Tampilkan postingan dengan label Peter Carey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peter Carey. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2020

Banteng dan Harimau


Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880) adalah sosok penting dalam sejarah seni rupa Indonesia dan dunia. Ia menguasai teknik seni lukis modern. Beberapa karya lukisnya menggambarkan pertarungan harimau (macan) dan banteng. Pada 1800an di Jawa kerap diadakan adu harimau dan banteng (dalam bahasa Jawa disebut bantheng; kebo). Pertarungan dua hewan ini adalah hiburan dari keraton dalam upacara seremonial menyambut tamu pejabat dari Eropa, terutama Gubernur Jenderal. Pertarungan ini merupakan sebuah simbol. Ketika orang Jawa tidak lagi bisa benar-benarmengalahkan orang Eropa dalam pertempuran terbuka, adu harimau dan banteng dianggap sebagai bentuk perjuangan pengganti. Orang Jawa menganggap orang asing sebagai harimau yang gesit, mematikan, tetapi tanpa daya tahan. Sedangkan orang Jawa menganggap dirinya sendiri sebagai banteng yang kuat, menahan diri, dan hampir selalu berhasil. Itu sebabnya pertunjukan ini menarik ditonton masyarakat Jawa pada waktu itu. Kalau harimau berhasil memenangkan pertarungan maka orang Jawa akan berspekulasi bahwa Raja akan dikalahkan oleh penjajah asing.
Sumber: buku Inggris di Jawa 1811 – 1816 karya Peter Carey




Rabu, 15 April 2020

Asmara Ratu Kidul dan Raja-raja Jawa



Ratu Kidul adalah seorang putri Raja Pajajaran. Nama aslinya Dewi Retno Suwido. Ia adalah dewi pelindung kerajaan Mataram dan istri gaib para raja. Dalam Babad Tanah Jawi Panembahan Senopati (1584 – 1613) dan Sultan Agung (1613 – 1646) dikisahkan berangkat dari Parangtritis menemui Sang Ratu di istana di bawah laut yang hanya dihuni roh halus. Mereka bersetubuh. Hubungan intim dan istimewa raja pendiri Mataram dan Sang Ratu membawa kerajaan ke puncak kejayaannya pada awal abad ke-17 pada pemerintahan Sultan Agung, cucu Senopati.

Ratu Kidul merupakan penjelmaan Dewi Uma dan Batari Durga. Sebagai Batari Durga, ia bisa menimbulkan bencana dan penghancuran besar-besaran. Sementara sebagai Dewi Uma, ia bisa membawa perlindungan dan kemakmuran. Untuk mendapatkan jaminan perlindungan dari Sang Ratu dan memperkuat pertalian gaib keraton dan istana di bawah laut, setiap tahun diadakan upacara khusus di Parangtritis yang dinamakan labuhan (lepas ke laut).

Di Yogyakarta sesajen labuhan berupa kain parang rusak awisan-Dalem dan batik pola hijau-putih gadung mlati, dengan kemben hijau (kain cangkring, sumekan gadung) warna favorit Sang Ratu. Batik ini dipakai penari di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta dalam tarian suci Bedoyo Ketawang (Kesunanan) dan Bedoyo Semang (Kesultanan) untuk mengundang roh halus Ratu Kidul agar bersetubuh dengan Sang Raja.

Sesajen itu dilabuh ke laut kidul yang berombak tinggi dengan menggunakan rakit. Sewaktu arus bawah laut membawa sesajen itu ke laut lepas, sesajen yang lebih intim dari para raja, seperti gunting kuku dan rambut, dipendam di pasir hitam di pantai Parangtritis di atas garis air. Ketika upacara labuhan berlangsung di pantai selatan, utusan lain dari keraton bersilang dari Yogyakarta ke gunung Merapi di arah utara dan dari Surakarta ke gunung Lawu di arah timur untuk membawa sesajen ke dewa pelindung, yaitu Kyai Sapu Jagad di gunung Merapi dan Kyai Tunggul Wulung di gunung Lawu. Tujuannya agar keseimbangan kosmik bumi dan air bisa dipertahankan.

