi Cenderawasih dapat diketahui kekayaan bumi Irian Barat. Pada 1966 Presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto. Pada 1966 Presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto. Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi dan politik yang parah pada waktu itu. Untuk mengatasi kebangkrutan ekonomi, usaha  pertambangan menjadi hal yang perlu segera dilaksanakan. Pada 1960-an Indonesia belum memiliki tenaga ahli, modal, peralatan dan teknologi pertambangan yang memadai untuk mengambil kekayaan di perut buminya. Masih diperlukan pihak asing untuk melaksanakannya.

Delegasi Freeport dari Amerika tiba di Jakarta untuk mengadakan pembicaraan dengan Pemerintah RI mengenai kemungkinan pemanfaatan Gunung Bijih. Sigit selaku Ketua Panitia Teknis Penanaman Modal Asing atau disebut juga PTPKLN (Panitia Teknis Perundingan Kerjasama Luar Negeri) Departemen Pertambangan (1966-1973) bersama timnya merundingkan kontrak PT Freeport.

Setelah melalui serangkaian perundingan antara Pemerintah Indonesia yang diwakili Departemen Pertambangan, Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri, Bank Indonesia, dan departemen lainnya terkait dengan PT Freeport, akhirnya pada 7 April 1967 Kontrak Karya ditandatangani. Ini merupakan Kontrak Karya Pertambangan yang pertama.

Kontrak Karya Generasi Pertama

Setelah melalui serangkaian perundingan antara Pemerintah Indonesia yang diwakili Departemen Pertambangan, Departemen Keuangan, Departemen Dalam Negeri, Bank Indonesia, dan departemen lainnya terkait dengan Freeport, akhirnya pada 7 April 1967 Kontrak Karya ditandatangani. Juru runding yang mewakili Departemen Pertambangan adalah Soetaryo Sigit, Chris Situmorang, Soetjipto, M.L. Manu, Ridwan Machmud, dan Sutojo.

Kontrak Karya Pertambangan dengan Freeport Sulphur Company (FSC) ditandatangani hanya sekitar tiga bulan setelah terbitnya UU No.1/1967 tentang Penanaman Modal Asing, tetapi lebih cepat tujuh bulan sebelum terbitnya UU No.11/1967 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan.

Kontrak Karya untuk Freeport disebut Kontrak Karya Generasi Pertama. Tetapi kemudian pada isi Kontrak Karya berikutnya dibuat berbagai perubahan yang lebih menguntungkan Indonesia. Kontrak Karya berikutnya disebut Kontrak Karya Generasi kedua. Setiap ada perubahan Kontrak Karya maka Kontrak Karya tersebut dinamakan Kontrak Karya Generasi ketiga, keempat, dan seterusnya.

Pada 1967 itu tim dari Indonesia akan mengutarakan prospek investasi di Indonesia di forum internasional di Jenewa. Kontrak Karya dengan Freeport menjadi penting, karena akan menjadi etalase prospek pertambangan Indonesia dalam forum Jenewa. Contoh Kontrak Freeport itu kemudian dibawa Sigit yang bertugas mengutarakan prospek pertambangan Indonesia di forum itu.

Pada 1972, sesudah selesai semua persiapan di lapangan, kegiatan eksplorasi dimulai. Pada 3 Maret 1973 Presiden Soeharto meresmikan tambang tembaga sekaligus proyek PMA pertama di pemerintahan Orde Baru. Pada saat itu kota pemukiman yang dibangun Freeport untuk para pekerjanya dinamakan Tembagapura dan nama Irian Barat diganti menjadi Jayapura.

Banyak Pertanyaan dari Masyarakat

Beroperasinya Freeport di Indonesia menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Sigit sebagai konseptor Kontrak Karya menjelaskan proses Kontrak Karya Pertambangan (KKP) dengan perusahaan yang semula bernama Freeport Sulphur Company (FSC) kepada berbagai kalangan. FSC kemudian menjadi PT Freeport Indonesia Incoporated (FII), dan selanjutnya disebut PT Freeport Indonesia (PTFI) anak perusahaan Freeport McMoran Copper and Gold di Amerika Serikat.

Mengenai FSC masuk ke Indonesia tanpa melalui tender, Sigit menjelaskan bahwa sebenarnya perusahaan ini telah melakukan penyelidikan di Ertsberg, Irian Barat (kini Papua) pada 1960 berdasarkan izin eksplorasi dari pemerintahan Belanda. Pada waktu itu Irian Barat masih berada di bawah pemerintahan Belanda.

