Sin Chun Kiong Hie. Itu yang diucapkan Tionghoa
di kalangan mereka sambil mengepalkan kedua tangan ke muka pada waktu bertemu.
Salam itu banyak terdengar di antara mereka pada hari Imlek. Salam yang
mengandung doa semoga panjang umur dan banyak rezeki. Masyarakat Tionghoa sangat
gembira bila hari-hari menjelang Imlek diguyur hujan. Bagi mereka hujan
berarti hokie atau keberuntungan. Kalender Imlek
diperhitungkan menurut peredaran bulan. Kata Imlek berasal dari kata Im yang
berarti bulan dan lek yang berarti penanggalan. Perayaan tahun
baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa.
Imlek yang juga disebut sincia biasanya disambut penuh
kegembiraan setiap tahun. Sayangnya Glodok Plaza terbakar pada 15 Januari 2025.
Sebelum terbakar pusat perbelanjaan itu dihiasi lampion-lampion merah menjelang
Imlek. Di sana juga banyak dijual angpau, parcel, kartu ucapan
selamat, hiasan-hiasan dinding, baju encim, pangsi, makanan untuk
keperluan liangsim atau sembahyang, semua berwarna merah.
Warna itu lambang keberuntungan bagi etnis Tionghoa.
Klenteng banyak didatangi masyarakat Tionghoa pada hari Imlek. Di kawasan Jakarta Kota terdapat tidak kurang dari 20 klenteng. Klenteng Xuan Can Gong atau Vihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan yang paling ramai didatangi. Kemeriahan Imlek berlangsung lama. Penutupannya pada hari ke-15 disebut capgomeh.
Dulu pada malam bulan purnama ke-15 itu para siauce (nona) berdandan cantik, tebar pesona kepada enghiong (pemuda) pujaannya yang datang berkunjung. Agar disukai calon mertuanya enghiong akan datang menjelang Imlek membawa sepasang bandeng, ikan paling mahal pada waktu itu.Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa. Imlek menjadi momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali setahun dan silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Di Indonesia perayaan Imlek dilarang dilakukan di depan umum sejak 1968 dengan Instruksi Presiden Suharto pada 6 Desember 1967. Rezim Orde Baru melarang segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi masyarakat etnis Tionghoa merayakan hari besar keagamaan mereka secara diam-diam di lingkungan keluarga saja.
Setelah Orde Baru tumbang masyarakat Tionghoa mendapatkan kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan, agama, budaya, dan bahasa mereka. Mereka kembali mendapatkan kebebasan merayakan Imlek pada 2000, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Tetapi pada waktu itu hari libur Imlek hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Kemudian pada 2003 Presiden Megawati mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002.
Sumber: buku Robin Hood Betawi karya Alwi Sahab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar