Rabu, 10 Juni 2020

Empat Tokoh Tionghoa dalam BPUPKI

Ketika Soekarno merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ada empat tokoh Tionghoa dalam sidang BPUPKI, yaitu Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oey Tjong Hauw, dan Mr. Tan Eng Hoa.
Liem Koen Hian memperjuangkan agar warga Tionghoa peranakan bisa menjadi menjadi warga Negara Indonesia dan mengusulkan masuknya kebebasan pers dalam rancangan Undang-Undang Dasar.
Sementara Tan Eng Hoa mengusulkan pasal kemerdekaan berserikat masuk dalam Undang-Undang Dasar sehingga kemudian dirumuskan menjadi Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945.
Keterlibatan empat tokoh Tionghoa di dalam BPUPKI dimuat dalam ‘Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 Djilid Pertama’ karya Prof. Mr. Muhammad Yamin, 1959. Namun nama keempat tokoh Tionghoa ini dihilangkan dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia edisi ke-empat yang terbit pada 1984.
Sumber: Diskusi Publik ‘Peran Tionghoa dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Nasionalisme Indonesia’ yang diadakan Kecapi Batara pada 2 Juni 2018 di Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Jumat, 22 Mei 2020

Banteng dan Harimau


Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880) adalah sosok penting dalam sejarah seni rupa Indonesia dan dunia. Ia menguasai teknik seni lukis modern. Beberapa karya lukisnya menggambarkan pertarungan harimau (macan) dan banteng. Pada 1800an di Jawa kerap diadakan adu harimau dan banteng (dalam bahasa Jawa disebut bantheng; kebo). Pertarungan dua hewan ini adalah hiburan dari keraton dalam upacara seremonial menyambut tamu pejabat dari Eropa, terutama Gubernur Jenderal. Pertarungan ini merupakan sebuah simbol. Ketika orang Jawa tidak lagi bisa benar-benarmengalahkan orang Eropa dalam pertempuran terbuka, adu harimau dan banteng dianggap sebagai bentuk perjuangan pengganti. Orang Jawa menganggap orang asing sebagai harimau yang gesit, mematikan, tetapi tanpa daya tahan. Sedangkan orang Jawa menganggap dirinya sendiri sebagai banteng yang kuat, menahan diri, dan hampir selalu berhasil. Itu sebabnya pertunjukan ini menarik ditonton masyarakat Jawa pada waktu itu. Kalau harimau berhasil memenangkan pertarungan maka orang Jawa akan berspekulasi bahwa Raja akan dikalahkan oleh penjajah asing.
Sumber: buku Inggris di Jawa 1811 – 1816 karya Peter Carey