Pada 1963, melalui persetujuan yang dibidani Perwakilan Bangsa Bangsa, perwalian atas Irian Barat beralih dari Belanda ke Republik Indonesia. Sesuai persetujuan itu, Indonesia wajib menghormati konsesi pertambangan yang telah diberikan oleh pemerintahan Belanda sebelum 1963. Setelah terjadi perubahan politik di Indonesia pada 1966, pimpinan FSC mulai menjajagi kemungkinan melakukan investasi di Indonesia yang kemudian dilanjutkan dengan perundingan KKP (Kontrak Karya Pertambangan)


Rumusan ketentuan perpajakan diubah pada 1974. Pemberian tax holiday kepada FSC ditiadakan. Selanjutnya perusahaan ini membayar pajak perseroan, disamping iuran tetap (deadrent) dan iuran produksi (royalty) untuk tembaga, emas, dan perak yang dihasilkannya. KKP FSC yang dibuat sebelum terbitnya UU No. 11/1967 ini dalam kalangan pertambangan Indonesia selanjutnya dikenal sebagai Kontrak Karya Pertambangan Generasi Pertama, dan merupakan satu-satunya kontrak untuk generasi itu.

Mengenai mengapa FSC diizinkan mengambil emas dan perak dari penambangannya, Sigit menyatakan bahwa ada kekeliruan dalam penerimaan masyarakat. Kalangan luas berpendapat bahwa menurut KKP-nya, FSC hanya diizinkan menambang tembaga, tidak dibenarkan untuk juga mengambil emas dan peraknya. Hal ini sejak lama dijadikan isu untuk memojokkan FSC. Tidak sedikit pemberitaan mengenai perusahaan ini yang mengatakan, tanpa setahu pemerintah selama ini Freeport mencuri emas dan perak dari tambangnya.

Menurut Sigit, pemberitaan itu jelas keliru. Sejak perundingan KKP-nya, pemerintah telah menyetujui bahwa FSC akan menambang bijih atau pun mineral. Sejak FSC mulai berproduksi, pemerintah selalu mendapat laporan dari perusahaan tersebut berapa besar kadar tembaga, perak, dan emas dalam konsentrat bijih yang diekspornya dari Irian Jaya itu.

Hadirnya usaha pertambangan di suatu daerah menambah pendapatan negara di Pemerintah Pusat maupun daerah dari pemasukan berbagai jenis pajak, retribusi, royalti, dan sebagainya. Bagi masyarakat sekitar, kehadiran perusahaan tambang membuka kesempatan kerja dan berbagai kegiatan baru yang bermanfaat. Daerah yang semula terpencil dan terbelakang menjadi terbuka dan maju dengan dibangunnya infrastruktur dan fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, pasar, tempat ibadah, dan fasilitas lain, oleh perusahaan tambang.

Semua perusahaan yang memiliki Kontrak Karya Pertambangan yang beroperasi di Indonesia diwajibkan membayar kepada pemerintah, antara lain iuran tetap untuk wilayah Kontrak Karya atau wilayah pertambangan, membayar royalti, dividen, pajak penghasilan badan, pajak penghasilan lainnya, pajak pertambahan nilai, dan berbagai pungutan pajak. Perusahaan pertambangan dapat meningkatkan devisa negara, membangun sarana dan prasarana, peluang kerja bagi karyawan perusahaan, kontraktor dan pemasoknya, peluang-peluang usaha bagi perusahaan lokal di dalam berbagai industri, pembangunan daerah, dan lain-lain.

Soetaryo Sigit dalam buku Pioneers and Milestones of Indonesian Geology karya J.T.van Gorsel

 


 

 

 

 

 

Selasa, 01 Desember 2020

Kami Tetap Anti-Soeharto

I Ketut Putera tiba di Sofia, ibu kota Bulgaria, pada 1963. Ia memenuhi seruan Presiden Soekarno agar menimba ilmu di luar negeri dan pulang untuk membangun tanah air dengan bekal pengetahuan. Tapi ternyata Pemimpin Besar Revolusi itu kehilangan kekuasaannya sejak peristiwa G30S pada 1965. Putra Bali itu memilih lebih baik kehilangan Indonesia daripada tunduk pada Soeharto.


