Minggu, 23 Februari 2025

Martin Aleida

Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya tidak bertemu Bang Martin Aleida. Usianya kini 81 tahun. Dulu saya sering bertemu dengannya di rumah mertua saya di Pasar Minggu, tidak jauh dari rumah Bang Martin. Pada waktu itu saya tinggal bersama mertua. Bang Martin sudah dianggap anak oleh mertua saya. Setiap sore Bang Martin berolah raga jogging dan sering mampir untuk mengobrol dengan ibu mertua saya. Namun setahun yang lalu Bang Martin ditabrak motor yang membuat kaki kanannya harus diamputasi. Sepasang kaki yang dulu pernah membawanya ke berbagai kota di Ceko, Jerman, Belanda, Belgia, dan lain-lain untuk mencari jejak para eksil yang tak bisa pulang ke Indonesia, negeri mereka, karena kekejian zaman Orba. Ia mewawancarai para eksil untuk menceritakan bagaimana awal mereka menjadi eksil dan bagaimana kehidupan mereka di negeri orang. Semua hasil wawancara itu ditulisnya menjadi buku Tanah Air yang Hilang. 

Kini kehilangan salah satu kakinya sungguh membuatnya sangat tidak nyaman. Tidak mudah berjalan dengan kaki palsu. Memasang kaki kanannya ke paha juga tidak mudah. “Yang mengherankan, saya sering merasa nyeri pada ujung kaki yang hilang. Padahal kakinya sudah tidak ada,” katanya ketika saya dan suami datang ke rumahnya di Pasar Minggu, Jakarta, pada 22 Februari 2025.

Rumah dengan luas lahan 350 meter persegi itu ditempatinya lebih dari empat puluh tahun. Pekarangannya ditanami pohon duren, kopi, belimbing, bunga kemuning, dan lain-lain. Halaman penuh tanaman. “Saya ingin jual rumah ini. Saya ingin pindah ke Semarang, dekat dengan anak saya. Di rumah ini saya hanya berdua dengan istri yang mulai demensia. Ia pernah lupa mematikan kompor,” katanya.

Banyak cerita Bang Martin tentang kenangannya pada waktu ia bekerja sebagai jurnalis majalah Tempo, dipenjara pada zaman Orba, kedua anaknya yang sudah meninggal, dan cerita-cerita lain yang menyenangkan untuk didengarkan. Semoga kami masih bisa bertemu pada kesempatan lain.


Senin, 20 Januari 2025

Imlek

 

Sin Chun Kiong Hie. Itu yang diucapkan Tionghoa di kalangan mereka sambil mengepalkan kedua tangan ke muka pada waktu bertemu. Salam itu banyak terdengar di antara mereka pada hari Imlek. Salam yang mengandung doa semoga panjang umur dan banyak rezeki. Masyarakat Tionghoa sangat gembira bila hari-hari menjelang Imlek diguyur hujan. Bagi mereka hujan berarti hokie atau keberuntungan. Kalender Imlek diperhitungkan menurut peredaran bulan. Kata Imlek berasal dari kata Im yang berarti bulan dan lek yang berarti penanggalan. Perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa.

Imlek yang juga disebut sincia biasanya disambut penuh kegembiraan setiap tahun. Sayangnya Glodok Plaza terbakar pada 15 Januari 2025. Sebelum terbakar pusat perbelanjaan itu dihiasi lampion-lampion merah menjelang Imlek. Di sana juga banyak dijual angpau, parcel, kartu ucapan selamat, hiasan-hiasan dinding, baju encim, pangsi, makanan untuk keperluan liangsim atau sembahyang, semua berwarna merah. Warna itu lambang keberuntungan bagi etnis Tionghoa.

Seperti Lebaran tanpa ketupat, Imlek terasa kurang mantap tanpa kue keranjang. Setiap malam sebelum Imlek seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama. Acara berkumpul itu membuat hubungan keluarga menjadi erat, lengket, seperti kue keranjang. Keesokan paginya, pada hari Imlek, seluruh keluarga melakukan liamking (sembahyang di hadapan abu leluhur). Setelah itu memberi hormat kepada orang tua atau keluarga yang lebih tua. Anak-anak gembira karena setiap memberi hormat dengan bersoja mereka mendapat angpau, amplop merah berisi uang. Anak-anak mengenakan baju pangsi dan para pria dewasa mengenakan chang ie, gaya busana resmi Tionghoa seperti yang kita lihat di film-film Cina.

Klenteng banyak didatangi masyarakat Tionghoa pada hari Imlek. Di kawasan Jakarta Kota terdapat tidak kurang dari  20 klenteng. Klenteng Xuan Can Gong atau Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan yang paling ramai didatangi. Kemeriahan Imlek berlangsung lama. Penutupannya pada hari ke-15 disebut capgomeh.

Dulu pada malam bulan purnama ke-15 itu para siauce (nona) berdandan cantik, tebar pesona kepada enghiong (pemuda) pujaannya yang datang berkunjung. Agar disukai calon mertuanya enghiong akan datang menjelang Imlek membawa sepasang bandeng, ikan paling mahal pada waktu itu. 

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa. Imlek menjadi momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali setahun dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Di Indonesia perayaan Imlek dilarang dilakukan di depan umum sejak 1968 dengan Instruksi Presiden Suharto pada 6 Desember 1967. Rezim Orde Baru melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi masyarakat etnis Tionghoa merayakan hari besar keagamaan mereka secara diam-diam di lingkungan keluarga saja.

Setelah Orde Baru tumbang masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka. Mereka kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada 2000, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Tetapi pada waktu itu hari libur Imlek hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Kemudian pada 2003 Presiden Megawati mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002. 

Sumber: buku Robin Hood Betawi karya Alwi Sahab

 


Kamis, 02 Januari 2025

Beda Pemimpin dan Penguasa

Pemimpin dihormati karena memiliki karakter yang baik yang bisa dijadikan teladan oleh bawahannya. Ia dijadikan panutan bukan karena kedudukannya, melainkan karena perilakunya yang baik. Pemimpin cenderung demokratis, tidak otoriter. Ia mau menerima masukan-masukan dari bawahannya yang dianggap penting untuk dipertimbangkan dalam membuat keputusan. Bila pemimpin keliru, ia bersedia menerima kritik dari bawahannya agar ia bisa menjadi lebih baik pada waktu mendatang. Pemimpin membuka peluang untuk diskusi dengan bawahannya. Pemimpin mau mendengarkan  bawahannya.

Pemimpin memberi kepercayaan penuh kepada para bawahannya dan memberi semangat kepada mereka. Bila bawahannya tidak bekerja dengan benar, maka pemimpin dengan tegas mengarahkannya agar bekerja lebih baik. Tegas bukan berarti memilih kata-kata yang kasar. Bila bawahannya berprestasi, maka pemimpin mau memuji bawahannya. Pemimpin mengutamakan kepentingan orang banyak, bukan kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya saja. Bila ada masalah, pemimpin menawarkan win-win solution.

