Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makassar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Agustus 2021

Janji Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia


J
epang yang harus menghadapi Sekutu membutuhkan kerja sama yang erat dengan rakyat Indonesia. Mereka ingin mendapatkan simpati dan dukungan dari rakyat Indonesia yang bersikap memusuhi mereka. Caranya dengan mempercepat pemberian konsesi pada usaha kemerdekaan Indonesia. Pada 7 September 1944 di Tokyo diumumkan janji bahwa Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Hari baik, tanggal baik, akan ditentukan kemudian. Untuk itu disiapkan badan baru bernama Jawa Hokokai. Badan itu dipimpin Soekarno dan akan bekerja sebagai aparat pemerintahan yang pertama.

Pada Februari 1945 tentara Amerika dipimpin Jenderal Douglas MacArthur mengalahkan tentara Jepang di Filipina. Setiap jengkal kekalahan Jepang menambah semangat bangsa kita menuju kemerdekaan. Pada Maret 1945 Soekarno dan Hatta terbang ke Makassar untuk pembicaraan tingkat tinggi mengenai bagaimana kelak bentuk negara Indonesia. Jepang mengusulkan bentuk monarki. “Seperti kunjungan Tuan baru-baru ini ternyata rakyat Bali menghendaki Kerajaan. Rakyat mendesak agar Soekarno menjadi Raja dari Indonesia,” kata para pembesar Jepang kepada Soekarno.

“Saya sudah berjanji kepada para pengikut saya sejak 1926. Sejak awal saya sudah berjanji bahwa kami tidak akan mendirikan negara yang berbentuk kerajaan. Saya selalu menentang segala macam bentuk selain negara Republik,” jawab Soekarno tegas.

Hatta yang mendampingi Soekarno dengan baik selama Masa Pendudukan pada saat itu merasa bahwa perjuangan mereka sudah mendekati kemenangan. Karena itu Hatta kembali kepada gagasan awalnya yaitu bentuk Negara Serikat. Soekarno menghendaki Negara Kesatuan, Hatta menginginkan beberapa negara. Soekarno menyadari, inilah akhir dari kerja sama dwi-tunggal. Mereka tidak lagi menjadi dua tokoh dalam satu barisan.

Selama lima hari Soekarno dan Hatta di Makassar, kota itu dibom 22 kali. Sirene meraung-raung setiap lima belas menit. Para tentara Sekutu rupanya tahu bahwa Soekarno berada di sana. Mereka menganggap Soekarno sebagai penjahat perang. “Selama lima hari penuh aku disembunyikan di lubang perlindungan di bawah tanah yang menjadi sarang nyamuk dan serangga lainnya. Gigitan nyamuk membuatku terkena malaria. Penyakit itu timbul sekali dua hari dan rutin menyerangku. Aku merasakan badanku sehat selama setengah tahun, kemudian penyakit itu timbul lagi. Aku sehat lagi selama tiga bulan, lalu terbaring kembali di tempat tidur. Delapan tahun aku menderita malaria silih berganti,” cerita Soekarno kepada Cindy Adams, penulis biografinya.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta ada dua pesawat tempur kecil yang melindungi Soekarno dan Hatta. Tetapi pesawat terbang Sekutu terus membuntuti setiap menit. Enam pesawat Amerika melayang-layang di atas pesawat mereka selama penerbangan pulang. Ketika pesawat yang ditumpangi Soekarno dan Hatta berada di atas pulau Jawa, keenam pesawat itu memotong jalan mereka. “Pesawat kami terbang sangat rendah sampai hampir menyentuh pucuk pohon kelapa,” kata Soekarno.

Pada 1 April 1945 tentara Amerika mendarat di Okinawa, Jepang. Pada 29 April Kaisar Jepang menyetujui pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). “Jelaslah sekarang tidak ada lagi yang dapat menghentikan gerakan kami,” kata Soekarno.

Pada 28 Mei 1945 BPUPKI mengadakan sidang untuk membahas tata pemerintahan, ekonomi, politik, dan hal-hal penting lainnya yang diperlukan untuk pembentukan negara Indonesia merdeka.

Jumat, 09 Maret 2018

Keturunan Pangeran Diponegoro



Jauh ramai
Tempat yang terkiri
Makam Diponegoro
Pahlawannya sejati
Membela bangsa kita
Pahlawan yang berhati suci

Itulah nyanyian rakyat tentang Diponegoro yang populer pada zaman Kebangkitan Nasional (1908 – 1942) dan Orde Lama (1945 – 1966).


Perlawanan Pangeran Diponegoro sangat gigih melawan Belanda. Penjajah Belanda sangat sulit menangkapnya. Akhirnya dengan cara yang licik Belanda berhasil menangkapnya dan membuangnya ke Sulawesi Selatan. Ia menghabiskan sisa hidupnya di balik tembok benteng di Makassar.

Pada akhir 1848 ia meminta kepada Gubernur berkebangsaan Belanda agar diizinkan bertemu lagi dengan kedua putranya, Pangeran Dipokusumo dan Raden Mas Raib yang telah dibuang ke Ambon. Ia juga mencemaskan nasib putera sulungnya, Pangeran Diponegoro II, yang berada dalam pengasingan di Sumenep. Namun permintaan mantan pemimpin Perang Jawa itu tidak dikabulkan.
Keturunan Pangeran Diponegoro berserakan, terpisah, dan tidak pernah saling mengenal karena jarak dan waktu. Mereka saling mencari sampai akhirnya Allah mengizinkan mereka bertemu di bekas kediaman Kanjeng Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta, pada 2012. Mereka bertemu 187 tahun setelah kediaman itu dibumihanguskan Belanda.

Ini cerita Ki Roni Sadewo, keturunan ke-tujuh Pangeran Diponegoro, seperti yang ditulis oleh sejarawan asal Inggris Peter Carey:
Kanjeng Pangeran Diponegoro mewariskan kebanggaan tersendiri. Dalam tubuh kami mengalir darah seorang pejuang yang kegigihannya diakui musuh-musuhnya. Tetapi dalam kebanggaan itu juga melekat beban dan tanggung jawab untuk menjaga nama baik beliau.
Penangkapan dan pembuangan Pangeran Diponegoro (1830 – 1855) menyisakan penderitaan yang dalam pada ibu, istri-istri, putra-putri, dan generasi penerusnya. Keturunan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa mengalami penderitaan panjang dengan menyandang stempel keturunan pemberontak yang terus dikejar-kejar penjajah Belanda, kesultanan, dan kasunanan. Mereka hidup bagai binatang di dalam hutan yang selalu menjadi buruan dan terpaksa melepas segala gelar keningratan, menjadi rakyat biasa sambil terus melakukan perlawanan.
Nasib keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro di pembuangan tidak kalah menyakitkan. Mereka hidup di tanah asing dan tak pernah diizinkan kembali ke tanah nenek moyang di Jawa sampai menjelang kemerdekaan.
Sumber: biografi Pangeran Diponegoro 'Takdir' karya Peter Carey