Tampilkan postingan dengan label ratih poeradisastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ratih poeradisastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2015

I Shall Return!

Douglas MacArthur (1880-1964)

Saya datang ke Pearl Harbor National Memorial di Hawaii pada akhir Desember 1992. Di sana diputar film dokumenter tentang Perang Asia Pasifik. Dalam perang ini terkenal nama Jenderal Douglas MacArthur yang dihargai lawan dan kawan. Ia menjadi Jenderal Angkatan Darat AS yang sangat berperan dalam Perang Dunia II (1939 – 1945) di medan pertempuran Asia Pasifik. 

Sebelum Perang Dunia II, pada 1937, ia diminta untuk menjadi penasehat militer oleh presiden pertama Republik Filipina Manuel Quezon. Pangkatnya Field Marshall (perwira dengan pangkat tertinggi). Pada waktu itu Republik Filipina baru didirikan dan MacArthur baru pensiun sebagai Kepala Staf Angkatan Darat AS pada usia 57 tahun.

Pada usia 61 tahun ia dipanggil kembali oleh negaranya untuk menjalani dinas militer aktif.  Ia diangkat sebagai Panglima Pasukan Angkatan Darat AS untuk Timur Jauh, organisasi militer yang baru saja dibentuk. Itu terjadi pada 1941 ketika mulai terlihat bayang-bayang ancaman Perang Pasifik melawan Jepang.

Pada Desember 1941 Jepang mulai melancarkan Perang Pasifik dalam Perang Dunia II. Balatentara Jepang menduduki Filipina, bahkan seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada  awal 1942 serangan Jepang  luar biasa dengan kekuatan besar dan tiba-tiba. Presiden Franklin D. Roosevelt memerintahkan MacArthur untuk segera mundur ke Australia.

Patuh pada perintah Presiden sebagai Panglima Tertinggi, MacArthur berangkat ke Australia. Ia berhasil menembus blokade tentara Jepang dan lolos dari Filipina ke Australia. “I Shall Return!”  Itu sumpahnya. Dengan tekad kuat, ia menepati sumpahnya. Ia berhasil kembali dan merebut Filipina pada 1944. Beberapa hari setelah pendaratannya di Filipina, ia diangkat menjadi Jenderal bintang lima.

Jepang menyerah kalah kepada Sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom. Di atas kapal perang Amerika Serikat ‘Missouri’ yang berlabuh di Teluk Tokyo secara resmi Jepang mengakui kekalahannya kepada Sekutu.  Jenderal MacArthur yang menerima secara resmi pengakuan kekalahan itu.

Pada usia 65 tahun MacArthur memulai karir barunya sebagai Panglima Tentara Pendudukan Sekutu di Jepang. Ia diangkat sebagai Supreme Commander. Meski menang perang MacArthur tetap rendah hati. Ia tak merendahkan martabat Jepang yang pernah menjadi musuhnya. Ia membimbing rakyat Jepang untuk bangkit dari kekalahan perang menjadi negara yang cepat meraih kemakmuran. Rakyat Jepang sangat menghomatinya, terutama karena ia melindungi dan mempertahankan Kaisar Jepang yang menjadi simbol dan pujaan rakyat Jepang. 

Pada usia 70 tahun sewaktu masih bertugas di Jepang, ia dilibatkan dalam perang Korea. MacArthur diangkat sebagai Panglima gabungan tentara internasional di Korea. Pada waktu itu presiden AS adalah Harry S. Truman. Ketika berlangsung perang  Korea, MacArthur berbeda pendapat dengan Presiden Truman mengenai strategi perang Korea. Ia dibebastugaskan oleh Presiden Truman dan kembali ke tanah airnya pada 1951. Usianya 71 tahun ketika itu.