Pemimpin menebarkan aura positif seperti optimisme, kemauan bekerja keras, tidak suka mengeluh, semangat, selalu berpikir positif, dan membuat kerja tim menjadi menyenangkan. Di bawah pemimpin yang positif maka bawahannya akan menjadi kreatif dan inovatif. Begitu pula masyarakat yang dipimpinnya tidak merasa hidup dalam ketakutan dan ancaman.

Meski memiliki kedudukan atau jabatan yang sama, pemimpin berbeda dengan penguasa. Penguasa selalu menunjukkan power-nya. Para bawahannya cenderung takut kepadanya. Ia dipatuhi, tapi belum tentu dihormati. Penguasa cenderung otoriter, mau menang sendiri, semua orang harus patuh kepadanya meski ia di jalan yang salah. Tidak ada bawahannya yang berani mengritiknya karena takut dimarahi. Penguasa cenderung arogan, pemarah, minta dihormati secara berlebihan, pelit pujian kepada bawahannya, dan kurang memiliki empati. Di bawah penguasa, para bawahan cenderung menunggu perintah, tidak berani mengambil inisiatif karena takut dimarahi bila mereka salah, dan cenderung melakukan ABS (Asal Bapak Senang). Para bawahan cenderung berada dalam suasana ketakutan dan ancaman. 

Selasa, 01 Oktober 2024

Nurhayati Subakat: Hidup Harus Menjadi Berkat


Selama satu abad ITB berdiri baru pertama kali diberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada perempuan. Penerima gelar itu adalah Nurhayati Subakat, pendiri PT Paragon yang memproduksi kosmetik dan skincare merk Wardah, Make Over, Emina, Putri, Kahf, Beyondly, Wonderly, Biodef, Crystallure, Instaperfect, Labore, dan Earth, Love, Life. Para mantan dosennya sudah tiada pada waktu gelar itu diberikan di ITB pada 5 April 2019.

Nurhayati adalah mahasiswi Farmasi ITB angkatan 1971. Ia bertemu dengan Subakat Hadi, mahasiswa Kimia ITB angkatan 1968, yang kemudian menjadi jodohnya. Mereka menikah pada 15 April 1978 di Padang Panjang, daerah asal Nurhayati. Pasangan ini dikaruniai dua putra dan seorang putri. Harman, anak sulung, adalah sarjana Kimia ITB. Salman, anak kedua, lulus dari Teknik Elektro ITB, dan Sari Chairunisa menjadi dokter spesialis kulit lulusan FK UI.

Istri Harman, Ratih Savitri Ali, berhenti menjadi dosen di FEB UI karena ia sibuk membantu membesarkan PT Paragon. Sementara Dini Ardi Wardini, lulusan Teknik Lingkungan ITB,  berhenti menjadi management trainee di PT Paragon karena dinikahi Salman dan ikut mengembangkan perusahaan milik mertuanya. “Suami saya gak tertarik bekerja di Paragon. Ia ingin fokus bekerja sebagai dokter anestesi,” kata dokter Sari yang bekerja di bagian Research and Development di perusahaan itu.

Meski Nurhayati telah sukses sebagai pengusaha, semangat belajarnya tak pernah pudar. Semangat belajar ini sudah tertanam pada dirinya sejak kecil. Pada usia 68 tahun ia bersama keluarga intinya terbang ke Paris untuk belajar di Insead, sekolah bisnis terkenal. Mereka mengikuti program family business management yang diasuh oleh Prof. Randel Carlock dan family expert Ken-Fun Loh.


Nurhayati dinobatkan sebagai Tokoh Perubahan oleh koran Republika pada 2016. Di majalah Fortune Indonesia nama Nurhayati, Presiden Megawati Sukarnoputri, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Managing Director World Bank Marie Elka Pangestu, dan lain-lain, dimasukkan ke Daftar 20 Wanita Paling Berpengaruh di Indonesia. Perusahaannya ditulis oleh Harvard Business Review edisi 7 Februari 2019 tentang bagaimana Wardah sebagai produk lokal asli Indonesia bisa menggerus produk global ternama yang sudah lebih dulu ada. Artikel yang ditulis oleh Sonia Gupta dan Oliver Wright ini menyebutkan bahwa keberhasilan Wardah karena berani mengambil peluang segmentasi halal dan berinteraksi dengan konsumen di segmen ini.


Nurhayati mendidik semua anak, menantu, dan 12 ribu pegawai PT Paragon agar menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang. Hidup harus menjadi berkat. Itu prinsip Nurhayati. Itu sebabnya perusahaannya memakai tagline Paragon Bermakna. Selain produk-produknya, PT Paragon juga terkenal akan program-program CSR-nya. Pada waktu terjadi wabah Covid-19 PT Paragon menyumbang 40 miliar ke berbagai rumah sakit dalam bentuk infuse pump, ventilator, bed set, EKG, mobile X-Ray, dan lain-lain. Salah satu gedung kuliah di ITB yang dinamakan gedung Wardah Foundation dibangun oleh PT Paragon.

 

Senin, 02 September 2024

Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan

Adik saya tak dapat BAB selama dua minggu. Ia sudah minum berbagai obat pencahar untuk mengeluarkan kotoran dari dalam perutnya. Namun semua usahanya sia-sia. “Ia terkena kanker usus,” kata dokter setelah melihat hasil rontgen pada Januari 2009. Ususnya lalu dipotong. Kanker ternyata masih menjalar membelit erat ususnya. Ususnya harus dipotong lagi. Tubuhnya makin kurus dari hari ke hari, seperti tulang dibalut kulit tanpa daging. Pada 13 Mei 2009 ia menghembuskan nafas terakhirnya di sisi saya dan dua suster yang merawatnya. Bagi orang yang bertubuh sehat, BAB dianggap hal yang wajar, suatu hal yang sudah semestinya terjadi. Tapi para penderita kanker pencernaan harus kehilangan usus untuk mengeluarkan kotoran di dalam perut mereka, bahkan harus kehilangan nyawa.

Ada juga perempuan dengan pipi kanan bengkak duduk di kursi roda yang didorong seorang pria didampingi petugas medis. Perempuan itu dimasukkan ke ruang operasi di rumah sakit. Di ruang tunggu pria itu bercerita bahwa istrinya sakit gigi sampai gusinya bengkak. Dokter gigi memberinya antibiotik. Namun selama pengobatan antibiotik, gusi terus membengkak sampai istrinya harus dioperasi oleh ahli bedah mulut. “Ternyata sakit giginya berubah menjadi tumor. Ia tidak bisa makan selama giginya sakit,” kata pria itu. Bagi orang yang memiliki gigi utuh dan sehat, mengunyah makanan dianggap hal yang wajar, menjadi kegiatan sehari-hari, dan dianggap memang demikianlah yang harus terjadi dalam kehidupan. Bila kau memiliki gigi yang lengkap dan kuat, bersyukurlah meski mungkin lauk yang tersedia hanya sederhana. Ada orang yang ingin sekali memiliki gigi.

