Tampilkan postingan dengan label Imlek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imlek. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2025

Imlek

 

Sin Chun Kiong Hie. Itu yang diucapkan Tionghoa di kalangan mereka sambil mengepalkan kedua tangan ke muka pada waktu bertemu. Salam itu banyak terdengar di antara mereka pada hari Imlek. Salam yang mengandung doa semoga panjang umur dan banyak rezeki. Masyarakat Tionghoa sangat gembira bila hari-hari menjelang Imlek diguyur hujan. Bagi mereka hujan berarti hokie atau keberuntungan. Kalender Imlek diperhitungkan menurut peredaran bulan. Kata Imlek berasal dari kata Im yang berarti bulan dan lek yang berarti penanggalan. Perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa.

Imlek yang juga disebut sincia biasanya disambut penuh kegembiraan setiap tahun. Sayangnya Glodok Plaza terbakar pada 15 Januari 2025. Sebelum terbakar pusat perbelanjaan itu dihiasi lampion-lampion merah menjelang Imlek. Di sana juga banyak dijual angpau, parcel, kartu ucapan selamat, hiasan-hiasan dinding, baju encim, pangsi, makanan untuk keperluan liangsim atau sembahyang, semua berwarna merah. Warna itu lambang keberuntungan bagi etnis Tionghoa.

Seperti Lebaran tanpa ketupat, Imlek terasa kurang mantap tanpa kue keranjang. Setiap malam sebelum Imlek seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama. Acara berkumpul itu membuat hubungan keluarga menjadi erat, lengket, seperti kue keranjang. Keesokan paginya, pada hari Imlek, seluruh keluarga melakukan liamking (sembahyang di hadapan abu leluhur). Setelah itu memberi hormat kepada orang tua atau keluarga yang lebih tua. Anak-anak gembira karena setiap memberi hormat dengan bersoja mereka mendapat angpau, amplop merah berisi uang. Anak-anak mengenakan baju pangsi dan para pria dewasa mengenakan chang ie, gaya busana resmi Tionghoa seperti yang kita lihat di film-film Cina.

Klenteng banyak didatangi masyarakat Tionghoa pada hari Imlek. Di kawasan Jakarta Kota terdapat tidak kurang dari  20 klenteng. Klenteng Xuan Can Gong atau Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan yang paling ramai didatangi. Kemeriahan Imlek berlangsung lama. Penutupannya pada hari ke-15 disebut capgomeh.

Dulu pada malam bulan purnama ke-15 itu para siauce (nona) berdandan cantik, tebar pesona kepada enghiong (pemuda) pujaannya yang datang berkunjung. Agar disukai calon mertuanya enghiong akan datang menjelang Imlek membawa sepasang bandeng, ikan paling mahal pada waktu itu. 

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa. Imlek menjadi momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali setahun dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Di Indonesia perayaan Imlek dilarang dilakukan di depan umum sejak 1968 dengan Instruksi Presiden Suharto pada 6 Desember 1967. Rezim Orde Baru melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi masyarakat etnis Tionghoa merayakan hari besar keagamaan mereka secara diam-diam di lingkungan keluarga saja.

Setelah Orde Baru tumbang masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka. Mereka kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada 2000, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Tetapi pada waktu itu hari libur Imlek hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Kemudian pada 2003 Presiden Megawati mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002. 

Sumber: buku Robin Hood Betawi karya Alwi Sahab

 


Sabtu, 09 Februari 2019

Tionghoa dan Betawi


Pada abad ke-16 VOC mendatangkan orang-orang Bugis, Bali, Ambon, Banda, dan terutama Tionghoa ke Batavia untuk menjadi tenaga kerja mereka. Di Batavia kemudian terbentuk kampung Bugis, kampung Ambon, kampung Bali, kampung Makassar, dan sebagainya. India Muslim dan Arab tinggal di kampung Pekojan. Pergaulan antar etnis di Batavia membuat budaya mereka saling memengaruhi.

Etnis Betawi  cukup banyak dipengaruhi budaya Tionghoa, sebaliknya Tionghoa peranakan dipengaruhi budaya Betawi. Begitu dekatnya interaksi budaya kedua etnis ini  sampai muncul selorohan orang Betawi: “Betawi amé Ciné ubungannyé kayé gigi amé bibir ajé.” Orang Betawi  belajar silat dari Tionghoa. Cara orang Betawi memperkenalkan diri mirip Tionghoa, cara mereka duduk dan bercakap-cakap juga sama dengan Tionghoa yaitu duduk di kursi dan memakai meja, bukan duduk di hamparan tikar.

 Ada beberapa istilah yang memakai bahasa Tionghoa Hokkian selatan, seperti: gua, lu, seceng (seribu), cabo (perempuan), kongko (mengobrol), teko, kuaci, dipan, kemoceng, anglo, mangkok, dan sebagainya. Di bidang kuliner juga ada yang berasal dari Tionghoa seperti kecap (dari kata ke-chiap), mie, bihun, kuetiau, somay, bakso, capcay, tahu, toge, tauco, kucai, juhi, ebi, tepung hunkue, lokio, lumpia,dan sebagainya.