Lima tahun kemudian ia menikah dengan gadis Bulgaria, teman kuliahnya. Ia membiarkan KBRI memberangus paspornya dan memilih menjadi warga negara Bulgaria. Ia bekerja selama 23 tahun di Kementerian Perdagangan Luar Negeri Bulgaria. Kini ia berusia 80 tahun. “Saya pendukung Jokowi,” katanya. Pada 2006 Jokowi sebagai Wali Kota Solo berkunjung ke Montana, Bulgaria, untuk menandatangani kesepakatan bersama antarkota Montana-Solo.
I Ketut Putera menjadi penerjemah untuk Jokowi di sana. "Saya belajar bahasa Bulgaria terlebih dahulu selama setahun sebelum belajar ekonomi. Yang mengajarkan bahasa Bulgaria ketika itu tidak menguasai bahasa Inggris. Jadi agak susah mengajarnya. Orang-orang di sini kurang menguasai bahasa asing," ceritanya kepada Martin Aleida yang menulis kisah delapan belas eksil dalam buku Tanah Air yang Hilang.
Pada waktu I Ketut Putera berusia 20 tahun ia pindah dari Bali ke Jakarta untuk bekerja sambil belajar karena orang tua tak sanggup membiayai pendidikannya. Ia bekerja di Garuda Indonesian Airways sambil belajar di Akademi Perniagaan Indonesia. Pada awal 1960-an Presiden Soekarno memberinya kesempatan untuk belajar di luar negeri, menimba ilmu di sana untuk dibawa pulang ke tanah air. Pada waktu itu terbuka kesempatan untuk belajar di negara-negara sosialis. Pada 1963 ia lulus tes dan terpilih untuk belajar selama lima tahun di Bulgaria. Tapi ternyata pada Oktober 1965 terjadi gejolak politik di Indonesia. Presiden Soekarno digulingkan padahal I Ketut Putera ditugaskan belajar oleh pemerintahan Soekarno. Ketika itu ia baru duduk di tingkat dua Fakultas Ekonomi di Sofia.
“Saya setia kepada amanat yang diberikan Presiden Soekarno untuk menunaikan tugas belajar. Di bawah pemerintahan Soeharto terjadi perubahan sikap politik. Saya dan beberapa teman tidak setuju dengan Soeharto dan bersikap setia kepada Presiden Soekarno. Jadi paspor saya dicabut KBRI pada awal 1967, saya stateless, tak punya kewarganegaraan. Pihak kedutaan berusaha memancing-mancing kami untuk pulang dengan janji akan diberikan surat keterangan pro-Soeharto. Namun kami tetap anti-Soeharto. Mahasiswa yang pro-Soeharto mendapat bantuan, studi mereka bisa jalan terus. Para mahasiswa anti dan pro-Soeharto menjadi terpecah di mana-mana,” ceritanya.

Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Bulgaria ketika muncul masalah Irian Barat (kini Papua). “Jadi Pemerintah Bulgaria mengerti siapa kami sehingga mereka bekerja sama dengan Palang Merah Internasional untuk membantu kami. Tapi kami tak punya kewarganegaraan karena paspor dicabut KBRI. Padahal kami setia dan cinta tanah air dan ingin pulang ke Indonesia untuk menyumbangkan kemampuan kami bagi kemajuan Indonesia. Terpilihnya Jokowi bagi saya merupakan tonggak sejarah. Pada perayaan 17 Agustus 2015 Duta Besar RI memberikan tumpeng kepada saya sebagai orang tertua, usia saya 75 tahun pada waktu itu. Pada zaman Soeharto saya tidak pernah diikutkan pada acara 17 Agustus, saya dicap sebagai pecahan Indonesia. Begitulah jalan hidup saya. Wong cilik dari Bali yang belajar dan ingin memberikan sumbangan kepada pembangunan Indonesia, ternyata menemukan kenyataan hidup yang lain.”