Di sebuah kios fotokopi ada seorang pria yang kehilangan separuh lengan kanannya. Ia tak dapat lagi bekerja dengan tangkas. Bersyukurlah bila kita memiliki sepuluh jari tangan. Itu karunia Allah untuk kita. Mengetik di komputer, menyentuh layar HP, memegang piring, menghidupkan TV adalah kegiatan ringan sehari-hari, menjadi hal yang biasa saja, dianggap memang sudah semestinya begitu. Sedangkan orang yang tak memiliki tangan sangat ingin memiliki anggota tubuh yang lengkap seperti dirimu. 

Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān. Maka nikmat Allah manakah yang engkau dustakan? Apakah karunia itu akan kita gunakan dengan baik atau tidak, tentu pilihan ada di tangan kita.

 

Minggu, 09 Juni 2024

VOC Bubar pada 1799

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) adalah perusahaan dagang milik Belanda yang memonopoli rempah-rempah di Nusantara. Mereka membeli murah dari petani pribumi lalu menjual dengan harga tinggi di Eropa. Perusahaan ini didirikan pada 20 Maret 1602. Kerajaan Belanda memberi wewenang kepada VOC untuk membuat perjanjian dagang, perjanjian perang, perjanjian damai, dan membentuk angkatan perang untuk menundukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara.


VOC  pada awalnya hanya ingin mendapat hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara, tapi kemudian menghancurkan kekuatan raja-raja yang menghambat usaha mereka. Beberapa kerajaan tidak mau ditundukkan, diantaranya kerajaan Mataram dari Jawa Tengah, Gowa-Tallo dari Sulawesi Selatan, Ternate-Tidore dari Maluku, Banten, dan Palembang.  

 Tapi VOC memiliki peralatan perang yang modern dan serdadu-serdadu bayaran yang terlatih, sehingga banyak kerajaan yang dapat ditundukkan. Belanda menerapkan politik memecah belah, mengadu domba, dan ikut campur ke dalam urusan internal kerajaan untuk kepentingan mereka. Perjanjian Giyanti pada 1755 mengakibatkan Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua: Sunan Pakubuwana III memimpin wilayah Surakarta dan Sultan Hamengkubuwono I memimpin wilayah Yogyakarta. Dalam perjanjian itu jika diperlukan VOC dapat menentukan siapa yang boleh menguasai kedua wilayah itu. Sementara Perjanjian Bongaya pada 1667 adalah deklarasi kekalahan kerajaan Gowa dan pengesahan monopoli VOC untuk perdagangan di Makassar.


VOC sibuk berperang untuk memperluas dan mempertahankan tanah jajahannya sehingga menimbulkan beban keuangan bagi perusahaan. Sementara itu VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris dan Prancis yang juga mengirim rempah-rempah ke Eropa. Korupsi di dalam tubuh VOC memperparah kondisi keuangan perusahaan ini.

VOC akhirnya bangkrut dan dibubarkan pada 31 Desember 1799, meninggalkan utang lebih dari seratus juta gulden. Pemerintah Belanda kemudian mengambil alih semua tanah jajahan VOC di Nusantara. Wilayah Nusantara dinamakan Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Setelah VOC bubar dibentuk pemerintahan di Hindia Belanda yang dipimpin Gubernur Jenderal bangsa Belanda. Penjajah Belanda berkuasa di Hindia Belanda (Indonesia) sampai 8 Maret 1942 ketika Belanda menyerah kepada Jepang dalam perang Pasifik.

Foto-foto karya Endro S.Markam pada tulisan ini tidak ada hubungan dengan VOC

Rabu, 24 April 2024

Dedikasi Steve Jobs


"Saya memiliki sejuta dollar ketika saya berusia 23, sepuluh juta ketika saya berusia 24, dan lebih dari 200 juta ketika saya berusia 25," kata Steve Jobs, salah seorang terkaya di dunia.

Namun ia jarang sekali bicara tentang uang dan harta. Baginya bekerja bukan kegiatan untuk menghasilkan uang, melainkan dedikasi untuk menciptakan produk-produk yang semakin baik. Dalam bekerja, ia sangat memperhatikan detail.

Ia mengenakan arloji Porsche yang dipilihnya karena kekagumannya pada desainnya yang amat detail. Bila ada orang yang mengagumi desain jam tangannya, Jobs akan melepaskan jam seharga dua ribu dollar itu dari tangannya dan diberikan kepada orang itu: "Selamat. Anda sudah menyadari kehebatan desain,"katanya. Beberapa menit kemudian ia mengenakan jam serupa itu lagi. Ia menyimpan satu boks di kantornya agar dapat memberikannya kepada orang lain.

Jobs yang suka bekerja dengan sungguh-sungguh itu menyadari, hal-hal kecil dapat membuat kesempurnaan tapi sempurna bukan hal kecil.

Sumber: Steve Jobs Stay Hungry, Stay Foolish karya Jay Elliot dan William L.Simon

Jumat, 08 Maret 2024

Jalur Kereta Api, Candi, dan ITB


Berlatar belakang pendidikan militer DR.Jan Willem Ijzerman memulai kariernya di Hindia Belanda pada Februari 1874. Ia bekerja di Staatsspoorwegen (Perusahaan Kereta Api Negara) sebagai insinyur pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda. 

Ia membangun jalur kereta api dari tambang batu bara Ombilin ke pelabuhan Emmahaven (kini Teluk Bayur) di Sumatra Barat. Pelabuhan itu merupakan pintu gerbang keluar-masuk barang ekspor-impor dari dan ke Sumatra Barat. Pembangunan jalur kereta api ini sungguh pekerjaan yang penuh rintangan, karena hutan Sumatra sangat ganas pada waktu itu. Selanjutnya Ijzerman membangun jalur kereta api dari Padang Panjang sampai ke Siak, Riau, untuk menghubungkan pantai barat dan pantai timur Sumatra. Jalur kereta api dibangun untuk memperlancar pengangkutan kekayaan alam di Jawa dan Sumatra ke Belanda. Jalur-jalur kereta api pada zaman kolonial Belanda yang masih digunakan PT KAI merupakan karya peninggalan Ijzerman.

Pada 1874 sampai 1878 ia tinggal di Malang untuk membangun jalur kereta api Surabaya-Malang. Kemudian pada 1878 sampai 1881 ia tinggal di Bogor untuk membangun jalur kereta api Bogor-Bandung-Cicalengka. Salah satu karyanya adalah Stasiun Bandung lama.

Pada 1881 ia pindah ke Yogyakarta untuk membangun jalur kereta api Yogyakarta-Cilacap. Ia tertarik pada candi-candi kuno di Jawa dan melakukan riset arkelogi pada 1880 sampai 1887. Ia menjadi pendiri dan pimpinan Sarekat Arkeologi Yogyakarta (Archeologische Vereeniging Yogyakarta) pada 1885. Ia meneliti, membersihkan, menggali, dan melestarikan beberapa candi Buddha dan Hindu seperti Borobudur dan Prambanan. 

