Masyarakat suku Dayak di pedalaman Kalimantan tidak tahu bahwa Indonesia sudah merdeka. Kalimantan (Borneo) pada waktu itu diduduki tentara Angkatan Laut Jepang, sementara Jawa dan Sumatera diduduki Angkatan Darat Jepang. Penjajah Jepang menyita dan merusak alat komunikasi berupa radio, dengan harapan masyarakat Kalimantan tidak mendengar berita dan terisolasi dari dunia luar. Namun para pejuang Indonesia berhasil menyelundupkan beberapa radio. Berita Jepang kalah perang dengan tentara Sekutu dan berita kemerdekaan Indonesia akhirnya diketahui masyarakat Kalimantan.
Pada 22 Agustus 1945 Presiden Soekarno menetapkan wilayah Indonesia menjadi delapan propinsi dengan ibukotanya: Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Semarang), Sumatra (Medan), Sulawesi (Makassar), Maluku (Ambon), Sunda Kecil (Singaraja), dan Borneo (Banjarmasin). Papua masih dijajah Belanda pada waktu itu.
Meski Indonesia sudah merdeka, namun tentara Australia sebagai tentara sekutu mendarat di Banjarmasin pada 17 September 1945. Sebanyak 160 tentara NICA (Nederlandsch Indische Civiele Administratie) ikut mendarat di sana. Pada 24 Oktober 1945 Panglima Tentara Australia Jenderal Sir Thomas Albert Blamey mengumumkan, Kalimantan dikembalikan kepada NICA. Dengan pengumuman itu Kalimantan yang kaya batubara kembali dijajah Belanda. Rakyat Kalimantan melawan, ribuan pahlawan berguguran.
Di pulau-pulau lain perlawanan terhadap penjajah juga tak kalah sengit. Bung Tomo mengobarkan semangat para pemuda di Surabaya melalui siaran radio. Para pejuang mengorbankan diri demi negara, bukan mengorbankan negara demi diri sendiri. Semoga para pahlawan mendapat kedamaian abadi dan tempat mulia di sisi Allah. Amin.
Minggu, 26 November 2017
Senin, 20 November 2017
Peci Soekarno Digandakan dengan Ludah
Menjelang Lebaran Soekarno menemui mantan Menteri Luar Negeri Roeslan
Abdoelgani untuk utang uang. “Cak, tilpuno Anang Tayib. Kondo-o nek aku gak
duwe duwik (Cak, teleponkan Anang Tayib. Katakan bahwa aku tak punya uang),”
kata Soekarno. Anang adalah keponakan Roeslan, tinggal di Gresik, pengusaha
peci merk Kuda Mas yang sering dikenakan Soekarno.
"Beri aku satu peci bekasmu. Saya akan lelang," kata Roeslan Abdoelgani.
“Bisa laku berapa, Cak?” tanya Soekarno.
“Wis tah, serahno ae soal iku nang aku. Sing penting rak beres tah (Sudahlah, serahkan saja soal itu pada saya. Yang penting ‘kan beres)” jawab Roeslan.
"Beri aku satu peci bekasmu. Saya akan lelang," kata Roeslan Abdoelgani.
“Bisa laku berapa, Cak?” tanya Soekarno.
“Wis tah, serahno ae soal iku nang aku. Sing penting rak beres tah (Sudahlah, serahkan saja soal itu pada saya. Yang penting ‘kan beres)” jawab Roeslan.
Roeslan lalu menyerahkan kepada Anang satu peci bekas dipakai Soekarno. Roeslan heran karena jumlah peserta lelang begitu banyak, semuanya pengusaha asal Gresik dan Surabaya. Tapi yang membuatnya sangat heran ternyata Anang melelang tiga peci.
“Saudara-saudara,” kata Anang. “Sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya tidak tau lagi mana yang asli. Yang penting ikhlas atau tidak?”
“Ikhlas!!!” seru para peserta lelang.
“Alhamdulillah,” sahut Anang.
Dalam waktu singkat terkumpul uang sepuluh juta rupiah. Semua uang itu segera diserahkan Anang kepada Roeslan.
“Asline rak siji se (Yang asli ‘kan satu)” kata Roeslan.
“Ya. Sebenarnya dua peci lainnya akan saya berikan untuk Bung Karno,” kata Anang.
“Tapi kedua peci itu jelek.”
“Memang sengaja saya buat jelek. Saya ludahi, saya basahi, saya kasih minyak, supaya kelihatan bekas dipakai.”
“Kurang ajar kamu, Nang. Kamu menipu banyak orang.”
“Kalau ndak begitu mana mungkin bisa dapat banyak uang.”
Roeslan kemudian menyerahkan semua uang hasil lelang kepada Soekarno.
“Cak, kok banyak banget uangnya,” kata Soekarno heran.
“Itu semua akal-akalan Anang,“ kata Roeslan. Ia menceritakan bagaimana cara Anang menggandakan peci.
“Kurang ajar Anang. Kalau begitu yang berdosa saya atau Anang?” tanya Soekarno.
“Anang.” jawab Roeslan.”Uang begitu banyak akan dipakai untuk apa?”
“Untuk zakat fitrahku. Bawalah semua uang ini ke makam Sunan Giri. Bagikan untuk orang melarat di sana,” jawab Soekarno.
“Kenapa tidak diserahkan ke pengurus masjid saja?” tanya Roeslan.
Soekarno menjawab: “Jangan. Banyak pengurus masjid yang korupsi.”
Sumber: buku Suka Duka Fatmawati Sukarno Seperti Diceritakan kepada Kadjat Adrai
Label:
Anang Tayib,
Peci Soekarno,
Roeslan Abdoelgani
Langganan:
Postingan (Atom)

