Kamis, 11 Mei 2017

Museum Basoeki Abdullah



Sebulan setelah pelukis Basoeki Abdullah dibunuh oleh perampok di rumahnya, saya datang ke Thailand pada Desember 1993. Beberapa orang Thailand yang saya temui bertanya dengan rasa ingin tau yang besar. “Benarkah ia dibunuh? Kenapa tidak ada sekuriti? Apakah perampoknya sudah ditangkap?”  Basoeki Abdullah sangat terkenal di sana. Ia pernah menjadi pelukis untuk kalangan bangsawan istana di Thailand. Ada sekitar 70 karyanya disimpan di istana itu. Ia tinggal di Thailand sekitar 20 tahun. Istrinya, Nataya Nareerat, juga berasal dari negeri gajah putih itu.

Setelah beberapa tahun tinggal di Eropa dan Thailand ia kembali ke Indonesia pada 1974 dan menjadi pelukis untuk istana kepresidenan. Presiden Soekarno menyukai karyanya yang banyak menampilkan wanita cantik dan pemandangan indah. Ia selalu melukis wanita menjadi lebih cantik daripada aslinya. Ratu Sirikit dan Puteri Maha Cakri Siridorn dari Thailand, Imelda Marcos dari Filipina, Ratu Juliana dari Belanda, Benazir Bhutto dari Pakistan, Hartini Soekarno dan Dewi Soekarno, Tien Suharto, pernah menjadi model lukisannya. Ia menjadi pelukis beberapa raja dan ratu di dunia. Sekitar 200 karyanya disimpan di semua istana kepresidenan RI. 



Lukisan wanita karyanya ada yang berupa pesanan dan ada pula yang dibuat karena keinginannya sendiri. Ia kadang melukis wajah, setengah badan, atau tubuh telanjang perempuan. Untuk melukis Nyi Roro Kidul, Ratu pantai Selatan, ia melakukan meditasi sebelumnya. Selain kemolekan perempuan, ia juga melukis alam Indonesia yang permai. Ia ingin menampilkan Indonesia yang damai, indah, dan subur pada lukisan-lukisannya. 

Kekaguman dan penghormatannya terhadap para pahlawan nasional kita juga diwujudkan dengan melukis sosok mereka. Lukisan potret pahlawan karyanya banyak digunakan penerbit dan penulis buku sejarah Indonesia. Pada 1965 Pemerintah RI mengeluarkan seri perangko bergambar Presiden Soekarno dari karya lukis Basoeki pada 1942.

Basoeki Abdullah, cucu Dokter Wahidin Soedirohoesodo, lahir di Solo pada17 Januari 1915. Pada usia 10 tahun ia sudah bisa melukis wajah Mahatma Gandhi seperti aslinya. Atas bantuan pastor Koch SJ, ia memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademi Seni Rupa di Belanda pada 1933. Ia menyelesaikan studinya selama 2 tahun dan mendapat penghargaan khusus. Pada 6 September 1948 ketika penobatan Ratu Juliana di Belanda diadakan sayembara melukis. Basoeki menjadi pemenang dengan mengalahkan 87 pelukis asal Eropa.

Basoeki tidak pernah melukis di bawah sorot lampu. Ia melukis di bawah sinar matahari. Ia membaca dan membuat sketsa tengah malam hingga dini hari. Ia banyak mengadakan pameran tunggal di dalam dan luar negeri, antara lain di Thailand, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugis dan lain-lain. Karya-karyanya disimpan di 22 negara. 
 
Selain ahli melukis, ia juga pandai menari dengan tarian wayang wong sebagai Rahwana atau Hanoman. Ia juga menggemari musik-musik klasik seperti Franz Schubert, Bethoven, dan Paganini. Ia membaca berbagai buku tentang agama Islam, Budha, dan Kristen. Pelukis berpenampilan mewah ini meninggal pada 5 November 1993 pada usia 78 tahun. Tukang kebunnya mengakhiri hidupnya dengan keji untuk mencuri koleksi jam tangannya. Rumah pribadinya itu kemudian dihibahkan oleh ahli warisnya kepada pemerintah RI pada 1995 dan dijadikan museum pada 2001.
 
Museum di Jalan Keuangan Raya, Cilandak Barat, Jakarta itu diperluas dan bangunan yang lebih megah itu diresmikan Pemerintah pada akhir 2016.

Rabu, 30 November 2016

Membalas Kejahatan dengan Kebaikan



“Tahun 1964 – 1966, dua tahun empat bulan lamanya Ayah ditahan atas perintah Presiden Soekarno. Ayah dituduh melanggar Undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11 yaitu merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno. Tidak hanya itu, karangan-karangan Ayah pun dilarang terbit dan beredar,” tulis Irfan Hamka dalam buku ‘Ayah’. Presiden Soekarno memisahkan ulama itu dari anak, istri, dan cucu-cucunya. Meski demikian Buya Hamka memaafkan dan mengimami shalat jenazah Soekarno. Ia mengenang  Soekarno seperti ini: 

Bung Karno adalah orang besar! Itu sudah pasti! Sebagai seorang manusia besar, jelaslah siapa Bung Karno. Jelas dalam kebaikannya, jelas dalam keburukannya. Jelas dalam tindakannya yang benar, jelas dalam tindakannya yang salah. Jelas dalam jasa, jelas dalam dosa. 