Ijzerman berperan penting dalam pelestarian candi Borobudur dan candi-candi lain di Jawa. Ia dan timnya menemukan dasar dari candi Borobudur. Jalan di sekitar Candi Borobudur digali dan meminta fotografer Kassian Cephas untuk mengabadikan 160 relief yang berhasil ditemukan saat itu. Ketika gunung Merapi meletus relief-relief itu terkubur lagi. Oleh karena itu foto-foto Cephas sampai hari ini adalah satu-satunya sumber rujukan untuk studi relief paling dasar candi itu. Cephas juga terlibat dalam pemotretan Candi Prambanan. Fotografer ini menjadi anggota lembaga penelitian bergengsi Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) sejak 1896 sampai 1912. Cephas sempat memotret bagian Karmawibangga yang tersembunyi di candi Borobudur. Ijzerman juga menulis hasil-hasil penelitiannya mengenai candi-candi Jawa Tengah.

Ijzerman membangun pertambangan batu bara di Ombilin, Sumatra Barat, pada akhir 1890-an sampai awal 1900-an sebagai General Manager Enim Petroleum Company dan Royal Dutch/Shell. Ia juga meningkatkan industri minyak dengan pesat di Sumatra Selatan. Dr.Jan Willem Ijzerman adalah inisiator utama pembangunan Technische Hoogeschool (kini ITB). Ia menjadi Ketua Komisi Perguruan Tinggi Hindia Belanda yang mendirikan Technische Hoogeschool.

Dr.Jan Willem Ijzerman meninggal di Den Haag pada 10 Oktober 1932. Untuk mengenang jasa-jasanya mendirikan Technische Hoogeschool (TH), Prof. Odé merancang  taman di selatan ITB yang dinamakan Ijzerman-park. Patung perunggu setengah badan Ijzerman bertengger di utara taman itu. Pada waktu perang merebut Irian Barat (kini Papua) dari penjajahan Belanda, Indonesia mengusir orang-orang Belanda termasuk semua dosen Belanda yang bekerja di TH Bandung. Patung Ijzerman di Ijzerman Park juga dirusak. Pada 1950 nama Ijzerman-park diganti menjadi Taman Ganesha.

 

Selamat Jalan, Pak Kuntoro

Saya berkenalan dengan Pof.DR.Ir.Kuntoro Mangkusubroto.M.Eng. di hotel Grand Hyatt, Jakarta, pada 2016. Pada waktu itu saya mewawancarainya untuk penulisan biografi almarhum Beni Wahju, Presiden Direktur PT Inco (kini PT Vale). Hubungan Pak Kuntoro dan Pak Beni sangat dekat. Keduanya lulusan ITB. Ketika Pak Beni meninggal, Pak Kuntoro menulis obituari yang penuh kedukaan, penuh rasa kehilangan. Saya senang dengan gesture dan cara Pak Kuntoro menjawab pertanyaan-pertanyaan saya selama wawancara. Beliau rendah hati, penuh perhatian, menghargai orang lain, dan tentu saja cerdas. 

Saya sedih mendengar kabar bahwa beliau meninggal pada Minggu, 17 Desember 2023, dalam usia 76 tahun. Beliau menghembuskan napas terakhirnya di RSCM dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Menurut Bu Soffie Wahju, istri Pak Beni, Pak Kuntoro sudah satu setengah tahun sakit tumor otak sebelum wafatnya. Beliau pernah dioperasi di Singapura dan sempat sehat selama setahun, namun kemudian kesehatannya kembali menurun. 

Pak Kuntoro adalah Menteri Pertambangan dan Energi di bawah kepemimpinan Presiden Suharto dan Presiden Habibie. Kemudian beliau pernah menjadi Direktur Utama PLN sejak 2000 sampai 2001. Setelah tsunami di Aceh dan Nias pada 26 Desember 2004 yang menewaskan ribuan orang, beliau menjadi Kepala Badan Pelaksana BRR Aceh-Nias untuk memulihkan kawasan itu. Beliau juga pernah menjadi Direktur Utama PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (1988 – 1989) dan Direktur Utama PT Tambang Timah ( 1989 – 1994). Jepang memberinya penghargaan Bintang Tanda Jasa The Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star atas kontribusinya pada hubungan kedua negara. Penghargaan itu diberikan pada 13 Mei 2023. Beliau juga mendapat anugerah Bintang Mahaputra Adipradana dari Pemerintah Indonesia pada 13 Agustus 1999. 

Beliau sangat mumpuni dalam Ilmu Teknik, pernah mengenyam pendidikan Universitas Northeastern dan Universitas Stanford jurusan Teknik Industri pada 1976. Pada 1997 beliau melanjutkan studi S2 Teknik Sipil di Universitas Stanford. Kemudian pada 1982 menempuh pendidikan S3 Ilmu Teknik bidang Ilmu Keputusan di ITB. 

Selamat jalan ke alam keabadian, Pak Kuntoro. Semoga tenang dan damai di surga. Amin YRA.

Kebaikan Marylin Monroe


Ella Jane Fitzgerald adalah penyanyi jazz Afrika-Amerika yang dijuluki First Lady of Song atau Queen of Jazz. Sebelum menjadi penyanyi terkenal, ia pernah dilarang menyanyi di The Mocambo, sebuah nightclub paling populer di Hollywood, karena kulitnya yang hitam dan tubuhnya yang gemuk.

Marylin Monroe, aktris yang sangat terkenal pada waktu itu, meminta pemilik The Mocambo agar mengontrak Fitzgerald menjadi penyanyi di sana. Monroe menyukai suara penyanyi itu. “Kalau Anda memberi kesempatan kepada Ella, saya akan datang ke The Mocambo tiap malam dan itu akan mendapat liputan yang luas dari media,” ujar Monroe.

Fitzgerald kemudian diizinkan menyanyi di sana. Monroe menepati janjinya, setiap malam ia duduk paling depan. “Sejak itu saya tidak lagi menyanyi di klub jazz yang kecil. Monroe luar biasa,” ujar penyanyi itu. 

Sesama perempuan saling mendukung dalam kebaikan. Selamat Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2024.

Senin, 04 Maret 2024

Pertanian Kita pada Zaman Jepang

Indonesia mampu swasembada beras pada 1984. Namun semakin banyak penduduk di negara kita maka banyak persawahan berubah menjadi perumahan. Produksi beras tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk.  

Pada zaman Jepang para petani diperintahkan untuk meningkatkan hasil pertanian. Atas permintaan penjajah Jepang, banyak kiai yang berkeliling di pedesaan untuk mendorong petani agar rajin bekerja. Kiai mengutip ayat-ayat Alquran yang merujuk pada pentingnya arti produksi. Kiai Muhammad Sjakir dari Surakarta ingat ketika ia dikunjungi seorang agen Badan Intelijen Tentara Jepang. Kiai itu diminta bekerja sama dalam program peningkatan produksi pertanian. Permintaan Jepang itu membuat Kiai berkeliling ke desa-desa di sekitarnya dan berkhotbah bahwa “Allah mengajarkan agar setiap orang berusaha sendiri. Jangan malas.“

Alat propaganda lain yang digunakan untuk meningkatkan produksi pertanian adalah film, teater, kamishibai (pertunjukan cerita bergambar), dan pidato. Sepuluh orang dari kantor Keresidenan Besuki  dikirim untuk pergi ke pedesaan. Mereka mempertunjukkan kamishibai dengan cerita tentang peningkatan produksi pertanian. Bukan hanya itu. Merk rokok Darvos pada zaman penjajahan Belanda diganti menjadi merk Mizuho. Dalam bahasa sastra Jepang Mizuho artinya padi. Penggantian nama ini berlaku sejak 1 Maret 1943. Rokok itu dijual dengan kemasan baru bergambar padi.