Minggu, 01 November 2020

Tanah Air yang Hilang


Banyak orang Indonesia yang dikirim untuk belajar di luar negeri tapi tak diizinkan kembali ke tanah airnya setelah peristiwa 30 September 1965. Pada awal 1960-an Presiden Soekarno memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia untuk belajar ke luar negeri, menimba ilmu untuk dibawa pulang ke tanah air. Mereka yang berada di negara-negara komunis seperti Uni Soviet (kini Russia), China, Yugoslavia (kini pecah menjadi lima negara), dan Chekoslovakia (kini pecah menjadi dua negara) dilarang pulang ke tanah airnya setelah Presiden Soekarno lengser. Mereka berkelana menyeberangi berbagai batas negara dalam ketakutan, tanpa paspor, untuk menghindari pengejaran yang dilancarkan oleh sebuah rezim yang 32 tahun bertahta. Mereka terpaksa kehilangan tanah air karena paspor mereka dicabut pemerintah Orba sehingga mereka harus mencari tanah air baru, haknya atas sebuah tanah air Indonesia telah dirampas. Meminta suaka dari negara-negara Eropa terutama Belanda, Jerman, Prancis, Ceko, Swedia, dan Bulgaria, mereka kemudian menjadi warga negara di sana.

Penulis Martin Aleida datang ke negara-negara di Eropa, mencari para eksil, dan mewawancarai mereka mengenai awal mereka kehilangan tanah air sampai kini mereka berpuluh tahun tinggal di negeri orang. Sebelum menjadi orang buangan, mereka terdiri atas Rektor, mahasiswa, jurnalis, guru, sarjana teknik, dan sebagainya. Tidak mudah menelusuri keberadaan kaum ‘klayaban’. Dengan usaha kerasnya Martin berhasil menulis kisah sembilan belas eksil dalam buku Tanah Air yang Hilang. Ada yang tetap menjadi eksil di Prancis
sampai akhir hayatnya. Anaknya menceritakan kepada Martin bahwa ia bersama saudara-saudaranya terpaksa menjadi pengamen di metro untuk membantu orang tua mereka. Ada pula insinyur kimia yang menjadi kuli semen di Uni Soviet, juga ada insinyur hidroteknik yang menjadi tukang las di Prancis. “Berita tentang Indonesia terus kami ikuti setiap hari. Malah lebih banyak kami ikuti berita tentang Indonesia daripada Prancis. Kami tinggal di Prancis tapi perasaan kami seperti di Indonesia,” cerita seorang narasumber. “Kami tak punya kewarganegaraan. Inilah nasib yang tak kami duga. Padahal posisi kami jelas. Kami setia dan cinta tanah air. Kami ingin pulang untuk menyumbangkan sesuai kemampuan kami masing-masing bagi kemajuan Indonesia,”cerita narasumber lain mengenai masa lalunya.
Meski banyak kisah memilukan dari perjalanan hidup manusia, buku ini ditulis dengan bahasa yang indah oleh seorang jurnalis, novelis, juga cerpenis Martin Aleida. Terima kasih sudah menulis buku ini, Pak Martin. Sehat selalu. Amin.

Minggu, 28 Juni 2020

Tugu Selamat Datang


Setelah Perang Dunia II beberapa negara di Asia memperoleh kemerdekaannya. Negara-negara baru itu ingin memperkuat saling pengertian melalui olahraga. Mereka sepakat Asian Games diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Asian Games pertama diadakan di New Delhi, India, pada 1951.

Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-empat yang diselenggarakan pada 24 Agustus - 4 September 1962 di Jakarta. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah ditentukan oleh hasil voting Dewan Federasi Asian Games di Tokyo pada 23 Mei 1958. Sejak itu Indonesia mempersiapkan pelaksanaan Asian Games. Bagi Presiden Soekarno pesta olahraga ini merupakan harga diri dan martabat negara kita di mata dunia.

Stadion Utama ditancapkan tiang pancangnya oleh Presiden Soekarno disaksikan Wakil Perdana Menteri Uni Soviet, Anastas Mikoyan, pada 8 Februari 1960. Stadion ini merupakan pinjaman lunak dari pemerintah Uni Soviet. Stadion Renang berkapasitas delapan ribu penonton selesai dibangun pada Juni 1961. Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai dibangun 25 Desember 1961. Kemudian dibangun Stadion Madya, Istora (Istana Olahraga), gedung bola basket, dan sebagainya. Begitu pula gedung TVRI, stasiun televisi pertama di Indonesia, selesai dibangun dan diresmikan pada 24 Agustus 1962.