Ia dianggap pahlawan oleh rakyat Amerika dan mendapat sambutan luar biasa dari seluruh penjuru. Ucapannya yang terkenal di kalangan militer "old soldiers never die, they just fade away" ia sampaikan pada pidato perpisahannya di depan Konggres AS, 19 April 1951, yang mendapatkan beberapa kali standing ovation.

Meski tangguh berperang MacArthur suka membuat puisi.

People grow old only by deserting their ideals

Years may wrinkle the skin

but to give up interest wrinkles the soul

You are as young as your faith

as old as your doubt

as young as your self-confidence

as old as your fear

as young as your hope

as old as your despair



Pada usianya mendekati 60 tahun istrinya melahirkan bayi laki-laki yang menjadi anak tunggal pasangan itu. Pada bulan Juni 1942 Jenderal Douglas MacArthur dinobatkan sebagai National Father of the Year. Pernyataannya ketika itu sangat mengesankan,

“By profession I am a soldier and take pride in that fact. 
But I am prouder — infinitely prouder — to be a father.

A soldier destroys in order to build; 

the father only builds, never destroys. 
The one has the potentiality of death; 
the other embodies creation and life.

And while the hordes of death are mighty, 

the battalions of life are mightier still. 
It is my hope that my son, when I am gone, 
will remember me not from the battle 
but in the home repeating with him 
our simple daily prayer, ‘Our Father Who Art in Heaven.'”

Ia menulis puisi berupa doa untuk anaknya, Arthur MacArthur, yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

 

Bentuklah putraku, Oh Tuhan

Menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui

ketika ia lemah
Dan berani menghadapi dirinya sendiri

ketika ia takut
Manusia yang kuat dan tabah

dalam kekalahan yang bermartabat
serta rendah hati dan santun dalam kemenangan

Bentuklah putraku menjadi manusia yang bertekad kuat mewujudkan cita-citanya
Seorang putra yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah

landasan segala ilmu pengetahuan.

Bimbinglah ia, kumohon
bukan di jalan yang mudah dan nyaman
melainkan di jalan yang penuh tekanan dan dorongan

kesulitan dan tantangan
agar ia belajar untuk tetap berdiri di tengah badai
dan welas asih pada yang terjatuh

Jadikanlah putraku

memiliki hati yang tulus

bercita-cita tinggi

putra yang dapat memimpin dirinya sendiri

sebelum ia ingin memimpin orang lain

menjadi manusia yang menatap masa depan

juga tak melupakan masa lalu


Dan setelah semua itu menjadi miliknya
kumohon berilah ia cukup rasa humor
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya

Tuhanku
Berilah ia kerendahan hati
sehingga ia akan mengingat
Kesederhanaan dari kemuliaan sejati
Keterbukaan pikiran dari kearifan sejati
dan kelembutan dari kekuatan sejati
sehingga, hamba, ayahnya, berani berkata:

“Hidupku tidaklah sia-sia”

Puisi aslinya dalam bahasa Inggris:

Build me a son, O Lord,

who will be strong enough to know,

when he is weak,

and brave enough to face himself 

when he is affraid.

one who will be proud and unbending 

in honest defeat

and humble and gentle in victory

 

Build me a son, whose wishes will not take the place of deeds

a son who will know Thee

and that to know himself,

is the foundation of knowledge

 

Lead him, I pray, 

not in the path of ease and comfort

but under the stress and spur

of difficulties and challenge

Here let him learn to stand up in the storm

here let him learn compassion

for those who fall.

 

Build me a son

whose heart will be clear

whose goal will be high

a son who will master himself

before he seeks to master other men

one who will reach into the future

yet never forget the past

 

And after all these things are his

add, I pray, enough a sense of humor

so that he may always be serious,

yet never take himself too seriously

 

Give him humility

so that he may always remember

the simplicity of true greatness

the open mind of true wisdom

and the meekness of true strength

 

Then, I, his father, will dare to whisper:

"I have not lived in vain."