Pada zaman itu dilakukan propaganda bahwa petani sangat penting artinya dalam masyarakat. Petani diberi status tinggi di dalam kelas sosial. Secara teoritis petani menikmati kedudukan yang lebih tingi daripada pedagang dan pengrajin, sekalipun tingkat ekonomi mereka sesungguhnya rendah. 

Dalam menekankan ‘kesucian’ pertanian, para pejabat pemerintahan militer memerintahkan para pejabat tinggi seperti bupati dan wedana agar turun ke sawah bertelanjang kaki, ikut serta dalam pekerjaan pertanian di depan para petani. Para anggota fujinkai (persatuan wanita) di kota-kota yang terdiri atas kaum istri pejabat pemerintahan juga diperintahkan pergi ke desa-desa dan bergabung dengan petani. Meskipun itu mungkin hanya keikutsertaan secara simbolis, dan mereka tidak sunguh-sungguh bertani, pasti berdampak secara psikologis pada para petani.

Sumber:  buku ‘Kuasa Jepang di Jawa, Perubahan Sosial di Pedesaan 1942 – 1945’ karya Aiko Kurasawa.

Sabtu, 20 Mei 2023

Jenny dan Njoo


Generasi milenial tak mengenal perempuan di sebelah saya.Tapi generasi tua dan muda pada 1970 dan 1980-an sangat mengenal aktris yang membintangi puluhan film ini. Jenny Rachman, lahir pada 18 Januari 1959, memulai kariernya di dunia film sejak ia berusia 14 tahun. Film pertamanya Ita Si Anak Pungut. “Dulu di Jakarta ada tempat bermain ice skating. Saya sedang bermain di sana. Kebetulan sedang ada shooting film dan tiba-tiba saya diminta untuk ikut bermain di film itu, bukan sebagai pemeran utama,” ceritanya. Kemampuan aktingnya membuatnya diminta bermain di film-film lainnya. Ia menjadi pemeran utama dalam film Rahasia Gadis pada usia 16 tahun.

Ia kemudian menjadi aktris terlaris. Bersama Roy Marten, Yati Octavia, Robby Sugara, dan Doris Callebaut, ia termasuk dalam The Big Five. Kelima pemain film itu mendapat honor tertinggi,  jauh di atas rata-rata bayaran untuk para pemain film pada waktu itu. Jenny Rachman berhasil mendapatkan dua piala Citra melalui film Kabut Sutra Ungu arahan sutradara Sjumandjaya dalam FFI 1980 dan Gadis Marathon arahan sutradara Chaerul Umam pada FFI 1982. “Pak Njoo Han Siang sangat senang ketika saya mendapatkan piala Citra dari film Kabut Sutra Ungu. Kemenangan saya dirayakan besar-besaran di Inter Studio, laboratorium film berwarna milik Pak Njoo yang luasnya beberapa hektar. Banyak orang-orang film yang hadir,  juga para pengusaha yang menjadi kenalan Pak Njoo. Saya terharu dengan kemurahan hati beliau padahal beliau bukan produser film Kabut Sutra Ungu.”

Njoo Han Siang  adalah pemilik Bank Umum Nasional dan Bank Duta Ekonomi yang kemudian menjadi Bank Duta. Ia juga menjadi produser film, di antaranya film Tjut Nyak Dien, November 1828, Doea Tanda Mata, Rembulan dan Matahari, dan lain-lain. Inter Studio miliknya adalah laboratorium film berwarna pertama di Indonesia. Dulu belum ada film dengan teknologi digital seperti zaman sekarang, sehingga masih memerlukan proses di laboratorium, termasuk  sound recording seperti dubbing, effect, mixing, dan lain-lain.  Pada zaman dulu film-film masih menggunakan semacam pita seluloid. Pita-pita film Indonesia harus diproses di laboratorium di luar negeri dan hasilnya baru bisa dilihat beberapa bulan kemudian. Dengan adanya Inter Studio maka proses produksi film menjadi jauh lebih cepat.

Njoo Han Siang diberi penghargaan Satya Lencana Wirakarya oleh Pemerintah RI pada 23 April 2004 karena darma baktinya kepada negara. Ia meninggal pada usia 55 tahun, pada 30 September 1985, sebelum cita-citanya membuat film Chairil Anwar tercapai. Sampai kini film tentang penyair itu belum ada yang membuatnya. 


 

 

Kamis, 06 April 2023

Ayo Berkebaya Para Perempuan Muda


Sejak ada kampanye Kebaya Goes to Unesco saya dan Atiek Levie sering mengikuti parade berkebaya di Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Semua yang ikut dalam  parade Kebaya Goes to Unesco adalah para wanita berusia di atas 45 tahun.

Pernah diadakan fashion show kebaya di gedung Sarinah Thamrin yang melibatkan para peragawati remaja pada akhir 2022. Model kebaya remaja didesain bergaya modern. Ditampilkan kebaya lengan pendek yang dipadu-padankan dengan rok ataupun celana jeans, ada kebaya berbahan denim, ada yang motifnya lurik warna cerah, ada kebaya penuh tambalan kain perca, ada yang penuh renda. Para peragawati remaja mengenakan sepatu boot ataupun sneakers. Namun di luar acara fashion show itu tak ada generasi milenial yang ikut memeriahkan Kebaya Goes to Unesco.

Saya dan Atiek melihat fashion show yang diadakan Perempuan Berkebaya Indonesia di gedung Pos Bloc, Jakarta, pada 2 April 2023. Ditampilkan aneka kebaya berwarna cerah dengan motif batik Betawi. Juga ada bazaar yang menjual kebaya berbahan kaus. Namun para peragawatinya adalah para perempuan berusia setengah baya.

Bagaimana agar busana kebaya dikenakan para wanita muda? Mungkin para pemilik stasiun TV bisa menganjurkan para penyiarnya mengenakan kebaya. Begitu pula pemilik restoran, pemilik hotel, pemilik salon, pemilik bank, dan lain-lain, bisa menyediakan seragam kebaya bagi karyawatinya. Lha kok jadi ribet? Gimana kalau mereka ke kantor naik ojek? Gampang. Kebaya bisa dipadukan dengan celana panjang, tak harus dipadukan dengan kain batik sesuai dengan pakemnya.