Presiden Soekarno juga membangun jembatan Semanggi dan tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (kini Kempinski). Tugu Selamat Datang didirikan sebagai penyambut kedatangan para tamu dan peserta Asian Games. Di puncak tugu itu terdapat patung pemudi membawa bunga dan patung pemuda yang melambaikan tangan sebagai tanda selamat datang, menghadap ke arah bandara internasional di Kemayoran. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui Kemayoran dan langsung menuju ke Hotel Indonesia. Jadi mereka melihat tugu Selamat Datang di depan hotel yang pada waktu itu satu-satunya hotel di Jakarta.

Presiden Soekarno meminta Henk Ngantung, seniman yang juga Wagub Jakarta, untuk mendesain tugu Selamat Datang. Pembuatnya adalah sebuah tim pematung yang dipimpin Edhi Sunarso. Tinggi patung ini lima meter dengan tiang penyangga sepuluh meter. Tugu Selamat Datang diresmikan Presiden Soekarno pada 1962.


Kamis, 07 Mei 2020

Srihana-Srihani



Saya narsis di halaman istana Cipanas pada 9 Mei 2015. Di tempat inilah Presiden Soekarno berkencan dengan Hartini, perempuan 28 tahun beranak lima. Suasana istana ini sangat romantis, sunyi, indah. Udaranya sejuk, tersedia kolam pemandian air hangat di dalam istana. Pohon-pohonnya sangat rimbun di atas lahan seluas 26 hektare. Menurut Hartini, Bung Karno sangat romantis. Mereka sering berkirim surat dengan nama samaran Srihana (Bung Karno) dan Srihani (Hartini). Nama Srihani kemudian dipakai menjadi nama rumah Hartini di Bogor.

Setelah dua tahun Hartini kerap menemui Presiden Soekarno di istana Cipanas, mereka menikah 7 Juli 1954 di sini. Pernikahan ke-empat bagi Presiden Soekarno yang ketika itu berusia 53 tahun. “Saya yang melepas jas dan membuka sepatu beliau, mengurus makannya, menyiapkan perlengkapan mandi dan pakaiannya di kamar mandi. Kami selalu mandi berdua. Saya sangat menghormati Bapak. Kalau berbicara dengannya, saya selalu menggunakan bahasa kromo inggil, bahasa Jawa halus, meski di tempat tidur,” cerita Hartini. “Beliau tak pernah salah menyebut nama saya. Bahkan ketika kami bercinta, beliau tidak pernah keceplosan menyebut nama wanita lain. Beliau memang hebat.” Presiden Soekarno masih berstatus sebagai suami Ibu Fatmawati pada waktu itu.
Hartini sangat menjaga penampilannya. Tubuhnya langsing, kulitnya halus, dan tumitnya tampak merah jambu menyembul di balik sarung batiknya. “Saya selalu tampil rapi, tidak mau rambut saya penuh rol dan muka berminyak di hadapan Bapak. Saya hanya menjadi acak-acakan di tempat tidur. Saya meratus rambut, luluran, dan minum jamu yang saya racik sendiri. Sehabis menstruasi saya minum ramuan buatan sendiri berupa campuran temulawak, kunyit, dan asam. Semua saya lakukan untuk suami saya dan juga agar masyarakat menilai bahwa saya pantas mendampingi Bapak. Untuk urusan dandan, Bapak mengajari saya untuk memakai sarung batik dengan benar agar tetap rapi ketika melangkah.”

Pendidikan Hartini adalah Sekolah Kepandaian Putri. Agar tidak terlalu jauh jurang pendidikannya dengan Ir. Soekarno, ia belajar bahasa Inggris dan etiket dari istri Kepala Polisi Bogor. Seorang guru didatangkan dari Jakarta untuk mengajarkannya tata krama di meja makan. Presiden Soekarno menasehatinya agar mengambil makanan yang mudah dimakan saja pada jamuan resmi. Jangan sampai ada potongan rendang terpelanting di meja atau sulit menggigit daging ayam.“Bapak juga mengajarkan saya untuk banyak membaca. Beliau sangat luas pengetahuannya. Beliau memberi buku-buku karyanya, seperti Sarinah, Indonesia Menggugat, dan sebagainya. Kemudian saya dites untuk mengetahui apakah benar saya sudah membaca buku-bukunya.”
Hartini tak meminta cerai dari Bung Karno, meski ada lima perempuan lain yang kemudian menjadi istri sang Proklamator. Ia mendampingi suaminya pada hari-hari terakhir hidup Presiden pertama kita. Bung Karno kembali kepada Yang Maha Mencintainya pada usia 69 tahun, 21 Juni 1970.