Jumat, 23 Oktober 2015

Ali Sadikin, Gubernur Jakarta Yang Melegenda


Ali Sadikin (duduk, depan) bersama Adnan Buyung Nasution (kiri) dan Hendardi (belakang),
setelah tidak menjabat sebagai gubernur.
(Sumber foto : http://goo.gl/7lfbMX)
Jembatan yang baru dibangun di Jakarta Utara ambruk karena kecerobohan pembangunannya. Itu terjadi pada 1970 ketika Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Pejabat yang memimpin proyek menjadi sasaran kritik dan tuduhan korupsi oleh pers. Tapi Gubernur Ali Sadikin mengatakan kepada pers: “Saya yang bertanggung jawab terhadap ambruknya jembatan itu, karena saya adalah penanggung jawab tertinggi di Jakarta.”

Pernyataannya dimuat secara luas di media massa. Tetapi ada yang tidak ditulis oleh pers, beredar berita dari mulut ke mulut: Bang Ali memanggil pejabat yang menjadi pemimpin proyek, menyeretnya ke ruang kerja, dan menamparnya.

Sebagai pemimpin tertinggi di Jakarta, Ali Sadikin menyatakan kepada publik bahwa ia yang bertanggung jawab. Tapi secara intern ia meminta anak buahnya bertanggung jawab.

Pada waktu pemerintah DKI Jakarta tidak memiliki dana, Bang Ali menempuh jalan yang tidak populer: mengadakan lokalisasi judi dan pelacuran sehingga mendapat kritik keras dari para ulama. Ia menanggapi kritik itu dengan santai: “Kalau Kiai tidak setuju dengan cara mendapatkan dana seperti itu, maka kiai harus membeli helikopter pribadi. Semua jalan di Jakarta dibuat dan diperbaiki dengan uang maksiat.”

Ali Sadikin selalu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di lapangan agar dapat dicarikan solusinya. Ia berani untuk tidak populer.

Pada zaman Orde Baru semua kepala daerah diminta untuk memenangkan Golongan Karya dalam pemilu. Bila Golkar tidak menang di daerah yang mereka pimpin, maka mereka dianggap tidak memiliki prestasi.

Bang Ali tidak mau seperti itu, ia ingin pemilu dilakukan dengan jujur, adil, dan demokratis.

Golkar kalah di wilayah DKI Jakarta pada pemilu 1977. Partai Persatuan Pembangunan yang mendapat suara terbanyak.

Bang Ali pensiun setelah menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 1966 - 1977. Jasa sosok yang lahir di Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927 dan  meninggal di Singapura, 20 Mei 2008, dalam membuat puskesmas, sekolah, gelanggang remaja, pasar, pemakaman umum, mengaspal jalan tanah di semua kampung di Jakarta, menyediakan bus kota, membuat Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, dan sebagainya masih dikenang hingga saat ini.

Rujukan tambahan :

Tulisan saya tentang Ali Sadikin di Facebook
Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta yang Legendaris
HUT DKI: Jejak Bang Ali Sadikin di Kota Metropolitan
Buku : Ali Sadikin Membenahi Jakarta Menjadi Kota Yang Manusiawi (1992)

Senin, 12 Oktober 2015

Museum Timah Indonesia



Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai  penghasil timah di Indonesia. Sejarah panjang usaha pertambangan timah di negara kita sudah berlangsung sejak zaman VOC, lebih dari 200 tahun lalu. Pertambangan timah di Bangka dikelola badan usaha pemerintah Belanda, Banka Tin Winning Bedrijf (BTW). 

Di Belitung dan Singkep dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, masing-masing Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (NV SITEM).
Beberapa benda pertambangan yang digunakan pada waktu itu kemudian disimpan, dirawat, dan didokumentasikan di  Museum Timah Indonesia.

Museum ini menempati bangunan yang dahulu digunakan sebagai tempat tinggal para karyawan perusahaan timah Banka Tin Winning. Diresmikan pada 1958 museum ini berada  di Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 17, Pangkalpinang. Bangunannya sudah dua kali mengalami pemugaran, pada 1997 dan 2010.