Di Surakarta tarian paling penting untuk menghormati dewi laut selatan adalah Bedoyo Ketawang, tarian klasik yang menampilkan sembilan penari, semua putri belia bangsawan atau keturunan raja. Koreografi tarian mengisahkan pertemuan Ratu Kidul dan Senopati. Sang Ratu diberi sesajen berupa pakaian dengan pola batik dan makanan khas kesukaannya. Bila tarian dilaksanakan dengan tepat yaitu penarinya bersih jasmani (tidak sedang menstruasi) dan hatinya tenang, Sang Ratu biasanya muncul dengan merasuki tubuh salah seorang penari. Sang penari yang kerasukan dibawa ke Proboyekso (kediaman pribadi raja) di mana putri belia itu disetubuhi oleh Susuhunan dalam suatu ritual yang mengingatkan rayuan asmara antara Senopati dan Ratu Kidul.

Raja bisa melihat siapa penari putri yang harus diambil, sebab ada semacam cahaya kehijau-hijauan yang menyala redup dari vaginanya, sesuatu yang mengingatkan kita pada simbol ‘gua garba yang bercahaya’ seorang Ken Dedes atau Putri Pajajaran.



Sumber: Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX karya Peter Carey dan Vincent Houben


Minggu, 03 Februari 2019

Peter Carey

Ratih Poeradisastra dan Peter Carey

Peter Carey adalah sejarawan asal Inggris yang telah lebih dari tiga puluh tahun meneliti mengenai Perang Diponegoro atau dikenal dengan nama Perang Jawa. Ia menulis biografi Sang Pangeran  berjudul ‘Takdir. Riwayat Pangeran Diponegoro’.  Ia penah mengajar di universitas Oxford dan kini mengajar di Fakultas Ilmu Budaya UI.


Saya pertama kali berkenalan dengan Peter Carey di kantor penerbit Kompas Gramedia ketika saya mengurus penerbitan biografi Soetaryo Sigit yang baru selesai saya tulis.  Beberapa hari setelah  pertemuan itu ia mengirim buku-buku karyanya ke rumah saya. Saya bertemu beliau lagi di Galeri Cemara, Jakarta, ketika saya mendengarkan ceramahnya mengenai ‘Korupsi di Indonesia Sejak Zaman Kolonial sampai Reformasi’. Pertemuan berikutnya terjadi pada acara pembukaan Museum Multatuli di Rangkasbitung pada 11 Februari 2018.  Dari pembicaraan selintas dengan beliau dan dari buku-buku karyanya terasa bahwa ia sangat mencintai Indonesia.

Ratih Poeradisastra dan Peter Carey 
pada acara pembukaan museum Multatuli
di Rangkasbitung pada 11 Februari 2018.
Untuk hadiah ulang tahunnya yang ke-70 diterbitkan buku Urip iku Urub yang berisi tulisan-tulisan beberapa orang yang mengenalnya dengan dekat. Pria yang selalu berkemeja batik ini juga menulis sedikit kisah hidupnya di buku itu. Dalam bahasa Jawa Urip iku Urub artinya hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain.

Ini adalah pesan dari Peter Carey untuk kita sebagai bangsa Indonesia dalam buku Urip iku Urub:
“Ada estimasi bahwa 90 persen karya tulis ilmiah tentang Indonesia yang dipublikasikan di luar negeri justru disusun oleh mereka yang tinggal di luar Indonesia yang sebagian besar tentunya adalah orang asing atau orang Indonesia yang sudah lama bermukim di luar negeri dan menjadi WNA (Warga Negara Asing). Jika angka itu benar, maka Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang paling kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri kepada dunia luar. Situasi semacam itu tidak baik untuk Indonesia pada masa mendatang. Padahal ramalan ekonomi terkini dari McKinsey Global Institute adalah Indonesia akan bergerak dari kekuatan ekonomi dunia terbesar ke-16 menjadi yang ke-tujuh pada 2030.

Jadi istilah ‘Jasmerah’ (Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah’) yang diungkapkan Presiden Soekarno dalam pidato 17 Agustus 1966  kini semakin memperlihatkan kebenarannya. Tanpa cinta dan penghargaan kepada sejarahnya sendiri, Indonesia akan terpecah dan orang-orang Indonesia akan ditakdirkan hidup terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu jati diri mereka yang sebenarnya.”


Minggu, 22 April 2018

Nyi Ageng Serang



Nyi Ageng Serang berasal dari Jawa Tengah, bukan dari Jawa Barat. Jauh sebelum RA Kartini lahir pada 21 April 1879,  telah lahir Raden Ayu Serang yang lebih dikenal sebagai Nyi (Nyai) Ageng Serang pada 1762 di Serang, 40 kilometer di utara Surakarta, dekat Purwodadi, di tepi sungai Serang. 