Sumber: Buku Last Days of Soekarno karya Ross T.Nugroho


Senin, 27 April 2020

Sopir Presiden Soekarno di Roma


Carlos adalah seorang sopir yang selalu mengemudikan mobil yang digunakan Presiden Soekarno bila berkunjung ke Roma. Kedutaan Besar RI di Italia telah menyeleksinya di antara puluhan sopir dari sebuah perusahaan angkutan di Roma. Carlos selalu menjadi sopir pilihan. Dalam suatu kunjungan ke Roma, begitu turun dari pesawat terbang Presiden Soekarno naik mobil yang disediakan untuknya. Kali ini bukan Carlos yang menjadi sopirnya. Presiden langsung bertanya kepada Duta Besar RI yang menjemputnya.

“Mengapa sopirnya lain? Carlos ke mana?”
“Ia sedang cuti ke Swiss,” jawab Dubes.
“Panggil Carlos pulang. Saya mau Carlos!” kata Presiden.
“Baik, Pak.”

Begitu rombongan tiba di hotel ajudan Presiden, Bambang Widjanarko, mendapat cerita mengenai Carlos dari staf Kedubes RI. Ternyata banyak teman sekerja Carlos yang iri kepadanya. Mereka juga ingin menjadi sopir Presiden Soekarno yang namanya amat populer. Mereka minta kepada pimpinan perusahaan agar dilakukan penggiliran tugas. Pimpinan perusahaan memenuhi tuntutan mereka dan menunjuk sopir lain untuk mengemudikan mobil Presiden Soekarno. Sementara Carlos diberi cuti ke Swiss bersama keluarganya atas biaya perusahaan.

Tapi Presiden Soekarno bersikeras agar Carlos yang menjadi sopirnya. Staf kedutaan RI segera menghubungi perusahaan di mana Carlos bekerja agar Carlos segera dipanggil pulang. Bambang Widjanarko menyampaikan kepada Presiden Soekarno mengapa Carlos tidak bertugas kali ini. 

Keesokan harinya ketika Presiden Soekarno sedang sarapan, Carlos masuk ke ruangan dengan pakaian seragam pengemudi. Wajahnya sangat gembira. Ia memberi hormat secara militer kepada Presiden RI.

Your Excellency, I am at your service.”
Presiden tersenyum lebar dan mengulurkan tangan yang segera dijabat Carlos.
Well, Carlos. Where have you been? I missed you. Bagaimana kabar istri dan anak-anakmu?”

Disapa dengan akrab seperti itu oleh Presiden tampak Carlos sangat bahagia. Ia segera menjawab: “Mungkin  Yang Mulia sudah mendengar ceritanya. Saya dipaksa cuti ke Swiss bersama keluarga. Kami senang bisa berlibur apalagi semua dibiayai perusahaan. Tetapi kemarin sore ketika kami mendapat berita dari perusahaan agar segera pulang karena saya harus menjadi sopir Yang Mulia, kami menjadi lebih gembira. Bahkan istri saya mendesak agar kami segera kembali ke Roma. Sekarang saya siap melayani Yang Mulia.”

Presiden Soekarno tidak memikirkan diri sendiri. Pada suatu acara makan malam di restoran ia memerintahkan ajudan agar semua sopir dalam rombongan diundang. Ada sepuluh orang, termasuk Carlos. Mereka duduk mengitari dua meja dengan hidangan yang sama seperti yang dimakan rombongan Presiden. Mereka sangat gembira dan merasa mendapat kehormatan diundang makan bersama Presiden di restoran terkenal. Acara makan malam berlangsung sekitar tiga jam. Presiden Soekarno mendatangi meja mereka sebentar untuk mengucapkan terima kasih atas kesediaan mereka melayani rombongan.

Tibalah hari  untuk meninggalkan Roma. Semua anggota  rombongan siap naik mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Presiden Soekarno keluar dari lobi hotel menuju mobil yang telah tersedia di depan pintu. Seketika ia berhenti, melihat semua sopir berdiri berbaris rapi di depan pintu sambil memegang topi seragamnya. Lalu terdengar aba-aba: "One, two, three!”  Semua pengemudi serentak bernyanyi:

“Bung Karno siapa yang punya...
Bung Karno siapa yang punya...
Bung Karno siapa yang punya...
Yang punya kita semua...”