Pada  1948 bangunan ini menjadi saksi sejarah kedaulatan Indonesia. Di sini diadakan pertemuan antara para pendiri bangsa dengan utusan dari PBB. Pertemuan tersebut diadakan untuk membicarakan penyerahan kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia.

Begitu memasuki kawasan museum dapat dilihat bor bangka kuno. Alat ini peninggalan zaman Belanda yang digunakan untuk kegiatan penambangan timah tempo dulu. Bor ini dibuat oleh AJ Akeringa, seorang ahli geologi perusahaan Banka Tin Winning pada 1885. Terciptanya bor bangka menjadi perkembangan baru bagi dunia pertambangan timah karena mampu menggantikan alat bor tusuk asal Cina yang sudah ada sejak abad 18.

Pada bagian yang lain dapat dilihat beberapa benda  yang dulu digunakan selama proses penambangan. Alat-alat itu antara lain lokomotif  yang dulu digunakan sebagai pembangkit listrik untuk keperluan pertambangan dan wadah penampung hasil tambang.

Selain itu relief yang mengisahkan sejarah pertambangan timah dari masa ke masa juga dipamerkan di bagian depan museum. Bangunan asli museum masih dipertahankan dan di sekitar museum  itu terpajang beberapa alat tambang yang digunakan pada masa lalu. Keberadaan alat-alat ini memberikan informasi kepada pengunjung mengenai perkembangan penambangan timah di Indonesia.


Memasuki ruang museum pengunjung akan menyaksikan berbagai diorama. Di museum ini terdapat tiga jenis diorama. Diorama yang pertama berisi penjelasan sejarah awal pertambangan timah di Pulau Bangka. Diorama kedua menginformasikan alat-alat pertambangan yang dahulu digunakan. Sementara, diorama ketiga menjelaskan proses penambangan timah dengan alat yang sudah modern dan manfaatnya bagi kehidupan.

Berada di dalam kawasan museum terdapat bangunan lain yang bernama Ruang Sentra Kerajinan Pewter. Di sini pengunjung dapat melihat pernak-pernik berbahan dasar timah. Pernak-pernik cantik yang 97% terbuat dari timah tersebut antara lain berupa plakat, perahu pinisi, truk pengangkut, gantungan kunci, hingga bros.

Menurut pengakuan penjaga museum, semua hasil kerajinan timah tersebut dibuat s manual oleh para perajin timah yang banyak bermukim di Pulau Bangka. Selain melihat-lihat berbagai kerajinan indah yang dibuat para perajin di Pulau Bangka, para pengunjung juga dapat membeli kerajinan-kerajinan itu dan dapat memesan desain kerajinan sesuai dengan yang diinginkan.

Saya bersama delapan teman mengunjungi museum ini pada 4 Oktober 2013. Pay Ishak dan istrinya, Cita, yang tinggal di Bangka menemani kami melihat sejarah masyarakat Bangka yang bekerja sebagai buruh tambang di bawah pemerintahan Belanda.


Senin, 14 September 2015

Georges De Paris, Penjahit Jas Para Presiden

Georges de Paris (28 September 1934 – 13 September 2015).
Georges de Paris adalah pemilik sebuah toko jahit di dekat Gedung Putih. Ia tidak menjual merk jas terkenal, tapi ia menjadi penjahit stelan jas yang dikenakan Ronald Reagan, Bill Clinton, Bush Senior, Bush Junior, Obama, juga Koffie Annan.

Dalam video biografinya ia sempat bercanda : "Kalau Anda ingin memenangkan kursi presiden, pakailah jas buatan saya."

Ia sering diundang ke Oval Office untuk membuatkan setelan jas bagi Presiden untuk dikenakan pada acara-acara penting, seperti pidato-pidato pelantikan dan kenegaraan.