Wilayah Serang diberikan oleh kerajaan Pajang kepada Sunan Kalijogo dan keturunannya pada abad ke-16. Mereka berhak memakai gelar Raden atau Pangeran. Meski banyak yang bergelar bangsawan tetapi mereka bekerja sebagai petani biasa. 

Nyi Ageng Serang adalah anak Pangeran Ronggo, keturunan Wali Songo.  Pada 1778 sewaktu Nyi Ageng Serang masih berusia 16 tahun ia bersama keluarga Pangeran Ronggo pergi ke keraton Yogyakarta. Putra Mahkota yang kelak menjadi Hamengku Buwono II jatuh hati kepada Nyi Ageng Serang. Perkawinan mereka tidak berlangsung lama. Pada 1787 mereka berpisah. Nyi Ageng Serang menikah lagi dengan pria yang jauh lebih tua, Pangeran Serang I, yang masih kerabat  keluarga Sunan Kalijogo.

Nyi Ageng serang dan putranya, Pangeran Serang II, memimpin 500 pasukan di kawasan Serang –Demak melawan Belanda pada Perang Jawa (Perang Diponegoro). Nyi Ageng Serang dan putranya serta cucunya, Raden Mas Papak, menyerah kepada Belanda pada 21 Juni 1827.  Raden Mas Papak banyak dipakai Belanda untuk membujuk para komandan pasukan Diponegoro untuk berdamai dengan Belanda. 

Setelah Perang Jawa berakhir pada 28 Maret 1830 Nyi Ageng Serang memiliki pengaruh penting pada perubahan daerah asalnya di Serang-Demak. Ia dikenal sebagai pejuang dan mashur sebagai anggota keluarga Sunan Kalijogo yang dimuliakan. Pada April 1830 Nyi Ageng Serang kembali ke Keraton Yogyakarta kemudian pada pertengahan 1830 ia ikut Raden Mas Papak pindah ke Ungaran.
Keluarga Sunan Kalijogo dianggap sakti. Sosok Sang Wali sangat dimuliakan di Jawa Tengah selatan. Sunan Kalijogo menjadi penasehat para raja dan pelindung kerohanian bagi Mataram. Setelah wafat ia masih sering hadir lewat penampakan kepada anggota keluarga kerajaan dan rakyat biasa. Para raja Jawa menganggap makam Sang Wali di Kadilangu dan masjid Agung Demak sebagai dua pusaka Jawa terpenting penyelamat keutuhan pulau. Berziarah lima kali ke Demak dianggap setara dengan satu kali naik haji ke Mekah.

Nyi Ageng Serang meninggal pada  10 Agustus 1855 dalam usia 93 tahun. Ia hidup lebih lama daripada anaknya, Pangeran Serang II, dan cucunya, Raden Mas Papak, dan kerabatnya, Pangeran Diponegoro. Ketika perempuan perkasa itu wafat penguasa Belanda di Yogyakarta menjadi lega. Ia diawasi ketat oleh penjajah Belanda selama dua dasa warsa terakhir kehidupannya. Perempuan perkasa ini dimakamkan di Kulonprogo, Jawa Tengah. Di Wates, ibu kota kabupaten Kulonprogo, didirikan patung Nyi Ageng Serang menunggang kuda.

Sumber: buku Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII – XIX karya Peter Carey dan Vincent Houben

Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad ke-18 dan 19


Para perempuan priayi dan perempuan keluarga keraton di Jawa Tengah selatan sudah menikmati kesempatan bertindak dan mengambil inisiatif pribadi sebelum  RA Kartini lahir. Peran mereka lebih luas daripada para perempuan yang hidup pada akhir abad ke-19, pada zaman Raden Ajeng Kartini (1879 – 1904). Jejak mereka bahkan menembus bidang militer dan politik. 

Pada zaman Pakubuwono V (1820 – 1823) ada Korps Srikandi Surakarta. Empat puluh perempuan dengan sebilah keris diselipkan di ikat pinggang mereka, masing-masing memegang pedang atau senapan. Mereka duduk berbaris di bawah takhta Sunan. Mereka adalah pasukan kawal yang mengagumkan.

