Rabu, 28 Agustus 2019

Marilah Bicara atas Dasar Cinta dan Kerja


Marilah bicara atas dasar cinta dan kerja
Tentang Negara Besar yang kita bangun ini
Negara yang kita proklamasikan, negara yang kita menangkan
Dengan segala pengorbanan dan penderitaan

Marilah bicara atas kesucian jutaan jiwa pahlawan
Tentang pembangunan gedung-gedung bertingkat, sekolah-sekolah tinggi
Tentang pembuatan pengairan, perkebunan, dan industri-industri
Akan cita kejayaan bangsa hari depan dan nanti

Adalah satu kebenaran sejarah bahwa kita bangsa yang besar
Yang telah melihat dan mendapat api kebenarannya kembali
Seperti kejayaan Gajah Mada-Majapahit yang disegani
Menyatukan Nusantara di bawah satu panji-panji

Sekali lagi marilah bicara atas dasar cinta dan kerja
Karena kita telah banyak belajar dari revolusi ini
Dari sejak rakyat bangkit, peristiwa Madiun, PRRI, dan Permesta

Revolusi kemanusiaan, revolusi maha besar
Hanyalah oleh bangsa dan jiwa-jiwa besar

*Puisi ini ditulis Jawastin Hasugian pada 1964. Selain menjadi penyair, Jawastin juga penulis novel Jalan Masih Panjang, Dikejar Bayangan, Kembalinya Si Anak Hilang, Langit Cerah di Atas Singasari, dan Pelita Desa Cemara.

Kamis, 15 Agustus 2019

Hasil Polling yang Dianggap Penistaan terhadap Rasulullah


Buku ini salah satu karya Arswendo yang ditulis berdasarkan pengalamannya di penjara. Banyak cerita tentang kehidupan di lembaga pemasyarakatan ditulis di dalam buku ini, tapi yang  saya ingat adalah cerita tentang seorang napi yang memperkosa angsa karena sudah begitu lama memendam kebutuhan seksualnya.

Pada zaman Orba Arswendo adalah pemimpin redaksi tabloid hiburan Monitor. Melalu tabloid itu ia membuat polling dengan pertanyaan: “Siapakah orang yang paling Anda kagumi?” Hasil polling ternyata nama Nabi Muhammad tidak berada di urutan pertama sebagai orang yang paling dikagumi. Rasulullah berada di urutan ke-sebelas. Hasil polling itu dimuat di tabloid Monitor edisi 15 Oktober 1990. Timbullah demo besar dari umat Islam. Massa membuat patung Arswendo dari kertas tabloid Monitor yang kemudian dibakar. Puncaknya terjadi pada 22 Oktober 1990. Massa mendatangi kantor Monitor dan memporakporandakan semua yang ada di sana. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang kala itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU berusaha meredakan amarah umat. Gus Dur berkata, wibawa Nabi Muhammad tidak akan berkurang hanya karena polling. Namun massa tetap murka. Akibatnya tabloid Monitor dibredel dan Arswendo dibui. Ia divonis lima tahun penjara.

Pada 19 Juli 2019 Arswendo Atmowiloto kembali kepada Allah yang Maha Adil, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta Maha Pemaaf. Rest in Peace, Mas Wendo.