Rabu, 21 April 2021

Berbeda Jalan, Satu Tujuan

 

 

Buku ini berisi berbagai pengalaman dari sebelas penulis dalam mereka menjalankan toleransi beragama. Ada tujuh penulis muslim dan empat penulis Nasrani yang menceritakan bagaimana mereka hidup damai di Indonesia yang kaya raya akan suku dan budaya serta agama. Dengan kebhinekaan ini negara kita bagaikan pelangi yang indah berwarna-warni.

Setiap penulis buku ini memiliki pengalaman yang unik dan menarik. Ada penulis yang berasal dari keluarga yang masing-masing anggotanya memilih sendiri agama mereka.  Meski ada empat agama di dalam satu keluarga, mereka tetap bersatu pada acara leluhur mereka tanpa melanggar aturan agama masing-masing.

Ada penulis yang sejak SD sampai SMA belajar di sekolah Katolik. Ia ikut dalam kegiatan-kegiatan gereja, namun ia tetap seorang muslimah yang beribadah sesuai dengan syariat Islam.  Panitia acara di gereja menyediakan hidangan untuk berbuka puasa dan tempat salat yang dilengkapi mukena dan sajadah. Ada  pula penulis beragama Protestan yang mendapatkan bantuan dari teman-teman muslimnya dalam masa-masa sulit pandemi virus corona sepanjang tahun 2020 - 2021.

Penulis lainnya berkisah bahwa ia bertetangga dengan pendeta yang sangat dicintai masyarakat di sekitarnya yang semua beragama Islam. Ketika putra pendeta minta dikhitan dan diadakan acara selametan sunatan, sang pendeta mengundang para tetangganya untuk mengadakan pengajian di rumahnya. Ketika ia mengisolasi diri agar ia tak menularkan virus corona di lingkungannya, para tetangganya memberikan bantuan yang dibutuhkan setiap hari tanpa memandang perbedaan agama.

Ada beberapa perbedaan prinsip dari setiap agama, namun hal itu tak perlu diperdebatkan. Sebab banyak persamaan dari semua keyakinan, yaitu tentang kemanusiaan, keadilan, kejujuran, kedisplinan, kelestarian lingkungan hidup, dan sebagainya. Semua agama mengajarkan kebaikan yang sama: Tuhan mencintai semua ciptaan-Nya, manusia beriman juga mencintai semua ciptaan-Nya. Kita memiliki tujuan yang sama, hanya berbeda jalan.

 

 

Rabu, 17 Maret 2021

Kanal dan Situ untuk Mencegah Banjir di Jakarta

 


“Tuhan menciptakan bumi, tetapi orang Belanda menciptakan Netherland” Orang Belanda memang terkenal kehebatannya dalam teknik mengatasi masalah air. Sejak dulu mereka harus berjuang melawan air karena dua pertiga dari tanah di Belanda lebih rendah dari permukaan laut. Seluruh wilayah Belanda terkenal dengan kanal-kanalnya, pintu air, dan bendungan atau dam. Ketrampilan dan teknologi mengelola air ini pulalah yang mereka terapkan di Batavia setelah mereka membangun kota ini pada awal abad ke-17.

Selain sungai dan kanal, di Jakarta dan sekitarnya banyak dibuat situ atau danau buatan oleh pemerintah Hindia Belanda. Jumlahnya lebih dari 120, di antaranya di Pasar Minggu, Ciputat, Depok, Ciledug, Tangerang, dan Bekasi. Ada pula Situ Babakan, Situ Gintung, Situ Pamulang, Situ Cipondoh, Situ Pedongkelan, Situ Bojongsari, Situ Citayam, dan banyak lainnya. Di Depok terdapat 26 situ, dua atau tiga terdapat di kampus UI. Danau-danau buatan ini untuk menampung air pada musim hujan dan persediaan air pada musim kemarau. Jadi mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan di Jakarta yaitu mengurangi banjir dan mengendalikan air.

Pada 1950an situ-situ itu masih berfungsi dengan baik. Beberapa situ  kemudian berubah menjadi perumahan atau pertokoan. Ini antara lain yang menyebabkan Jakarta menjadi lebih sering banjir.  Situ di dalam kota yang terkenal adalah Situ Lembang di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat. Pada 1950-an Situ Lembang sering dipakai untuk tempat bersantai, bahkan banyak bocah yang mandi atau bermain perahu di sana. Situ Lembang masih terawat baik sampai sekarang.

Belanda mengalami banjir besar di beberapa kotanya pada 1953. Peristiwa itu menjadi berita dunia. Setelah itu Belanda benar-benar memperbaiki seluruh sarana pengelolaan airnya.

 Sumber: Jakarta 1950-an karya Firman Lubis