Nampak dalam foto Presiden George W. Bush sedang mencoba jas yang akan dijahit oleh Georges de Paris. Setelan jas hasil karyanya lebih sering muncul di siaran televisi daripada karya para desainer busana Eropa.

Harga setelan jas buatan De Paris minimal 2.500 dollar Amerika. “Tidak ada setelan jas yang akan terlihat bagus bila tidak dipas dengan baik,” katanya. “Jika sebuah toko tidak memiliki seorang penjahit yang ahli, carilah penjahit yang tepat.”

De Paris percaya, warna dan kombinasi yang tepat akan membantu pelanggannya untuk tampil menonjol. Warna yang paling sering dianjurkannya adalah setelan jas biru gelap polos, kemeja putih atau biru muda, dan dasi merah gelap.

Ia meninggal dalam usia 81 tahun pada tanggal 13 September 2015 karena kanker prostat.

Kredit foto : French Morning


Senin, 17 Agustus 2015

Busana, Status Sosial dan Profesi

Busana dapat menunjukkan status sosial dan profesi seseorang.
Ini sudah diketahui manusia sejak zaman kuno.

Pada relief-relief candi di Jawa Tengah seperti candi Pawon, Mendut, Sewu, dan Borobudur, dapat dilihat bagaimana busana kalangan bangsawan berbeda dengan rakyat biasa.

Para bangsawan ditampilkan mengenakan perhiasan mewah terdiri dari mahkota, anting-anting, kalung, gelang tangan, dan gelang kaki.

Dayang-dayang dan pengawal raja mengenakan busana yang lebih sederhana tapi masih mengenakan kalung, anting-anting, dan gelang tangan. Sedangkan dari golongan rakyat jelata jauh lebih sedikit perhiasannya. Khusus untuk pendeta atau biksu digambarkan memakai jubah khusus yang terbuka bagian pundak kanannya.

Pada relief paling bawah Borobudur selain menggambarkan cerita Karmawibhangga juga dapat dilihat profesi mereka dari busana, aksesori, dan lingkungannya. Pemburu digambarkan membawa panah di lingkungan alam terbuka, pertapa di bawah pohon, dewa di dalam bangunan, dan raja di dekat bangunan (candi).

Begitu pula pedagang, algojo, dukun, penari, pemusik, pengemis, dan sebagainya dapat dilihat dari busana, perhiasan, dan lingkungannya.

Pada zaman dulu motif batik untuk kalangan bangsawan juga berbeda dengan motif batik untuk rakyat biasa.

Rakyat tidak boleh memakai batik dengan corak yang sama dengan keluarga raja, seperti corak parang, kawung, udan liris, lereng, dan rujak sente.

Bukan hanya di Indonesia, kebudayaan Aztec sebelum kedatangan bangsa Spanyol di Meksiko juga memiliki tata krama berbusana. Aturan yang dibuat suku Aztec: rakyat jelata hanya boleh memakai busana sederhana.

Hanya kalangan atas yang boleh memakai busana dari bahan khusus. Aksesori hanya untuk kalangan atas; pakaian wanita harus disesuaikan dengan status suami atau ayah mereka.

Sumber: Busana Jawa Kuna karya Inda Citraninda Noerhadi

Jumat, 03 Juli 2015

Blasius Sudarsono, Begawan Ilmu Perpustakaan


Blasius Sudarsono
Foto : Ratih Poeradisastra

Ia belajar ilmu fisika,
tapi dikenal sebagai begawan ilmu perpustakaan.

Menyelesaikan sarjana muda di FIPIA Universitas Gadjah Mada, menjadi Asisten Laboratorium Fisika Dasar di kampus biru itu, tapi melanjutkan pendidikan Master of Library Studies di University of Hawaii, AS.

Pada suatu siang dua tahun lalu, Blasius Sudarsono memberi ‘kuliah’ mengenai Filsafat Perpustakaan kepada saya, meski saya adalah penulis, bukan ahli ilmu perpustakaan.