Sungguh mengharukan pada saat itu. Para pengemudi bangsa Italia menyanyikan dengan baik lagu berbahasa Indonesia yang amat populer pada masa itu. Mereka belajar lagu itu dari seorang anggota staf Kedubes RI dan mereka sangat menyukai lagu itu. Presiden Soekarno mengucapkan terima kasih sambil menyalami mereka satu persatu. Presiden kita telah merebut hati semua pengemudi di Roma.  

*Beliau ke Roma pada 1956, 1959, dan 1964.



Kamis, 12 April 2018

Presiden Soekarno Menjadi Model Patung Dirgantara



Presiden Soekarno berbincang dengan pematung Edhi Sunarso di teras belakang Istana Negara pada suatu hari. Hubungan mereka cukup dekat. Edhi adalah juara ke-dua kompetisi pematung kelas dunia di London pada 1953. 

“Dhi, saya mau membuat patung Dirgantara untuk menghormati para pahlawan penerbang Indonesia. Kau tau kalau bangsa Amerika, bangsa Soviet, bisa bangga pada industri pesawatnya. Indonesia, apa yang bisa kita banggakan? Keberaniannya!” kata Presiden.“Kita memang belum bisa membuat pesawat terbang, tetapi kita punya pahlawan kedirgantaraan Indonesia yang gagah berani. Kalau Amerika dan Soviet bisa membanggakan dirinya karena punya industri pesawat, kita juga harus punya kebanggaan. Jiwa patriotisme itulah kebanggaan kita! Karena itu saya ingin membuat sebuah monumen manusia Indonesia yang sedang terbang dengan gagah berani, untuk menggambarkan keberanian bangsa Indonesia. Kalau dalam tokoh pewayangan seperti Gatotkaca yang sedang menjejak di bumi.”

Ketika mendengar permintaan Presiden, Edhi Sunarso sebenarnya ragu karena ia belum pernah membuat patung dari bahan perunggu. Presiden memahami gestur keraguan Edhi. Presiden kemudian menegaskan:“Hei, Dhi. Kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara atau tidak? Apa perlu saya menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba. Kau harus sanggup!”

Edhi diberi waktu seminggu untuk mempertimbangkannya. Setelah tenggat waktu itu Edhi menyanggupinya. Patung Dirgantara dirancang Edhi Sunarso pada 1964 – 1965. Tahap pertama Edhi harus menyajikan rancangannya dalam bentuk model dari gypsum. Presiden Soekarno yang menjadi modelnya. Sebelum maket patung dikerjakan Edhi Sunarso, Presiden Soekarno berulang kali memperagakan bagaimana model patungnya harus berdiri. Kemudian Edhi menyebutkan: ia ingin menambahkan satu pesawat dengan posisi digenggam oleh patung Dirgantara. Tetapi Presiden Soekarno tidak setuju karena pesawat itu seperti mainan anak-anak.

Patung Manusia Angkasa itu bernama Gatotkaca Mental Bentolo. Proses pengerjaannya diawasi langsung oleh Presiden Soekarno. Berat patung perunggu itu mencapai 11 ton, tinggi sosok patung 11 meter, tinggi pedestal lengkungnya 27 meter.  Edhi mampu menerjemahkan semangat zamannya. Patung-patungnya hadir dengan barik kasar, menyiratkan gelora dan membakar semangat. Patung Dirgantara ini diletakkan di Jalan Jenderal Gatot Subroto, berseberangan dengan Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya adalah Mabes TNI AU. Patung  ini menghadap ke arah Tebet dan lebih dikenal sebagai patung Pancoran.



Biaya pembuatan patung ini Rp 12 juta pada 1964. Biaya awal ditanggung oleh sang pematung Edhi Sunarso. Pemerintah hanya membayar lima juta rupiah. Untuk menutupi kekurangannya Presiden Soekarno menjual mobil pribadinya seharga satu juta rupiah. Kekurangan enam juta rupiah masih menjadi utang Pemerintah. Pembuatan patung ini sempat tersendat karena peristiwa G 30 S pada 1965.