Saya melihat para karyawati di beberapa hotel di Srilanka memakai sari, busana tradisional mereka yang sama dengan busana tradisional India. Hanya sebagian kecil yang mengenakan busana blazer. Mereka tetap gesit bekerja tanpa terlihat ribet dengan sarinya. Para pramugari di beberapa  maskapai penerbangan pun tetap bisa bekerja cekatan dalam balutan sarung dan kebaya. Para pramugari kereta sebenarnya bisa mengenakan seragam kebaya.

Kalau kebaya hanya dipakai perempuan setengah baya pada acara-acara khusus, bagaimana masa depan busana cantik ini di Indonesia?

Kamis, 30 Maret 2023

Politik Olah Raga

Apa saja bisa dikaitkan dengan politik, dari sembako, seni-budaya, pariwisata, pendidikan, dan lain-lain. Olah raga pun tak luput dari campur tangan politik. Indonesia disksorsing oleh IOC (Komite Olimpiade Internasional) karena melarang Taiwan dan Israel ikut dalam Asian Games IV di Jakarta pada 1962. Hubungan Indonesia dengan Tiongkok dan negara-negara Arab sangat dekat karena sama-sama menentang imperialisme dan kolonialisme di berbagai negara. Jika Indonesia mengundang Taiwan dan Israel, hubungan baik dengan Tiongkok dan negara-negara Arab dapat terganggu.

Skorsing dari IOC mengakibatkan Indonesia tidak dapat berpartisipasi dalam Olimpiade. Untuk melawan IOC, Presiden Soekarno menyelenggarakan Ganefo (Games of The New Emerging Forces) di Jakarta pada 10 November – 22 November 1963. Ada 47 negara yang ikut serta dalam pesta olah raga Ganefo I.  Momentum skorsing itu dimanfaatkan Presiden Soekarno untuk menyatukan rakyat Indonesia dalam melawan imperialisme. Ini tercermin dalam pidato Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1963.


Sebelumnya, melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, Presiden Soekarno berhasil membangun semangat rakyat Indonesia dan negara-negara berkembang di Asia dan Afrika agar tidak tunduk kepada negara-negara kapitalis adi daya pengisap kekayaan  Asia, Afrika, dan Amerika Latin.  Pada waktu itu Indonesia  menjalin hubungan baik dengan negara-negara komunis seperti  Republik Rakyat Tiongkok, Vietnam Utara, dan Korea Utara.

Sabtu, 18 Februari 2023

Suka Duka Buya Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Buya Hamka tak pernah duduk di bangku sekolah. Juga tak tamat mengaji di surau Parabek. Pada waktu baru membina rumah tangga sampai pindah ke Jakarta pada 1950 ia dan keluarganya hidup miskin. Ia dan istrinya hanya memiliki sehelai kain untuk salat yang mereka pakai bergantian.

Tahun-tahun awal revolusi, setelah pindah dari Medan ke Padang Panjang, beliau tak punya penghasilan tetap. Beliau bukan pedagang, juga bukan pegawai kantor. Orang mengenalnya sebagai ‘orang siak’.  Ia mengarang tiga buku: Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, dan  Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi. Ketiga buku itu diterbitkan keponakannya, Anwar Rasyid (almarhum).

Sebagai Konsul Muhammadiyah Sumatra Barat, ia berkeliling mengunjungi cabang atau ranting Muhammadiyah di sekitar Minangkabau. Ia membawa sekeranjang buku-buku itu. Setelah berpidato buku-buku itu dijual ke hadirin. Uangnya diserahkan seluruhnya kepada istrinya. Mayoritas tema pidatonya pada waktu itu tentang kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan proklamasi 1945.

Setelah pengakuan kedaulatan RI pada 1949,  tulisan-tulisannya yang berjudul Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah diterbitkan di Medan. Beberapa penerbit di Jakarta, antara lain penerbit Wijaya, Tintamas, dan Pustaka Antara mencetak ulang buku-bukunya. Dengan honor dari beberapa penerbit ia pergi sendiri ke Jakarta, setelah perundingan Roem Royen dan saling tembak Indonesia dan Belanda berhenti.

Pada awal 1950 ia pulang ke Bukittingi menjemput keluarga untuk bersama-sama ke Jakarta. Ia membawa naskah Ayahku. Naskah itu berisi tentang riwayat ayahandanya Dr. Abdul Karim Amrullah.  Ia juga membawa naskah Sejarah Kebangkitan Islam di Minangkabau. Buku ini kemudian diterbitkan oleh penerbit Wijaya. Penerbit ini juga menerbitkan bukunya Falsafah Ideologi Islam dan Keadilan Sosial dalam Islam.

Ia menghidupi delapan anaknya dengan honor buku-bukunya. Ia juga mengirimkan banyak tulisan-tulisan pendek ke beberapa surat kabar dan majalah. Surat kabar yang sering memuat tulisannya ialah Harian Merdeka dan Pemandangan, serta majalah Mimbar Indonesia pimpinan H.B. Jassin. Kemudian ia menjadi pegawai tetap Harian Abadi dan Majalah Hikmah. Rubrik yang diasuhnya di surat kabar Abadi edisi mingguan adalah Dari Perbendaharaan Lama, berisi kisah-kisah sejarah Nusantara.

Pada awal 1951 ia menjadi Pegawai Tinggi golongan F di Kementerian Agama. Ia sangat bersyukur, meski tak berpendidikan tinggi namun bisa menjadi Pegawai Tinggi. Pada 1955 ia mendapat mobil dinas merk Zephyr Sis, kemudian diganti dengan mobil lebih kecil bermerk Standart. Pada waktu menjadi pegawai di Kementerian itu ia berdinas empat bulan di Amerika. Pengalamannya ditulis menjadi buku Empat Bulan di Amerika yang diterbitkan oleh penerbit Tintamas, Jakarta.

Ia diangkat menjadi anggota Majelis Haji. Juga menjadi dosen di  Universitas Islam Jakarta, Perguruan Tinggi Agama Islam Nasional Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, dan Universi
tas Muslim Ujung Pandang (kini Makassar).

Selesai menunaikan ibadah haji pada 1950 ia berkeliling di beberapa negara Arab atas biaya penerbit Gapura yang dipimpin Anjar Asmara (almarhum). Dari perjalanannya itu terbitlah buku-buku Mandi Cahaya di Tanah SuciDi Tepi Sungai Dajlah, dan Dari Lembah Sungai Nil.

Ia kemudian menjadi anggota partai Masyumi dan Lembaga Kebudayaan Nasional. Sebagai anggota Partai Masyumi ia terpilih menjadi anggota Konstituante dalam Pemilihan Umum 1955. Pada waktu itu ada peraturan pegawai golongan F dilarang aktif di partai politik. Ia memilih aktif di partai dan berhenti menjadi pegawai negeri.

Senin, 02 Januari 2023

Penggalan Kepala di Bambu Runcing

Endang Kustantinah adalah guru yang tinggal di Tangerang, Banten. Ia selalu menangis bila mengenang ayahnya yang hilang. Lebih dari sepuluh ribu orang yang dituduh sebagai PKI dibantai di Boyolali, tempat kelahiran Endang, sejak peristiwa G30S pada 1965.

