Tampilkan postingan dengan label Prof.Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prof.Komaruddin Hidayat. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juli 2020

Mengenakan Jubah Jabatan


Pesan dari Prof. Komaruddin Hidayat untuk para pejabat:

Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan
Jabatan bagi seseorang adalah amanah yang senantiasa harus dipertanggungjawabkan kepada Yang Maha Kuasa. Sebagai amanah atau titipan tentu harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Bila tidak dijalankan sebaik-baiknya, jabatan itu akan menjadi bumerang bagi diri kita, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
Menerima jabatan seharusnya jangan dilihat pada aspek prestisius atau tidak, basah atau kering. Jabatan seperti pakaian yang bisa kita kenakan setelah kita mengetahui ukurannya. Bila pakaian ukuran besar dikenakan orang yang bertubuh kecil, tentu akan terbayang hasilnya. Begitu pula sebaliknya. Bila pakaian berukuran kecil dikenakan  orang bertubuh besar tentu akan dirasakan sulit, bahkan menyiksa. Maka carilah pakaian yang pas dan sesuai dengan tubuh kita. Dengan demikian pakaian itu bisa menentramkan dan membahagiakan.
Jabatan bagai pakaian. Jika tidak cocok ukurannya, jangan dipaksakan. Karena tidak akan nyaman bagi pemakainya dan tidak enak bagi yang melihatnya.

Sumber: buku 250 Wisdoms.Membuka Mata, Menangkap Makna karya Prof. Komaruddin Hidayat

Rabu, 08 Juli 2020

Rezeki Halal


Ini tulisan menarik dari Prof. Komaruddin Hidayat mengenai rezeki halal:
Zumi Zola, Gubernur Jambi, yang terkena OTT (operasi tangkap tangan)
 oleh KPK  karena menerima suap.

Seorang kawan pernah bertanya, kenapa anak-anak menjadi nakal? Padahal secara materi anak-anak itu mendapat cukup fasilitas, pendidikan tinggi, kendaraan yang bagus, hingga uang jajan yang lebih dari cukup. Saya tidak mampu menjawab, tetapi kawan saya itu kemudian melanjutkan sendiri dengan gumam yang diiringi desah napas panjang. “Apakah semua ini karena harta yang aku berikan berasal dari jalan yang haram?”

Apakah susu dari hasil mencuri nilai gizinya dapat berkurang? Apakah vitamin yang ada dalam sesendok madu akan hilang karena mencuri? Pertanyaan ini mungkin memerlukan diskusi panjang. Saya meyakini bahwa gizi atau vitamin dan semacamnya adalah sebagian keberkahan. Bila keberkahan (blessing) dapat disebut sebagai suatu energi, energi itu dapat menjadi bentuk kekuatan dan kesehatan, semacam vitamin dan kandungan gizi. Mungkin susu halal dan haram yang diminum anak kita memiliki kandungan gizi yang sama. Tetapi hanya susu halal yang diperoleh dengan jalan halal yang mengandung keberkahan. Dari keberkahan itu lahirlah keselamatan dan kesalehan.

Perihal keberkahan dan api neraka yang menarik untuk dikaji adalah doa menjelang makan: “Ya Allah, berkahilah rezeki yang engkau berikan pada kami dan lindungilah kami dari api neraka.”
Bawalah selalu rezeki halal dan berkah untuk keluarga agar engkau tidak membawa api neraka ke dalam rumah.

Sumber: buku 250 Wisdoms. Membuka Mata, Menangkap Makna karya Prof. Komaruddin Hidayat

Kamis, 02 Juli 2020

Berbeda, Satu Tujuan


Kebenaran sejati ibarat cahaya yang tertangkap dan tersalur lewat lampu kristal. Mata menangkap cahaya itu penuh warna-warni karena perbedaan sudut pandang dan spektrum. Masing-masing mendapatkan warna cahaya tertentu dengan kesan tertentu. Padahal, hakikat cahaya itu satu, namun berada di balik keragaman warna.

Tuhan Maha Mutlak. Dia Tidak Terbatas! Bila Tuhan Mutlak dan Tidak Terbatas, tentu akan menampung segalanya. Termasuk perbedaan hamba-hambaNya yang sangat beragam ini. Aneh bila ada seorang yang sudah mencapai tingkatan tertinggi dalam wilayah spiritual lalu mengatakan bahwa hanya dirinya yang benar dan yang lain keliru, bahkan sesat. Bila dirinya mengaku – setidaknya – apa yang ia yakini sebagai yang paling benar, dirinya telah memproklamasikan menjadi Yang Mutlak. Bukankah ini kesombongan yang nyata?
Kebenaran seperti gelas yang utuh. Dan masing-masing kita hanya memiliki pecahan-pecahan dari gelas itu. Betapa indah bila masing-masing kita saling berpadu, mengumpulkan bersama puing-puing dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan itu menjadi satu kebenaran yang utuh. Dan sekali lagi, Tuhan tetap Tak Terbatas, sejak dulu, kini hingga kapan pun.

