Minggu, 23 Februari 2025

Martin Aleida

Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya tidak bertemu Bang Martin Aleida. Usianya kini 81 tahun. Dulu saya sering bertemu dengannya di rumah mertua saya di Pasar Minggu, tidak jauh dari rumah Bang Martin. Pada waktu itu saya tinggal bersama mertua. Bang Martin sudah dianggap anak oleh mertua saya. Setiap sore Bang Martin berolah raga jogging dan sering mampir untuk mengobrol dengan ibu mertua saya. Namun setahun yang lalu Bang Martin ditabrak motor yang membuat kaki kanannya harus diamputasi. Sepasang kaki yang dulu pernah membawanya ke berbagai kota di Ceko, Jerman, Belanda, Belgia, dan lain-lain untuk mencari jejak para eksil yang tak bisa pulang ke Indonesia, negeri mereka, karena kekejian zaman Orba. Ia mewawancarai para eksil untuk menceritakan bagaimana awal mereka menjadi eksil dan bagaimana kehidupan mereka di negeri orang. Semua hasil wawancara itu ditulisnya menjadi buku Tanah Air yang Hilang. 

Kini kehilangan salah satu kakinya sungguh membuatnya sangat tidak nyaman. Tidak mudah berjalan dengan kaki palsu. Memasang kaki kanannya ke paha juga tidak mudah. “Yang mengherankan, saya sering merasa nyeri pada ujung kaki yang hilang. Padahal kakinya sudah tidak ada,” katanya ketika saya dan suami datang ke rumahnya di Pasar Minggu, Jakarta, pada 22 Februari 2025.

Rumah dengan luas lahan 350 meter persegi itu ditempatinya lebih dari empat puluh tahun. Pekarangannya ditanami pohon duren, kopi, belimbing, bunga kemuning, dan lain-lain. Halaman penuh tanaman. “Saya ingin jual rumah ini. Saya ingin pindah ke Semarang, dekat dengan anak saya. Di rumah ini saya hanya berdua dengan istri yang mulai demensia. Ia pernah lupa mematikan kompor,” katanya.

Banyak cerita Bang Martin tentang kenangannya pada waktu ia bekerja sebagai jurnalis majalah Tempo, dipenjara pada zaman Orba, kedua anaknya yang sudah meninggal, dan cerita-cerita lain yang menyenangkan untuk didengarkan. Semoga kami masih bisa bertemu pada kesempatan lain.


Senin, 20 Januari 2025

Imlek

 

Sin Chun Kiong Hie. Itu yang diucapkan Tionghoa di kalangan mereka sambil mengepalkan kedua tangan ke muka pada waktu bertemu. Salam itu banyak terdengar di antara mereka pada hari Imlek. Salam yang mengandung doa semoga panjang umur dan banyak rezeki. Masyarakat Tionghoa sangat gembira bila hari-hari menjelang Imlek diguyur hujan. Bagi mereka hujan berarti hokie atau keberuntungan. Kalender Imlek diperhitungkan menurut peredaran bulan. Kata Imlek berasal dari kata Im yang berarti bulan dan lek yang berarti penanggalan. Perayaan tahun baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa.

Imlek yang juga disebut sincia biasanya disambut penuh kegembiraan setiap tahun. Sayangnya Glodok Plaza terbakar pada 15 Januari 2025. Sebelum terbakar pusat perbelanjaan itu dihiasi lampion-lampion merah menjelang Imlek. Di sana juga banyak dijual angpau, parcel, kartu ucapan selamat, hiasan-hiasan dinding, baju encim, pangsi, makanan untuk keperluan liangsim atau sembahyang, semua berwarna merah. Warna itu lambang keberuntungan bagi etnis Tionghoa.

Seperti Lebaran tanpa ketupat, Imlek terasa kurang mantap tanpa kue keranjang. Setiap malam sebelum Imlek seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama. Acara berkumpul itu membuat hubungan keluarga menjadi erat, lengket, seperti kue keranjang. Keesokan paginya, pada hari Imlek, seluruh keluarga melakukan liamking (sembahyang di hadapan abu leluhur). Setelah itu memberi hormat kepada orang tua atau keluarga yang lebih tua. Anak-anak gembira karena setiap memberi hormat dengan bersoja mereka mendapat angpau, amplop merah berisi uang. Anak-anak mengenakan baju pangsi dan para pria dewasa mengenakan chang ie, gaya busana resmi Tionghoa seperti yang kita lihat di film-film Cina.

Klenteng banyak didatangi masyarakat Tionghoa pada hari Imlek. Di kawasan Jakarta Kota terdapat tidak kurang dari  20 klenteng. Klenteng Xuan Can Gong atau Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan yang paling ramai didatangi. Kemeriahan Imlek berlangsung lama. Penutupannya pada hari ke-15 disebut capgomeh.

Dulu pada malam bulan purnama ke-15 itu para siauce (nona) berdandan cantik, tebar pesona kepada enghiong (pemuda) pujaannya yang datang berkunjung. Agar disukai calon mertuanya enghiong akan datang menjelang Imlek membawa sepasang bandeng, ikan paling mahal pada waktu itu. 

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa. Imlek menjadi momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali setahun dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Di Indonesia perayaan Imlek dilarang dilakukan di depan umum sejak 1968 dengan Instruksi Presiden Suharto pada 6 Desember 1967. Rezim Orde Baru melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi masyarakat etnis Tionghoa merayakan hari besar keagamaan mereka secara diam-diam di lingkungan keluarga saja.

Setelah Orde Baru tumbang masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka. Mereka kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada 2000, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Tetapi pada waktu itu hari libur Imlek hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Kemudian pada 2003 Presiden Megawati mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002. 

Sumber: buku Robin Hood Betawi karya Alwi Sahab