Militer bersama orang-orang yang beringas menangkap Siswowitono, ayah Endang. Siswowitono adalah anggota DPRD sekaligus sekretaris desa dan ketua Persatuan Pamong Desa Indonesia. Pernah datang petani dari dusun Cepogo di lereng gunung Merapi ke rumah Siswowitono untuk mengucapkan terima kasih. Berkat perjuangan Siswowitono, petani itu akhirnya mendapatkan tanah garapan bekas perkebunan karet yang ditinggalkan Belanda. Di desanya Siswowitono sangat dihormati. Ia banyak bekerja untuk kesejahteraan warga desa.

Orang-orang yang dituduh sebagai PKI dikejar-kejar, dipukuli, dibunuh, dipenggal. Apa salah mereka? Tak ada proses pengadilan untuk membuktikan kesalahan mereka. Endang menyaksikan puluhan laki-laki diikat tangannya dengan tali goni. Tubuh dan kepala mereka berlumuran darah. Ada yang bertelanjang dada dan bercelana kolor saja. Mereka digiring seperti kambing ke kantor kelurahan sambil dicambuki. Banyak di antara mereka adalah teman ayahnya.

Ia melihat orang-orang berwajah garang mengacungkan golok, klewang, celurit, bambu runcing, dan benda-benda tajam lainnya. Ada yang menenteng penggalan kepala. Yang lebih mengerikan, di setiap sudut jalan ada penggalan kepala berlumuran darah di ujung bambu runcing.

Endang yang pada waktu itu berusia delapan tahun berlari ke rumah. Didapati ibunya sedang mendekap adik bungsunya yang masih kecil. “Ibu, di mana Ayah? Di mana Ayah? Banyak teman Ayah yang dikeroyok dan dipukuli.” Ayahnya yang berusia 47 tahun sudah beberapa hari meninggalkan rumah. Ada yang memberi tahu bahwa ayahnya di kantor Komando Distrik Militer Boyolali. Ada juga yang mengatakan, ayahnya memenuhi panggilan aparat militer. Mungkin pula ayahnya bersembunyi di suatu tempat untuk menghindari amuk massa. Kakak-kakak Endang juga sudah mengungsi beberapa hari lalu, entah ke mana.

Minggu ketiga Oktober 1965 menjelang magrib Siswowitono pulang. Namun sehabis Isya segerombolan orang yang haus darah membawa pentungan, linggis, tombak, golok, dan senjata tajam lainnya. Mereka berteriak-teriak: “Tangkap PKI!” Tanpa memberi kesempatan kepada Siswowitono untuk berpamitan kepada keluarganya, seorang tentara membentak: “Cepat keluar!!! Ikut aku!!!” Ia digiring entah ke mana. “Jaga baik anak-anak,” teriak Siswowitono kepada istrinya dari kejauhan. Sejak itu keluarganya tak pernah bertemu lagi dengannya meski dalam bentuk batu nisan.

Itu salah satu kisah kejahatan pada zaman Orba yang saya baca dari buku ‘Tuhan Menangis, Terluka’ karya Martin Aleida.

 

 

Penyair yang Dilenyapkan

Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah tetapi menangis ketika aku susah
Ibu tak bisa memejamkan mata bila adikku tak bisa tidur karena lapar
Ibu akan marah bila kami merebut jatah makan yang bukan hak kami
Ibuku memberi pelajaran keadilan dengan kasih sayang dan ketabahan
Ibuku mengubah rasa sayur murah jadi sedap
Ibu menangis ketika aku mendapat susah
Ibu menangis ketika aku bahagia
Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
Ibu menangis ketika adikku keluar penjara
Ibu adalah hati yang rela menerima selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun kasih sayang
Ibu adalah kilau sinar kegaiban Tuhan membangkitkan haru insan dengan kebajikan
Ibu mengenalkan aku kepada Tuhan
(Solo, 1986)

Puisi ‘Ibu’ di atas adalah karya penyair Widji Thukul. Ia dilenyapkan pada 1998 dan jazadnya tak ditemukan sampai kini. Ia lahir di Surakarta pada 26 Agustus 1963, menjadi aktivis yang menolak penguasa Orde Baru di bawah Presiden Suharto. “Hanya satu kata, lawan.” Itu adalah satu baris puisinya yang sangat terkenal dan menjadi jargon para demonstran menjelang runtuhnya rezim Orde Baru.
Ia menerima Wertheim Encourage Award dari pemerintah Belanda pada 1991 dan pernah berkeliling di Amerika membacakan puisi. Widji Thukul mendapatkan Yap Thiam Hien Award pada 2002 yang tak bisa diterima dengan tangannya, sebab tak ada yang tahu di mana ia berada apakah ia masih hidup atau sudah tiada. Puisi-puisinya diterbitkan meda massa dalam dan luar negeri. Karya-karyanya: Puisi Pelo, Darma dan Lain-lain (antologi puisi), Kicau Kepodang (1993), Thukul Pulanglah (diterbitkan pada 2000), Aku Ingin Jadi Peluru (diterbitkan pada 2000).
Meski ia sudah dihabisi dengan kejam oleh rezim Suharto, namun kata-katanya tak pernah bisa dibinasakan. Ini adalah salah satu puisi karyanya pada 1997.
AKU MASIH UTUH DAN KATA-KATA BELUM BINASA
aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat penguasa
puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

Minggu, 11 Desember 2022

Kasunanan Surakarta dan Istana Mangkunegaran


Pakubuwono II bersama adiknya, Pangeran Mangkubumi, bersekutu dengan Belanda untuk menyingkirkan Pangeran Aryo Mangkunegoro, ayah Raden Mas Said. Setelah Pakubuwono II wafat perseteruan dilanjutkan keturunan mereka, yaitu Pakubuwono III lawan Raden Mas Said.

Belanda ikut campur dalam masalah-masalah keluarga kerajaan demi kepentingan Belanda. Pada 13 Februari 1755 dibuat Perjanjian Giyanti yang memecah wilayah kerajaan Mataram Islam menjadi dua: Pakubuwono III mendapat bagian wilayah timur dengan ibu kota Surakarta dengan sebutan Keraton Kasunanan Surakarta dan Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I mendapat wilayah barat dengan Kasultanan Ngayogyakarta.

Sementara itu Raden Mas Said terus menerus melawan Belanda dan keluarga kerajaan. Akhirnya Belanda minta bantuan Pakubuwono III agar mengajak Raden Mas Said berunding secara kekeluargaan.

Pada 24 Februari 1757 di desa Tunggon terjadi perdamaian Pakubuwono III dan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa. Perdamaian dua saudara sepupu itu mengakhiri pemberontakan RM Said melawan kerajaan Mataram Islam sejak beribukota di Kartasura sampai pindah ke Surakarta.

Setelah perdamaian itu Raden Mas Said yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I berkuasa di Pura atau Istana Mangkunegaran. Jarak istana Mangkunegaran sekitar satu kilometer dari Keraton Kasunanan Surakarta dengan Susuhunan  (Sunan) Pakubuwono III sebagai rajanya.