Sumber: buku 250 Wisdoms. Membuka Mata, Menangkap Makna karya Prof. Komaruddin Hidayat dalam


Mudik ke Kampung Illahi

Pulang adalah peristiwa yang membahagiakan. Ketika pulang dari kantor, sekolah, luar negeri, atau bahkan dari berbelanja, semua kita rasakan membawa kebahagiaan. Ini karena kita akan segera bertemu keluarga yang kita cintai. Begitu pun dengan kematian. Kematian adalah mudik besar ke kampung Ilahi untuk berjumpa Allah, Kekasih Tercinta. Bukankah ini juga satu peristiwa yang membahagiakan?
Bagi masyarakat yang lahir di kampung, lalu mengadu nasib di kota, tentu punya konsep tentang mudik. Satu momen untuk pulang kampung. Mudik ke kampung tidak selalu dilangsungkan ketika perayaan Idul Fitri. Akan tetapi, sesungguhnya kapan saja ketika si perantau merasa siap atau harus siap untuk pulang kampung. Bagi perantau yang sukses, tentu tidak ada rasa malu utnuk pulang. Bahkan mungkin ia pulang dengan penuh rasa bangga. Bagaimana tidak, ia akan mendapat banyak pujian dari tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Mungkin itu logika sederhana tentang konsep pulang.
Begitu pun dengan kematian. Sebagai persinggahan, hidup hanya sekedar pelabuhan untuk mengumpulkan perbekalan karena perjalanan mesti dilanjutkan. Kita semua harus melanjutkan ke tempat asal kita. Dan tempat asal kita adalah kampung Ilahi. Bila di tempat persinggahan kita terlena, kita akan terbelalak ketika terompet kapal di pelabuhan menyalak. Kita lalu tergopoh-gopoh untuk pulang. Jangankan ketenangan dan rasa bangga, bekal yang mana yang harus kita bawa pun belum bisa ditentukan. Semoga kita diberi hidayah untuk selalu mendapatkan bekal yang seharusnya. Semoga kita selalu siap untuk menerima panggilan ‘pulang’ dariNya meski kita tengah asyik dan betah menikmati panorama pelabuhan.
Sumber: buku 250 Wisdoms. Membuka Mata, Menangkap Makna karya Prof. Komaruddin Hidayat.

Rabu, 10 Juni 2020

Simbol-simbol Agama

Mengapa orang dengan begitu leluasa memasuki wacana keagamaan? Mengapa simbol keagamaan mudah dimanipulasi menjadi komoditas pers dan politik? Salah satu faktor penyebabnya adalah institusi dan ajaran agama tidak mengenal ‘lembaga litsus’ (penelitian khusus). Bahkan semua agama membuka pintu lebar-lebar dan selalu memanggil siapa pun yang hendak masuk ke dalamnya. Terlebih dalam Islam, karena tak ada lembaga kependetaan, maka praktis setiap muslim berhak dan merasa terpanggil menjadi penceramah agama. Sejarah menunjukkan, penyebaran Islam yang paling laten adalah disebarkan oleh pemeluknya meski mereka sangat awam pengetahuannya tentang Islam.
Tak adanya lembaga litsus dan hirarki struktural ini telah memungkinkan para politisi secara leluasa menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politiknya. Biasanya rakyat malah kagum jika ada pejabat yang tampak agamis, meski paham keagamaannya pas-pasan.
Bagi masyarakat awam, kerudung memiliki konotasi agamis. Begitu pula kopiah, baju koko, dan baju gamis, dan ucapan ‘salam’ dalam bahasa Arab. Begitu pentingnya simbol-simbol keagamaan dalam wacana politik, maka pidato yang tidak dibuka dengan salam akan dirasakan hambar oleh telinga masyarakat Islam Indonesia.
Wacana keagamaan di Indonesia tidak mungkin dilepaskan dari wacana politik. Sebab ini menjadi sajian yang menarik bagi komoditas informasi dengan bobot yang sangat marketable. Di wilayah Asia Tenggara pergumulan agama, politik, dan etnis akan semakin menarik untuk dicermati.
Bagi dunia pers, isu agama yan bernuansa politik sanggup mendongkrak oplah penjualan majalah. Makanya isu keagamaan dengan berbagai aktornya masuk ke dalam katalog bisnis informasi. Aktornya berada pada deretan selebriti yang dikejar media massa dan industri informasi, terutama televisi. Masyarakat rela mendengarkan para aktor agama berbicara dan berlaga. Hiruk pikuk keagamaan yang sarat muatan politik.
Lalu bagaimana sikap kita? Agama diwahyukan untuk manusia -bukan manusia untuk agama- maka salah satu ukuran baik-buruknya sikap hidup beragama adalah dengan menggunakan standar dan kategori KEMANUSIAAN, bukan ideologi dan sentimen kelompok.
Sumber: The Wisdom of Life, Menjawab Kegelisahan Hidup dan Agama karya Prof. Komaruddin Hidayat