“Membaca dan menulis sangat penting bagi pustakawan untuk menambah pengetahuan dan memberi informasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Pustakawan yang bersungguh-sungguh pada profesinya memiliki kecintaan untuk meneliti, menganalisa, mengevaluasi, dan menulis,” kata pustakawan utama di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI serta dosen di program sarjana dan pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya UI ini.

Bersama sang begawan. Penulis bersama Blasius Sudarsono dalam kesempatan bertemu saat mengikuti acara peluncuran buku Senarai Pemikiran Sulistyo Basuki : Profesor Pertama Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Indonesia (16/12/2014) di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Ia menulis buku antara lain Pustakawan, cinta dan teknologi (2009), Menyongsong Fajar Baru Merancang Masa Depan, bersama mahasiswanya Ratih Rahmawati menulis buku Perpustakaan Untuk Rakyat : Dialog Anak dan Bapak (2012) dan juga menulis di majalah BACA artikel "Empat Windu Perjalanan Pemikiran tentang PDII LIPI."

Atas dedikasi dan dharma baktinya, Blasius telah dianugerahi Lifetime Achievement Award dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2013).

Ia aktif mengadakan bincang santai dengan kelompok studi kepustakawanan Indonesia yang dinamakannya Kappa Sigma Kappa.

Bincang santai itu biasanya diadakan di Garasi Condet, sebutan untuk rumahnya di Condet, Jakarta. Kecintaan pria berusia 67 tahun ini pada ilmu perpustakaan tak pernah surut.

Tautan lanjut :

Blasius Sudarsono
Kepustakawanan
Wawancara dengan Blasius Sudarsono, MLS 
Pustakawan, cinta dan teknologi (2009)
Blasius Sudarsono, Saya, dan Robert Frost

Selasa, 16 Juni 2015

Gedung Agung Yogyakarta: Pesona dan Sejarahnya


Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta bersama keluarga mereka naik kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Karena situasi di Batavia (kini Jakarta) memburuk, mereka pindah ke Yogyakarta. Ibu kota Republik Indonesia juga ikut pindah ke kota ini.

Di istana kepresidenan di Yogyakarta yang disebut Gedung Agung atau Gedung Negara terdapat kamar tidur Presiden dan Wakil Presiden bersama keluarga mereka.

Tampak depan. Gedung Agung, istana kepresidenan di kota Yogyakarta.
Pilar-pilar.  Bekas kediaman residen Belanda ini pernah ambruk diguncang gempa dan selesai dibangun pada 1869. Bangunan inilah yang menjadi gedung utama istana Kepresidenan.
Semula gedung yang dibangun pada 1824 oleh arsitek A. Payen itu adalah tempat kediaman Residen Belanda. Pembangunan gedung itu sempat terhenti selama perang Pangeran Diponegoro pada 1825 – 1830. Pangeran ini dibuang ke Makassar oleh Belanda, kemudian wafat di kota itu pada 8 Januari 1855, dalam usia 70 tahun. 

Setelah perang Diponegoro usai, pembangunan gedung dilanjutkan dan selesai pada 1832. Kediaman Residen Belanda ini ambruk ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta pada 10 Juni 1867. Kemudian didirikan bangunan baru dan selesai dibangun pada 1869. Bangunan inilah yang menjadi gedung utama istana Kepresidenan.

Kompleks istana ini dibangun di atas lahan 43.585 meter persegi di dekat museum benteng Vredeburg, di pusat kota Yogyakarta. Di bagian depan kanan gedung utama terdapat Ruang Jenderal Soedirman. Di ruang inilah Panglima Besar Soedirman berpamitan kepada Presiden Soekarno untuk meninggalkan kota untuk memimpin perang gerilya melawan penjajah Belanda.

Pada 3 Juni 1947 ia dilantik sebagai Panglima Besar TNI juga di gedung ini. Panglima Besar TNI pertama ini wafat pada 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun. Di bagian kiri gedung utama terdapat ruang Pangeran Diponegoro.