Kedudukan Mangkunegaran di bawah Kasunanan Surakarta. Gelar kebangsawanan Mangkunegoro sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo menunjukkan bahwa Mangkunegoro adalah seorang pangeran (putra raja), bukan seorang raja. Begitu pula gelar Adipati menunjukkan jabatan Mangkunegoro setara adipati (bupati), bukan berkedudukan sebagai raja.

Kedudukan Mangkunegoro I di bawah Pakubuwono III. Oleh karena itu Mangkunegoro I wajib melakukan audiensi (pisowanan) kepada Pakubuwono III sebagai tanda kepatuhan. Audiensi dilakukan setiap Senin, Kamis, dan Sabtu. Beberapa ketentuan juga membatasi kewenangan Mangkunegoro I, di antaranya:

1. Tidak boleh duduk di atas dhampar, tahta kursi kebesaran.

2. Mangkunegaran tidak boleh memiliki siti hinggil, yaitu bagian depan bangunan kompleks keraton yang tanahnya lebih tinggi dari bagian lain. Tempat ini adalah ruang tunggu bagi mereka yang ingin menghadap raja.

3. Mangkunegaran tidak boleh punya alun-alun waringin kurung. Sedangkan Keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta memiliki alun-alun (halaman) di utara dan di selatan, masing-masing ditanami sepasang pohon beringin (ringin kembar).

4. Mangkunegoro tidak berwenang untuk memutuskan hukuman mati.

 

 

Rabu, 26 Oktober 2022

Njoo Han Siang

 


31 Agustus 1930. Hari itu bendera kerajaan Belanda berkibar di Hindia Belanda. Juga dikumandangkan lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, melalui radio. Hari itu Ratu Belanda, Wilhelmina, berulang tahun. Negeri Belanda di Eropa sebagai pemerintah pusat dan Hindia Belanda sebagai pemerintah daerah wajib merayakan ulang tahun Ratu.

Hari itu di kecamatan Pecinan Ketandan, di dekat Kali Code di Yogyakarta, lahir Njoo Han Siang. Ia adalah anak kelima dari keluarga pengusaha Njoo Gee Tik. Gubernur Jenderal atas nama Ratu Wilhelmina memberikan hadiah kepada bayi yang lahir bertepatan dengan ulang tahun Ratu.

Di Pecinan Ketandan orang Tionghoa dan pribumi bergaul dengan erat. Orang Tionghoa di sana menggunakan bahasa Jawa di dalam keluarga atau dalam pergaulan sehari-hari. Banyak keturunan Tionghoa yang pandai berbahasa Jawa kromo inggil.

Pada usia 28 tahun Njoo mendirikan maskapai pelayaran PT. Delta Baru dan sekaligus menjadi pengusaha ekspor-impor beras dan terigu dengan nama CV Krisna. Pada awal Orde Baru Njoo sangat dekat dengan Ali Murtopo. Ia dan Yap Swie Kie (pemilik Berkat Group) mendapat kepercayaan dari Ali Murtopo untuk menjalankan logistik Pepera di Irian Barat.  Njoo mengatur suplai barang-barang kebutuhan rakyat Irian Barat. Bisnis Njoo semakin sukses ketika mendirikan Bank Dharma Ekonomi yang kemudian menjadi Bank Duta, lalu merger dengan Bank Danamon.

Ia kemudian membeli Bank Umum Nasional yang sebagian besar sahamnya dimiliki tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia. Kondisi BUN dalam kondisi buruk ketika diambil alih Njoo Han Siang. Kondisi itu antara lain karena merosotnya peranan partai politik pada waktu Demokrasi Terpimpin.

Pada usia 40 tahun Njoo memiliki perusahaan agrobisnis, asuransi, properti, pelayaran, dan film. Ia memelopori kartu kredit di Indonesia dengan mendirikan Diners Club Indonesia.  Tak semua bisnis Njoo sukses.  Restoran Golden Gate di bandara Kemayoran merugi. Hampir setiap kawan Njoo yang akan berangkat dengan pesawat terbang dari Kemayoran mampir di resto itu. Mereka diperbolehkan makan gratis oleh Njoo. Disebabkan oleh berbagai faktor, resto terpaksa ditutup.

Njoo suka menulis. Sebelum menjadi pengusaha, Njoo Han Siang adalah wartawan dan fotografer Sunday Courier dan majalah Sadar. Ayahnya adalah sastrawan di Tiongkok yang kemudian menjadi pengusaha di Hindia Belanda. Njoo ikut mendirikan harian Suara Karya dan majalah Progres.  Yayasan Pendidikan Perbanas yang didirikannya berkembang pesat dan menjadi STIE Perbanas. Ia adalah tokoh perbankan nasional.  Untuk mengenang jasa-jasanya didirikan patungnya di depan kampus STIE Perbanas.  

Njoo menghidupkan majalah Perbankan yang kemudian menjadi majalah Infobank.  Ia juga mendirikan Bankers Club. Banyak pengusaha Tionghoa yang sukses karena keuletannya. Njoo ingin membantu pengusaha golongan pribumi melalui Karpenas. Tapi karena mismanajemen organisasi pengusaha nasional ini bubar.

Njoo Han Siang aktif di Baperki (Badan Pemusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), organisasi yang mendorong pembauran Tionghoa dan pribumi. Tapi karena kemudian sebagian anggota Baperki condong ke komunis, Njoo beralih ke Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa bersama Sindhunata S.H, Drs.Junus Jahja, dan PK. Ojong (pendiri harian Kompas). Njoo adalah salah seorang pendiri Badan Komunikasi Penghayat Kesatuan Bangsa.

Ia juga mendirikan Yayasan Pendidikan Mataram di Semarang. Sekolah Mataram yang didirikannya banyak memberikan subsidi kepada para pelajar yang tidak mampu.

Ia memiliki perusahaan film dan laboratorium film berwarna Inter Studio. Ini laboratorium pertama untuk film berwarna di Indonesia. Biasanya film-film  Indonesia diproses di laboratorium di  luar negeri dan ini menghabiskan waktu beberapa bulan. Dengan adanya Inter Studio film-film bisa diproses lebih cepat. Ini mendorong industri film di Indonesia lebih produktif.

 Njoo menjadi produser untuk film November 1828, Cut Nyak Dien, Doea Tanda Mata, Bersemi di Lembah Tidar, Pacar Ketinggalan Kereta, Kembang Kertas, Di Balik Kelambu, Chicha, Ibunda, Mei Lan Aku Cinta Padamu, Rembulan dan Matahari, Usia 18, Duo Kribo, dan lain-lain.  Untuk meningkatkan kualitas akting para aktor dan aktris Njoo membuka kursus seni peran yang ditangani oleh sutradara Wahyu Sihombing. Kursus ini tidak memungut bayaran, bahkan para peserta kursus mendapat uang saku. Herman Felani, Ida Leman, Alan Nuari dan beberapa lainnya adalah lulusan kursus ini.

Njoo meninggal pada usia 55 tahun pada 30 September 1985. Film Chairil Anwar tak sempat terwujud sampai kini meski ia sangat menginginkannya.

27 Oktober 2022