Raden Ayu Yudokusumo adalah putri Sultan Hamengkubuwono Pertama. Ia adalah salah satu dari beberapa panglima kavaleri senior Pangeran Diponegoro. Perempuan ahli siasat  ini kemudian bergabung dengan Raden Tumenggung Sosrodilogo di Jipang Rajegwesi melawan Belanda pada 28 November 1827 sampai 9 Maret 1828. Ketika ia dan Sosrodilogo menyerah kepada Belanda pada Oktober 1828 ia bersama keluarga besarnya menggunduli rambutnya sebagai lambang kesetiaan pada perang sabil melawan kafir Belanda dan orang Jawa ‘murtad’ sekutu Belanda.

Peran perempuan di bidang bisnis sangat penting. Ratu Kencono Wulan (1780 – 1859), istri ke-tiga Sultan Hamengku Buwono II, berasal dari keluarga kelas bawah, pemilik kios di pasar Beringharjo. Sang Ratu menjelma menjadi first lady yang sangat rakus. Ia memanfaatkan posisinya untuk meminta bagian dari keuntungan setiap proyek.

Dalam sistem pendidikan Barat anak keraton ‘dipinjamkan’ kepada keluarga Indo-Belanda untuk membentuk karakter dan memberi  pengetahuan kepada anak itu. Anak tidak lagi diasuh oleh  perempuan yang lebih tua di kerajaan. Sistem pendidikan Barat  ini  merusak pengaruh perempuan keraton dan masyarakat Jawa pada umumnya. Kolonialisme dan Islam memengaruhi pola asuh seperti ini. Sejarawan asal Inggris Peter Carey dan Vincent  Houben menceritakannya dalam buku karyanya ini.

Jumat, 09 Maret 2018

Keturunan Pangeran Diponegoro



Jauh ramai
Tempat yang terkiri
Makam Diponegoro
Pahlawannya sejati
Membela bangsa kita
Pahlawan yang berhati suci

Itulah nyanyian rakyat tentang Diponegoro yang populer pada zaman Kebangkitan Nasional (1908 – 1942) dan Orde Lama (1945 – 1966).


Perlawanan Pangeran Diponegoro sangat gigih melawan Belanda. Penjajah Belanda sangat sulit menangkapnya. Akhirnya dengan cara yang licik Belanda berhasil menangkapnya dan membuangnya ke Sulawesi Selatan. Ia menghabiskan sisa hidupnya di balik tembok benteng di Makassar.

Pada akhir 1848 ia meminta kepada Gubernur berkebangsaan Belanda agar diizinkan bertemu lagi dengan kedua putranya, Pangeran Dipokusumo dan Raden Mas Raib yang telah dibuang ke Ambon. Ia juga mencemaskan nasib putera sulungnya, Pangeran Diponegoro II, yang berada dalam pengasingan di Sumenep. Namun permintaan mantan pemimpin Perang Jawa itu tidak dikabulkan.
Keturunan Pangeran Diponegoro berserakan, terpisah, dan tidak pernah saling mengenal karena jarak dan waktu. Mereka saling mencari sampai akhirnya Allah mengizinkan mereka bertemu di bekas kediaman Kanjeng Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta, pada 2012. Mereka bertemu 187 tahun setelah kediaman itu dibumihanguskan Belanda.

Ini cerita Ki Roni Sadewo, keturunan ke-tujuh Pangeran Diponegoro, seperti yang ditulis oleh sejarawan asal Inggris Peter Carey:
Kanjeng Pangeran Diponegoro mewariskan kebanggaan tersendiri. Dalam tubuh kami mengalir darah seorang pejuang yang kegigihannya diakui musuh-musuhnya. Tetapi dalam kebanggaan itu juga melekat beban dan tanggung jawab untuk menjaga nama baik beliau.
Penangkapan dan pembuangan Pangeran Diponegoro (1830 – 1855) menyisakan penderitaan yang dalam pada ibu, istri-istri, putra-putri, dan generasi penerusnya. Keturunan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa mengalami penderitaan panjang dengan menyandang stempel keturunan pemberontak yang terus dikejar-kejar penjajah Belanda, kesultanan, dan kasunanan. Mereka hidup bagai binatang di dalam hutan yang selalu menjadi buruan dan terpaksa melepas segala gelar keningratan, menjadi rakyat biasa sambil terus melakukan perlawanan.
Nasib keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro di pembuangan tidak kalah menyakitkan. Mereka hidup di tanah asing dan tak pernah diizinkan kembali ke tanah nenek moyang di Jawa sampai menjelang kemerdekaan.
Sumber: biografi Pangeran Diponegoro 'Takdir' karya Peter Carey