Pengaruh budaya Tionghoa terasa pula dalam pernikahan tradisi Betawi. Di wilayah Jabodetabek suatau pernikahan ala Betawi kurang lengkap bila tanpa bunyi serangkai petasan pada waktu pengantin pria berangkat dari rumah orangtuanya. Bunyi petasan ini merupakan pengaruh budaya Tionghoa. Begitu pula pesilat berseragam yang membawa senjata khas Tionghoa berupa tongkat panjang. Para pesilat ini bertugas mengarak pengantin.

Pakaian perempuan Betawi sama seperti pakaian pengantin perempuan tradisi Tionghoa peranakan. Aksesori pengantin ala Putri Cina terdiri atas serangkaian tusuk konde berornamen bunga dan dapat bergoyang mengikuti gerakan kepala pengantin sehingga dikenal dengan sebutan Kembang Goyang.  Diantaranya terdapat empat batang tusuk konde yang panjang yang dinamakan tusuk konde Burung Hong. Ada penutup wajah pengantin perempuan yang disebut Siangko. Baju pengantin berpotongan Mancu disebut baju Tuaki dan bagian bawahnya berupa rok lipit disebut Kun. Di bagian punggung, bahu, dan dada pengantin perempuan terdapat aksesori yang disebut terate.

Kalau datang ke perkawinan para tamu akan memberikan angpau yaitu amplop bergaris merah berisi uang kepada tuan atau nyonya rumah. Para pria Betawi biasanya memakai baju koko dengan padanan celana batik dan sarung yang diselempangkan di leher.  Para perempuan memakai kebaya nyonya.  Kebaya ini merupakan pengaruh tidak langsung orang Tionghoa peranakan terhadap kaum Betawi, meski asalnya dari kaum Belanda peranakan (Indo). Kebaya ini kemudian diadaptasi dan dimodifikasi kaum Tionghoa peranakan (Nyonya).

Jika kebaya kaum Indo hanya berwarna putih dengan pinggiran berenda indah, maka kebaya perempuan Tionghoa peranakan lama kelamaan tidak lagi berwarna putih dan berenda namun diberi bordir (sulaman) benang warna-warni. Bermacam motif dekoratif disulamkan di sini, mulai dari aneka flora, kupu-kupu, burung, dan lain-lain.

Jika kebaya Indo memiliki ujung rata, kebaya nyonya dibuat menjadi sonday (meruncing). Ujung sonday inilah yang kemudian menjadi ciri khas kebaya nyonya peranakan yang kemudian popular dengan sebutan kebaya encim. Selanjutnya kebaya encim  dikenakan perempuan Betawi dan menjadi dress code dalam berbagai event bernuansa budaya Betawi. Tapi kebaya nyonya yang diadopsi orang Betawi sama sekali tidak menampilkan bentuk hiasan seperti udang, ikan, rusa, kupu-kupu, dan burung.


Menjelang Sincia (tahun baru Imlek) di kalangan peranakan di Jakarta ada kebiasaan turun temurun mengantarkan ikan bandeng dan kue keranjang untuk mertua atau calon mertua. Ini diangap tindakan yang tahu adat.Tak jarang ikatan pertunangan dinyatakan  putus karena sang calon menantu tidak tahu adat, tidak mengerti kewajibannya mengantar ikan bandeng dan kue keranjang kepada calon mertua. Kebiasaan ini masih dilakukan di kalangan Betawi dengan membelinya di pasar ikan bandeng di Rawabelong, Jakarta Barat, yang ramai menjelang Sincia.

Sumber: buku Tionghoa dalam Keindonesiaan Jilid II




Senin, 26 Februari 2018

Imlek

Kata Imlek terdiri dari kata Im yang berarti Bulan dan Lek yang berarti Penanggalan. Perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama menurut penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-lima belas, pada saat bulan purnama. Perayaan Tahun Baru Imlek juga dikenal sebagai Festival Musim Semi atau Spring Festival atau sin cia.
Tahun Baru Imlek dirayakan di berbagai negara dimana terdapat orang Tionghoa atau keturunan Tionghoa. Hampir di setiap negara terdapat komunitas Tionghoa. Acara perayaan Imlek biasanya berupa persembahyangan sebagai wujud syukur dan doa agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak untuk menjamu leluhur.
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa.
Imlek merupakan momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali setahun dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Di Indonesia perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum sejak 1968. Rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi masyarakat etnis Tionghoa merayakan hari besar keagamaan mereka secara diam-diam di lingkungan keluarga saja.
Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada tahun 2000 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Mereka dapat mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka. Tradisi Imlek menambah kaya kebudayaan Indonesia. Tetapi pada era Presiden Abdurrahman Wahid hari libur Imlek hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Kemudian pada 2003 Presiden Megawati mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional.