Minggu, 15 November 2015

Kegigihan Carl Brashear


Carl Brashear adalah anak petani miskin yang bercita-cita menjadi penyelam Angkatan Laut Amerika Serikat. Ia ditakdirkan Allah berkulit hitam. Ia berusia 17 tahun pada waktu bergabung di Angkatan Laut pada 1947. Pada waktu itu masih berlaku peraturan pemisahan orang kulit putih dan kulit berwarna. Ia mengalami banyak ketidakadilan yang keji karena warna kulitnya. Dengan tekad baja ia berhasil mengatasi semua rintangan berat itu dan diterima di Angkatan Laut AS. Pada 1960 satu kakinya patah menjadi beberapa bagian akibat kecelakaan ketika ia menyelamatkan beberapa pelaut ke tempat aman pada sebuah tugas di pantai Spanyol.
    Dokter mengatakan, kakinya dapat disatukan kembali tapi butuh waktu tiga tahun untuk pulih dan akan menjadi sepuluh sentimeter lebih pendek. “Saya tidak mau menunggu selama itu. Saya harus kembali menyelam,” ujar Brashear. Ia mendesak dokter untuk mengamputasi kakinya. Ia kemudian memakai kaki palsu, tongkat penyangga ditinggalkannya di rumah sakit.
    Brashear menciptakan program latihan untuk memulihkan kekuatannya. Ia kembali melamar di sekolah menyelam, walaupun usianya dua puluh tahun lebih tua daripada para siswa lainnya. Ternyata setiap hari ia menjadi pelari tercepat di sekolah itu, meski setiap pulang dari latihan ada gumpalan darah di bagian sambungan kaki palsu dengan kaki asli. Ia selalu merendam luka pada kakinya ke dalam air hangat yang dicampur garam agar dapat berlari lagi pada keesokan harinya. Para siswa baru menyadari bahwa Brashear memakai kaki palsu ketika usai berenang ia membawa kaki di bawah ketiaknya.
    Semangatnya tidak berhenti. Kehilangan kaki dan kekuasaan Angkatan Laut AS yang diskriminatif terhadap penyelam kulit hitam tidak membuatnya putus asa. Ia selalu mengikuti nasehat ayahnya agar tidak menyerah meski keadaan sangat sulit. Seusai menjalani rehabilitasi, pada 1968 ia berhasil menjadi penyelam berkulit hitam pertama di Angkatan Laut AS. Dua tahun kemudian ia mendapatkan lisensi sebagai Master Diver. Ia juga menjadi orang kulit hitam pertama yang mendapatkan lisensi itu.
    Setelah mengabdi 30 tahun di Angkatan Laut AS, ia pensiun. Ia meninggal pada usia 75 tahun pada 2006 dan dikenang sebagai orang terhormat dan memberi inspirasi bagi banyak orang. Oris, produsen jam tangan asal Swiss, menghormati Brashear dengan menciptakan arloji Oris Carl Brashear Limited Edition. Kisahnya dijadikan film Men of Honor yang diperankan oleh Robert de Niro dan Cuba Gooding Jr. pada tahun 2000.











Kamis, 12 November 2015

Ghost Writer



Pernah nonton film Ghost Writer yang disutradarai Roman Polanski? Dalam film itu seorang penulis diminta  penerbit untuk  menginap di rumah mewah di tengah hutan yang sunyi. Disediakan beberapa pembantu yang bertugas memasak, mencuci, dan membersihkan rumah bagi sang penulis agar ia dapat mencurahkan segala perhatian dan tenaganya pada kegiatan menulis buku. Untuk itu sang penulis dibayar sangat mahal.
Orang  Jepang menyebutnya ‘kanzume’, yaitu penulis diinapkan di hotel mewah oleh penerbit  dalam jangka waktu tertentu agar ia dapat tenang menulis karya yang direncanakannya. Kanzume mengibaratkan penulis seperti makanan kalengan (kan).  Persis seperti ayam yang dikurung dalam kandang supaya terus bertelur. Tentu saja hanya para penulis yang digemari masyarakat yang di-kanzume-kan oleh penerbit. 
Selain mereka, para penulis yang  pernah memperoleh hadiah sastra tahunan yang berwibawa juga benar-benar dikejar penerbit. Penulis dapat hidup bahkan ada yang menjadi kaya raya karena karya-karyanya. Mereka yang memutuskan menjadi penulis biasanya mencurahkan segala perhatian dan tenaganya untuk menulis. 

Penerbitan buku merupakan industri besar di Jepang. Masuk ke perpustakaan dan toko buku merupakan kebiasaan yang sudah ditanamkan sejak kecil di sana. Usai jam kantor banyak orang membeli buku sehingga suasana toko buku ramai. Toko-toko buku yang besar biasanya terdiri dari beberapa lantai dan selalu dipenuhi pengunjung. 

Harga buku di sana memang murah dibandingkan rata-rata penghasilan orang Jepang. Harga murah karena jumlah cetaknya tinggi. Jumlah cetak tinggi karena peminatnya banyak. Jumlah peminat banyak karena harganya rendah. 

Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Ketika Murasaki Shikibu asal Jepang menulis Kisah Genji, Empu Kanwa dari Jawa juga menciptakan Arjuna Wiwaha. Sastra Jepang terus berlanjut dengan baik sedangkan sastra Jawa Kuno terputus. 

Anak-anak Jepang sudah diajarkan gemar membaca sejak dini, sedangkan di negara kita belum seperti itu.  Jadi gimana dong? Yuk, kita menulis dan membaca buku. Menulis itu gampang, apalagi membaca. Hehehe.