Gedung induk kompleks istana Kepresidenan juga disebut ruang Garuda untuk menyambut para tamu negara. Di sinilah Kabinet Republik Indonesia dilantik ketika ibu kota negara pindah ke Yogyakarta.

Selain gedung utama, ada pula Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, dan Wisma Saptapratala. Setiap Wisma itu masing-masing digunakan untuk menginap para Menteri, para tamu negara, ajudan, serta dokter pribadi Presiden dan tamu negara.

Di kompleks ini terdapat gedung Seni Sono untuk menonton pertunjukan seni bagi masyarakat Yogyakarta. Pada 20 September 1995 gedung yang semula milik Departemen Penerangan ini kemudian menjadi bagian dari istana Kepresidenan.

Saya datang ke Gedung Agung di Yogyakarta ini pada 16 Juni 2015, menjelang bulan puasa pada 18 Juni 2015.

Minggu, 14 Juni 2015

Roemahkoe Heritage Hotel di Solo


Solo, 14 Juni 2015 : Laweyan sejak seabad yang lalu sampai sekarang dikenal sebagai pusat pembuatan batik di Solo. Banyak saudagar batik tinggal di kecamatan ini, salah satunya adalah Pusposumarto.

Rumahnya yang dibangun pada 1938 kemudian dibeli oleh Krisnina Maharani (baju putih), istri politisi Akbar Tandjung, pada 1997.

Rumah di atas lahan 2000 meter persegi ini kemudian dijadikan hotel pada 2000.

“Tidak ada bangunan yang diubah, semua masih seperti aslinya. Hanya fungsi ruangannya saja yang diubah, dari kamar pribadi menjadi tempat menginap para tamu. Hampir semua mebelnya juga asli,” cerita Nina Tandjung di Roemahkoe, nama hotelnya di Jalan DR. Radjiman 501. 

Di belakang hotel yang memiliki 14 kamar ini terdapat sebuah jalan kecil di mana kita dapat melihat para pengrajin melukis berbagai motif batik.

Pintu masuk. "Rumah tempo dulu sangat mengindahkan iklim dan karakter lokal masyarakat. Pertahankan bangunan tua di kota anda, sebab dari bangunan itu kita punya sejarah masa lampau yang sesungguhnya membelajarkan kepada kita kedepan," jelas Nina Tanjung.



Lobi. Lobi hotel yang sangat kental dengan nuansa arsitektur Jawa.
Dinding-dinding hotel ini dihias lukisan, cermin, dan pernak-pernik lain bernuansa etnik Jawa klasik. Salah satu dindingnya dihias 30 piring keramik yang masing-masing dihias lukisan seorang dewa pelindung bagi setiap wuku. Wuku adalah waktu di mana sistem perhitungan pancawara (pasaran) dan saptawara (pekan) bertemu.

Pancawara terdiri dari lima hari (Paing, Pon, Wage, Kliwon dan Legi) dan saptawara terdiri dari tujuh hari. “Ini zodiak versi Jawa,” ujar Nina yang lahir di Solo dan pada 10 Mei 2015 meluncurkan buku karyanya, Keraton Kasunanan Kisah Kebangsaan Dari Solo.

Wuku. "Ini horoskop atau zodiac Jawa yang lazim disebut wuku.. dan populer menjadi primbon. yang jelas ini bukan ramalan watak tapi informasi kitab Jawa tentang watak manusia berdasarkan tanggal kelahiran (wuku)" (Nina Tanjung).



Sambutan ramah khas putri Solo. Para tamu yang lahir pada tahun 1920 -1930an ini disambut ramah oleh pemilik hotel.

Reunian kawan lama. Nina Tanjung bersama penulis.
Pada dinding lain dihias foto-foto peristiwa bersejarah dan tokoh-tokoh seperti Presiden Sukarno dan Kyai Haji Samanhudi, pendiri Sarekat Dagang Islam yang lahir di Laweyan pada 1868.

