Rabu, 10 Juni 2020

Simbol-simbol Agama

Mengapa orang dengan begitu leluasa memasuki wacana keagamaan? Mengapa simbol keagamaan mudah dimanipulasi menjadi komoditas pers dan politik? Salah satu faktor penyebabnya adalah institusi dan ajaran agama tidak mengenal ‘lembaga litsus’ (penelitian khusus). Bahkan semua agama membuka pintu lebar-lebar dan selalu memanggil siapa pun yang hendak masuk ke dalamnya. Terlebih dalam Islam, karena tak ada lembaga kependetaan, maka praktis setiap muslim berhak dan merasa terpanggil menjadi penceramah agama. Sejarah menunjukkan, penyebaran Islam yang paling laten adalah disebarkan oleh pemeluknya meski mereka sangat awam pengetahuannya tentang Islam.
Tak adanya lembaga litsus dan hirarki struktural ini telah memungkinkan para politisi secara leluasa menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politiknya. Biasanya rakyat malah kagum jika ada pejabat yang tampak agamis, meski paham keagamaannya pas-pasan.
Bagi masyarakat awam, kerudung memiliki konotasi agamis. Begitu pula kopiah, baju koko, dan baju gamis, dan ucapan ‘salam’ dalam bahasa Arab. Begitu pentingnya simbol-simbol keagamaan dalam wacana politik, maka pidato yang tidak dibuka dengan salam akan dirasakan hambar oleh telinga masyarakat Islam Indonesia.
Wacana keagamaan di Indonesia tidak mungkin dilepaskan dari wacana politik. Sebab ini menjadi sajian yang menarik bagi komoditas informasi dengan bobot yang sangat marketable. Di wilayah Asia Tenggara pergumulan agama, politik, dan etnis akan semakin menarik untuk dicermati.
Bagi dunia pers, isu agama yan bernuansa politik sanggup mendongkrak oplah penjualan majalah. Makanya isu keagamaan dengan berbagai aktornya masuk ke dalam katalog bisnis informasi. Aktornya berada pada deretan selebriti yang dikejar media massa dan industri informasi, terutama televisi. Masyarakat rela mendengarkan para aktor agama berbicara dan berlaga. Hiruk pikuk keagamaan yang sarat muatan politik.
Lalu bagaimana sikap kita? Agama diwahyukan untuk manusia -bukan manusia untuk agama- maka salah satu ukuran baik-buruknya sikap hidup beragama adalah dengan menggunakan standar dan kategori KEMANUSIAAN, bukan ideologi dan sentimen kelompok.
Sumber: The Wisdom of Life, Menjawab Kegelisahan Hidup dan Agama karya Prof. Komaruddin Hidayat

Gubernur Ali Sadikin Menampar Sopir Truk

Ini cuplikan biografi Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, mengenai lalu lintas:

Lalu lintas di Jakarta brengsek. Sayalah yang paling tidak puas dengan keadaan itu. Para pengendara tampaknya sudah tidak mengenal lagi sopan santun lalu lintas, prikemanusiaan, dan rasa kasihan. Yang paling banyak melanggar disiplin dan kesopanan lalu lintas di Jakarta pada tahun terakhir jabatan saya adalah bus kota. Nomor dua, sopir-sopir sipil yang mengemudikan kendaraan ABRI (kini TNI), yang merasa lebih ABRI daripada ABRI yang asli. Nomor tiga, sepeda motor bersama angkutan umum.
Mengatur orang-orang bandel saya sampai harus bertindak keras. Sekali waktu dalam perjalanan menuju tempat upacara di Menteng Wadas, saya langsung turun tangan menindak seorang sopir truk di Jalan By Pass. Truk itu bermuatan pasir delapan ton. Kendaraan itu dengan seenaknya meluncur di bagian tengah jalan tanpa menghiraukan mobil-mobil lain di belakangnya, meski terus diklakson. Kendaraan yang saya naiki tepat di belakang truk itu.
Saya suruh sopir saya membunyikan klakson. Tapi truk itu terus saja meluncur, tak menghiraukan orang lain di belakangnya. Saya suruh sopir saya mengejar truk itu. Saya suruh sopir truk itu menghentikan kendaraannya. Tapi sopir truk tetap bandel, tidak mau berhenti. Ia bahkan mau melarikan diri. Akhirnya setelah dikejar terus barulah truk itu berhenti di tengah jalan. Mobil saya berhenti di pinggir jalan. Saya ke luar dari mobil. Setengah berteriak saya suruh sopir truk turun.
“Truk siapa ini?” tanya saya.
“Truk ALRI, Pak,” jawabnya.
“Mana surat tugas dan SIM-mu?”
Sopir truk memperlihatkan surat-suratnya. Saya langsung tanya lagi: “Apa kamu tidak merasa bersalah?”
“Tidak, Pak,” jawabnya. “Kan boleh saja jalan di kanan.”
Tanpa berkata apa-apa saya menamparnya.
“Kalau bawa muatan berat, apa boleh jalan di tengah?”kata saya.
Sebelum sopir menjawab, saya menamparnya lagi. “Seenaknya saja memakai jalan ini seperti jalanmu sendiri. Kamu tidak menghiraukan orang lain. Kamu memalukan ALRI. Saya juga ALRI.” Saya beri sopir itu peringatan keras: “Jadi ABRI jangan sembarangan.“
Di dalam mobil saya masih jengkel. “Dikira karena sudah ABRI, boleh semaunya. Malahan seharusnya sebaliknya. ABRI harus memberi contoh yang baik kepada rakyat. Terutama disiplin diperlukan dalam segala bidang.”
Sumber: buku Bang Ali Demi Jakarta 1966 – 1977