Karya Edhi Sunarso lainnya adalah patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia dan patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Ide Presiden Soekarno membangun patung-patung itu untuk mengingatkan pada peristiwa penting bagi bangsa Indonesia. Patung ‘Selamat Datang’ yang dibangun pada 1962 dibuat dalam rangka Asian Games. 

Patung ‘Pembebasan Irian Barat’ yang dibangun pada 1963 mengingatkan pada peristiwa sejarah memperjuangkan pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Irian Barat kini bernama Papua.
Patung ‘Dirgantara’ dibangun untuk penghargaan kepada Angkatan Udara RI dengan harapan kita akan mampu menguasai dirgantara seperti bangsa-bangsa maju di dunia. Monumen ini tak sempat diresmikan Presiden Soekarno karena beliau sakit kemudian wafat pada 21 Juni 1970.

Sumber: Buku ‘Konservasi Patung Dirgantara’ oleh Pusat Konservasi Cagar Budaya Pemprov DKI Jakarta


Rabu, 07 Februari 2018

Gelanggang Olahraga Bung Karno



Jakarta ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games pada 2018. Ibu kota negara kita pertama kali menjadi tuan rumah Asian Games pada 24 Agustus – 4 September 1962.  Untuk itu dipersiapkan  fasilitas olahraga yan memadai dan cukup representatif. Sebelumnya sarana yang ada di Jakarta hanya stadion Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) di lapangan Medan Merdeka (lapangan Monas sekarang). Stadion Ikada sudah ada sejak zaman  kolonial Belanda dan pernah dipakai untuk Pekan Olahraga Nasional  (PON) ke-2 pada 1951. 


Stadion Ikada dianggap kurang memenuhi syarat untuk Asian Games. Presiden Soekarno  mencari lokasi yang cocok untuk membangun stadion. Dengan pesawat helikopter Presiden Soekarno mengelilingi kota Jakarta untuk melihat lokasi yang cocok. Kawasan Senayan kemudian dipilih sebagai tempat untuk membangun stadion. Hampir semua penduduk di kampung Senayan dipindah ke kampung Tebet. Sebagian lainnya dipindahkan ke Patal Senayan. Pengosongan kampung Senayan dimulai pada 1959 dan pembangunan stadion dimulai pada tahun itu. 

Pada waktu itu pembangunan kompleks olahraga di Senayan seluas 270 hektare adalah usaha konstruksi terbesar di Jakarta sejak pembangunan Kebayoran Baru. Begitu juga istora (istana olahraga) yang merupakan gedung olahraga tertutup (indoor ) terbesar di Indonesia. Stadion bisa menampung sekitar 120  ribu penonton. 


Kompleks olahraga ini dibangun  oleh arsitek dan kontraktor dari Uni Soviet (Rusia). Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958. Dengan dana yang cukup besar itu menjadikan gelanggang olahraga ini sebagai stadion terbesar di Indonesia. Tempat duduknya dibuat dari kayu-kayu jati yang kokoh. Jalan Jenderal Sudirman yang menjadi akses ke daerah Senayan diperlebar dan diperbagus. Pembangunan jalan ini juga dibantu oleh Uni Soviet. Banyak orang muda yang mau menjadi relawan dalam Asian Games. Ada yang  bertugas memanggil nama-nama atlet untuk masuk ke lapangan menjelang pertandingan dimulai, ada yang menjadi penerjemah bagi para atlet asing, dan sebagainya.


 










Pada masa Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Suharto nama stadion ini diubah dari Gelanggang Olahraga Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Setelah Presiden Suharto diturunkan rakyat nama stadion ini dikembalikan menjadi namanya semula pada masa Presiden Abdurahman Wahid.

Menjelang Piala Asia 2007 stadion direnovasi yang mengurangi kapasitasnya menjadi 88.083 penonton. Pada 2017 Presiden Ir. Joko Widodo merenovasi kompleks olahraga ini agar stadion negara kita representatif untuk Asian Games. Tempat duduk di stadion yang semula berupa bangku-bangku panjang dari kayu jati yang masih kokoh diubah menjadi kursi-kursi merah dan putih. Kapasitas tribun menjadi 76.127 penonton.  Lampunya  3.500 luks dengan jenis rumput jenis rumput  Zoysia Matrella Linmer. Panjang lapangan sepakbola 110 meter dan lebar 70 meter.  Lintasan atletik dibuat delapan lajur dengan panjang empat ratus meter.