Organisasi ini membela kepentingan pedagang batik pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh pemerintah kolonial Belanda. Sarekat Dagang Islam berkembang pesat ke berbagai daerah dan berubah menjadi Sarekat Islam. Haji Oemar Said Tjokroaminoto kemudian bergabung menjadi tokoh Sarekat Islam yang dikenal gigih melawan penjajah Belanda.

Foto dan pengarah gaya : Endro S. Markam.

Keraton Kasunanan Kisah Kebangsaan dari Solo : Buku


Solo, 14 Juni 2015 : Pangeran Mangkubumi marah kepada Pakubuwana II karena ‘menyerahkan’ masa depan keraton Kasunanan di Sala kepada VOC. Ia pindah dari Sala (Solo) dan menyatakan diri sebagai Raja di Kota Gede.

Pada 1755 dibuat Perjanjian Giyanti yang salah satu isinya: Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai Sultan Hamengkubuwana I di atas separuh kerajaan Mataram.

Setelah perjanjian Giyanti, perang di Mataram terus berlanjut. Raden Mas Said, menantu Pangeran Mangkubumi, menuntut untuk menjadi penguasa sebagaimana Hamengkubuwana I menjadi Sultan Yogya. 

Keraton Kasunanan Solo. Penulis bersama  dua penjaga pintu Keraton Kasunanan, Solo.

Museum Keraton Kasunanan. "Gusti Ratih bade tindak Pasar Gede, nitih andong keraton."
Kota Solo dan Naik Becak. "Ndak pundi mbak ayu bade tindak pundi
Kok dingaren tindak wae ora numpak taksi
Dewekan opo ora wedi Timbang nganggur kulo gelem ngancani
Kleresan mas alias kebetulan
Blanjane akeh rodo kabotan
Yen purun enggal-enggal ngrencangi
Tekan ngomah mangke kulo upahi" (Lirik : Manthous).
Pada 1757 dibuat Perjanjian Salatiga yang menjadikan Raden Mas Said mendapat hak untuk menguasai sebagian wilayah Surakarta. Ia mendapat gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara I.

Semua perjanjian-perjanjian itu dibuat dengan campur tangan VOC. Dengan demikian di tangan VOC, dinasti Pakubuwana mewujud menjadi tiga:

1. Keraton Kasunanan di desa Sala (Surakarta) dengan pemimpinnya yang disebut Sunan atau Susuhunan Pakubuwana.
2. Keraton Kasultanan yang dipimpin Sultan Hamengkubuwana. Lebih populer disebut Keraton Ngayogyakarta atau Keraton Yogyakarta.
3. Kadipaten Mangkunegaran yang wilayah kekuasaannya lebih kecil daripada Kasunanan Surakarta.

Kenangan tanda tangan penulis dan cerita nostalgia. Halaman judul buku Keraton Kasunanan Kisah Kebangsaan dari Solo karya Krisnina Maharani Akbar Tandjung yang menjadi sumber rujukan tulisan di blog ini. Terbit 10 Mei 2015. Nina juga menulis buku House of Solo dan Jejak Gula, Warisan Industri Gula di Solo. "Ratih..adalah teman lamaku yang barangkali 10 tahun ga ketemu.. sejak lulus di FISIP UI. aku kehilangan kontak sama Ratih. Tahu tahu pas di Solo Ratih berada di sebelah meja makanku walau berada agak jauh. Atas jasa seorang pelayan restoran sambil menanyakan kebenaran nama Ratih,, maka bertemulah kami.. Alhamdulilah.. Kami sering bersama kalau berangkat ke Rawamangun tempat kampus kami sebelum di Depok. Ratih.. is really cool smart n work hard." (Nina Tanjung).


 Fotografer dan Pengarah Gaya: Endro S. Markam