Orang besar dimuliakan setinggi langit atau dihinakan ke kerak bumi. Apabila salah satu tonggak kemuliaan runtuh, maka runtuhlah kebesaran. Tetapi pada hari kematian, jelaslah kebesaran itu. Sejak masa muda remaja, pada usia 18, Bung Karno telah ditumbuhkan Tuhan untuk membangkitkan kesadaran bangsanya, melanjutkan apa yang telah dimulai gurunya, HOS Tjokroaminoto. Seluruh kasih sayangnya, sejak muda sampai  tua, telah dikorbankannya untuk membina bangsa Indonesia. Bung Karno telah menggembleng semangat kita dan membina kesatuan kita. 

Bung Karno mendirikan  PNI pada 1927, ditangkap pada Desember 1929 lalu dimasukkan ke penjara Banceuy dan Sukamiskin di Bandung. Pada usia 29 tahun Bung Karno telah berhadapan dengan hakim kolonial karena dituduh hendak memberontak. Bung Karno lalu ditahan empat tahun tetapi dipotong menjadi dua tahun. Karena masih dipandang berbahaya, Bung Karno lalu diasingkan ke Ende, Flores. Menderita Bung Karno di sana selama empat tahun.

Masih dipandang berbahaya, Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu, akhirnya ke Padang kemudian ke Bangka Belitung. Menderita Bung Karno di sana empat tahun. Artinya, lebih dari sepuluh tahun Bung Karno dipisahkan dari bangsa yang amat dicintainya. Penjajah menyangka, dengan memisahkan itu hilanglah Bung Karno dari hati orang! Tidak! Makin Bung Karno dijauhkan, Bung Karno tambah dekat di hati. Bung Karno tidak henti-hentinya menggembleng bangsanya. 

Dua puluh dua tahun lamanya Bung Karno memegang kendali negara ini. Banyak karang dan batu. Banyak topan dan badai. Mulanya selamat dilaluinya. Kita selalu menyaksikan kekuatannya, di samping kelemahannya sebagai insan. Meski saya bukan politisi, saya sahabat lama Bung Karno. Saya mengagumi Bung Karno karena kepemimpinannya. Bung Karno mengagumi saya karena pendirian agama saya. Karena perbedaan faham, saya terpaksa menjauh. 


Pada Minggu pagi 21 Juni 1970 Oei Tjing Hien, sahabat saya dan Bung Karno,  mengabarkan bahwa Bung Karno meninggal.  Saya menitikkan air mata dan lupa bahwa hampir sepuluh tahun saya menjadi orang yang paling dibencinya. Mengapa hilang dari ingatan saya bahwa saya pernah ditahannya, dipisahkan dari istri, anak-anak, dan cucu-cucu dengan tuduhan palsu, yakni tuduhan hendak membunuh Bung Karno!
Saya terkenang masa-masa lalu, semasa persahabatan belum dikeruhi politik. Saya terkenang pada April 1944 ketika saya hendak kembali ke Medan, meninggalkan Ayah di Jakarta. Terharu melihat beliau tertatih-tatih mengantar saya ke stasiun Tanah Abang bersama Bung Karno. 

“Ini ayah kita, Bung. Bung pengganti saya,” pesan saya kepada Bung Karno.

“Jangan khawatir, berangkatlah,” jawabnya. 

Setelah mendapat kabar Bung Karno meninggal, saya spontan berkata: “Saudara Oei, saya ingin ikut menyembahyangkan. Ingatkah ketika kita bertemu bertiga di Bengkulu pada 1941? Kita berfoto bertiga untuk kenang-kenangan. Dan bertahun setelah itu, sampai politiknya berubah, hubungan kita tetap mesra dengan Bung Karno.” 

Tiba-tiba datang surat resmi dari Sekretariat Negara yang menetapkan Prof. Dr. Buya HAMKA sebagai imam shalat jenazah Bung Karno. Suatu keajaiban Allah!  Memang Bung Karno pernah berpesan kepada kepada keluarganya: “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku.” Buya memenuhi amanat itu tanpa berpikir panjang bahwa ia pernah dipenjara Presiden Soekarno.

Setelah shalat jenazah, Buya berbisik di telinga almarhum: “Aku telah doakan supaya Allah mengampuni dosamu. Aku percaya pada janji Allah, walaupun timbunan dosa sampai ke langit, asal memohon ampun dengan tulus, akan diampuniNya. Juga dosamu kepadaku telah kumaafkan.”