Tampilkan postingan dengan label Henk Ngantung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Henk Ngantung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2020

Tugu Selamat Datang


Setelah Perang Dunia II beberapa negara di Asia memperoleh kemerdekaannya. Negara-negara baru itu ingin memperkuat saling pengertian melalui olahraga. Mereka sepakat Asian Games diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Asian Games pertama diadakan di New Delhi, India, pada 1951.

Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-empat yang diselenggarakan pada 24 Agustus - 4 September 1962 di Jakarta. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah ditentukan oleh hasil voting Dewan Federasi Asian Games di Tokyo pada 23 Mei 1958. Sejak itu Indonesia mempersiapkan pelaksanaan Asian Games. Bagi Presiden Soekarno pesta olahraga ini merupakan harga diri dan martabat negara kita di mata dunia.

Stadion Utama ditancapkan tiang pancangnya oleh Presiden Soekarno disaksikan Wakil Perdana Menteri Uni Soviet, Anastas Mikoyan, pada 8 Februari 1960. Stadion ini merupakan pinjaman lunak dari pemerintah Uni Soviet. Stadion Renang berkapasitas delapan ribu penonton selesai dibangun pada Juni 1961. Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai dibangun 25 Desember 1961. Kemudian dibangun Stadion Madya, Istora (Istana Olahraga), gedung bola basket, dan sebagainya. Begitu pula gedung TVRI, stasiun televisi pertama di Indonesia, selesai dibangun dan diresmikan pada 24 Agustus 1962.

Presiden Soekarno juga membangun jembatan Semanggi dan tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (kini Kempinski). Tugu Selamat Datang didirikan sebagai penyambut kedatangan para tamu dan peserta Asian Games. Di puncak tugu itu terdapat patung pemudi membawa bunga dan patung pemuda yang melambaikan tangan sebagai tanda selamat datang, menghadap ke arah bandara internasional di Kemayoran. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui Kemayoran dan langsung menuju ke Hotel Indonesia. Jadi mereka melihat tugu Selamat Datang di depan hotel yang pada waktu itu satu-satunya hotel di Jakarta.

Presiden Soekarno meminta Henk Ngantung, seniman yang juga Wagub Jakarta, untuk mendesain tugu Selamat Datang. Pembuatnya adalah sebuah tim pematung yang dipimpin Edhi Sunarso. Tinggi patung ini lima meter dengan tiang penyangga sepuluh meter. Tugu Selamat Datang diresmikan Presiden Soekarno pada 1962.


Kamis, 26 Juli 2018

Monumen Pembebasan Irian Barat






Meski sudah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kedaulatan Republik Indonesia baru diakui pada 1949 setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Delegasi Indonesia ke KMB dipimpin oleh Drs.Mohammad Hatta pada 23 Agustus - 2 November 1949. Tapi Belanda mengulur-ulur waktu untuk menyerahkan Irian Barat (kini Papua) ke pangkuan Republik Indonesia. Untuk merebut Irian Barat dari penjajah Belanda Presiden Soekarno membentuk Komando Trikora (Tri Komando Rakyat). Pada 1962 Irian Barat berhasil dikembalikan ke pangkuan ibu pertiwi. Komodor Josaphat Soedarso gugur dalam usia 36 tahun pada peristiwa merebut Irian Barat dari Belanda.


Monumen Pembebasan Irian Barat didirikan untuk mengenang para pejuang Trikora dan masyarakat Irian Barat yang memilih menjadi bagian dari NKRI. Irian singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland. Patung di atas tugu itu setinggi sembilan meter, kedua tangannya ke atas dengan mulut terbuka seolah-olah berteriak: “Merdeka!” Borgol rantai di kedua tangan dan kakinya terlepas sebagai lambang kemerdekaan. Berat patung perunggu ini sekitar delapan ton. Ide membuat patung ini datang dari Presiden Soekarno, sktesanya dibuat oleh Henk Ngantung, dan dikerjakan oleh pematung Edhi Sunarso.
Monumen Pembebasan Irian Barat didirikan tepat di tengah lapangan Banteng, di seberang gedung Kementerian Keuangan, Jakarta. Pada zaman kolonial Belanda gedung Kemenkeu ini berfungsi sebagai istana Daendels pada permulaan abad ke-19. Gedung yang dicat serba putih ini dikenal dengan nama Witte Huis atau White House.
 
Berita Repulika co.id pada 10 Agustus 2017 menyebutkan, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama merencanakan revitalisasi kawasan lapangan Banteng ini dengan dana CSR dari PT Rekso Nasional Food.Tapi sebelum rencananya terwujud, ia dipenjara di Mako Brimob, Depok, pada 9 Mei 2017. Pada 14 Oktober 2017 para pendukungnya berkumpul di lapangan Banteng untuk mengenang jasa-jasanya selama menjadi pelayan warga Jakarta.